Bu Tejo yang Cover Both Side

208
Foto: YouTube Ravacana Film

Membaca film Tilik dengan kacamata masyarakat urban atau perspektif gender belaka sangat tidak fair. Sebagai anak desa asal Pekalongan, film itu mengingatkan akan kehidupan masa kecilku sebelum merantau.

“Tilik” memotret interaksi masyarakat pedesaan/rural yang memiliki kerekatan sosial kuat. Dalam istilah Ferdinand Tonnies; tipe masyarakat gemeinshacft. Aku kira susah menemukan kumpulan warga perkotaan yang mau-maunya mbelani menyewa truk untuk membesuk  tetangga yang sakit di RS. Terlebih jaraknya sangat jauh.

Perkiraanku, Bu Tejo cs adalah warga Bantul bagian selatan atau Gunung Kidul Daerah Istimewa Yogyakarta. Mereka sempat menempuh jalan setapak berkelok-kelok dan naik-turun, sebelum tertangkap polisi di jalan lingkar selatan atau lingkar timur. Soal mereka di bak truk nge-rumpi alias ghibah total, aku kira itu khas warga gemeinshacft.

Tak perlu pakai kacamata hitam putih: masak kebaikan (besuk orang sakit/ عيادة المريض) bercampur dengan kebatilan (ghibah yang memang diharamkan). Apalagi ndalil, “Janganlah kalian campur-adukkan antara kebenaran dan kebatilan, dan kalian sembunyikan yang benar padahal kamu mengetahuinya” (QS. Al-Baqarah: 42). Toh nge-rumpi itu sesuatu yang muncul dan mengalir begitu saja, tak diniatkan.

Bagiku justru di situlah letak cover both side (tak perlu kita debat apakah penggunaan istilah khas jurnalistik ini tepat atau ngawur) film pendek ini. Beda dengan banyak sinetron atau FTV religi di TV swasta yang “me-malaikat-kan” lakon utamanya.

Manusia itu suatu kala bisa rajin ibadah, tapi pada kesempatan lain dia berbuat maksiat sedikit. Itu manusiawi. Tak butuh pakai kalimat nyinyir saudara sebelah, “shalat terus maksiat jalan (STMJ).” Aku bersuuzan, jangan-jangan yang mengkritik habis “Tilik” lupa kalau dirinya hobi gibah di jagat maya.

Pun bagian dari cover both side “Tilik” adalah bias gendernya. Menggambarkan perempuan sebagai kumpulan emak-emak rumpi yang hobi menguliti keburukan orang, saat bersamaan sebagai makhluk penggoda. Kemudian menempatkan pria sebagai sosok genit yang hobi menebar jala ke gadis-gadis cantik, meski istri dan anaknya menunggu di rumah. Apakah semua perempuan dan pria berwatak begitu? Ya nggak lah. Nggak terima aku.

Aku lebih suka membaca “Tilik” dengan kacamata studi post-post itu. Mau poststruktural atau postmodernisme atau post yang lain, asal bukan Pos Indonesia. Tilik adalah semacam narasi perlawanan atau setidaknya tandingan terhadap pola hidup era digital yang serba medsos maupun model interaksi sosial yang menganggap sepele kopi darat.

Di era murah digital seperti sekarang, orang bisa dekat secara pikiran, tapi jauh secara fisik. Dulu orang biasa nge-rumpi sambil petan (cari kutu atau uban) rambut berjamaah. Kini, kita bahkan bisa nge-rumpi di sela-sela membaca kitab suci asal sambil pegang gawai.

Dulu orang sakit dibesuk langsung, kini cukup dengan karangan bunga. “Tilik” memotret kelompok masyarakat yang menolak -atau memang belum terjamah- pola hidup ala kekinian itu. Tak ayal Bu Tejo cs cukup riang gembira menikmati perjalanan dalam bak truk terbuka.

Bagiku, rumpi tak selamanya buruk. Kadang ia berfungsi sebagai alat kontrol sosial, terutama dalam masyarakat rural. Sebagaimana media massa dalam masyarakat urban yang kerap mengadili seseorang sebelum penegak hukum memberi vonis, tradisi rumpi atau rasan-rasan juga bisa membuat orang berpikir dua kali jika hendak berperilaku buruk di kampungnya.

Apakah dengan demikian hukum gibah berubah? Tidak! Tetap jauhilah nge-rumpi. Namun tak elok kencang-kencang menghajar “Tilik” yang melegitimasi gibah, sembari lupa bahwa saat itu kita juga sedang ikutan ghibah.

Penulis: M. Syafiq Syerozi (Alumni LPM Arena Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta)

BERIKAN KOMENTAR

POPULER SEPEKAN

Tahun lalu 2015 adalah tahun pertama saya mulai rutin olah raga berlari. Sebeneranya memilih olah raga lari ini bukan keinginan sendiri,...

Membaca film Tilik dengan kacamata masyarakat urban atau perspektif gender belaka sangat tidak fair. Sebagai anak desa asal Pekalongan, film...

Sang Penari adalah film yang disutradarai oleh Ifa Isfansyah, dirilis pada 10 November 2011. Film berdurasi 111 menit ini terinspirasi...

Kapitalis modern telah bergerilya untuk menjajah “Tubuh Perempuan”. Menjadikan perempuan sebagai makhluk konsumeris taat atas produk kapitalisme. Perempuan dibuat semakin...

Setiap tanggal 1 Juni, ingatan kita terlintas visual seekor burung garuda bernama Garuda Pancasila, mengenakan perisai di dada yang berisi...