Love is like a batik created from many emotional colors, it is a fabric whose pattern and brightness may vary – Diane Ackerman-

Tanggal 2 Oktober dinisbikan sebagai hari Batik. Semua ramai mengenakan batik sebagai out fit of the day (OOTD) di hari spesial ini –termasuk saya- ups. Banyak yang memaknai memakai batik hanya saat momen perayaan harinya batik, padahal kan bisa dipakai kapan saja. Tetapi ada pula yang berpendapat bahwa memakai batik hari ini memberi momen spesial. Apapun itu batik memang istimewa, saking istimewa kain batik selalu terselip di lemari pakaian kita. Adakah di antara kalian yang tidak punya kain batik?

Kemudian nampak dalam postingan seorang selebgram bertajuk: -OOTD-, wearing batik by (nama desainer perancang model batik), pouch by (nama online shop yang menjual pouch batik)…..dst. Masih banyak titel endorse baik yang non berbayar atau berbayar. Pun dengan batik yang tak luput jadi bagian promosi sekligus informasi eksistensi si pemakai.

Melalui satu postingan itu, batik kemudian menjelma menjadi spesial, akun yang di-mention mendadak jadi jujukan para followers yang juga ingin tampil trendi dengan balutan batik yang dipamerkan oleh selebgram. Media sosial sukses menyampaikan batik ke publik dengan cara yang sederhana. Ya, kadang termasuk saya juga (pengakuan).

Sejak ditetapkan Unesco menjadi salah satu ‘The World Heritage’ pada 2 Oktober 2009 lalu batik menjadi semakin diminati. Penggunaannya pun tak hanya didominasi oleh orangtua, tapi juga anak muda. See, sekarang batik selain jadi seragam kebanggan instansi juga sekolah. Peraturan memakai batik di hari tertentu bagi murid-murid sekolah dan pegawai, karnaval-karnaval batik yang gemerlap tidak lain adalah bentuk simbolik bahwa dengan hal itu semua tradisi akan tetap terjaga dan terpelihara.

Batik seringkali menjadi dress code acara-acara yang melibatkan anak muda, perempuan muda sosialita di mal tak canggung mengenakan outfit batik melengkapi tas H*rmes mereka, bahkan brand-brand internasional mensinergikan produk mereka dengan keanggunan batik.

Tak hanya bicara pemakainya, tetapi kain batik yang dipadu padankan dengan aneka bahan lain agar terlihat stuning, mulai katin, sifon, satin bahkan sutera. Belum lagi aksen pita dan cutting unik menambah sempurna batik yang dikenakan. Batik tak sekadar jadi kain tunggal tetapi jadi dominasi dari kombinasi kain yang dipakai. Apapun bahan yang dikombinasikan, aksen batik tak bisa begitu saja disingkirkan. Batik tetap istimewa.

Saya tak hendak membincang sejarah batik dulu dan kekinian, tapi bagaimana batik bisa eksis jadi simbol perlawanan brand-brand besar di kancah internasional. Harus diakui desain batik yang menarik itu tak lepas dari peran desainer yang sangat penting hingga membuat anak muda lebih mencintai batik, apalagi fashion batik juga sudah memiliki frekuensi yang tergolong sering. Memang secara desain tidak terlalu berkembang, tapi batik sekarang bisa dikatakan sudah menjadi tuan rumah di negeri sendiri.

Benar bahwa fashion (mode) dapat menjadi alat politik penguasa untuk membentuk segregasi sosial pada masyarakat, ketika dulu masyarakat menulis batik untuk melawan kekuasan-hegemoni keraton- dengan motif btik yang lebih luwes. Pun sekarang, ketika pasar Indonesia dikuasai produk brand luar negeri, batik pun gerak cepat melawan.

Ilustrasi batik. Foto pixabay.com
Ilustrasi batik. Foto pixabay.com

Banyak desainer fashion dunia sekarang sudah mengadaptasi batik Indonesia dalam koleksi busana mereka. Mereka tidak mengambil teknik membatiknya, yang sudah diakui UNESCO sebagai Warisan Kemanusiaan untuk Budaya Lisan dan Nonbendawi dari Indonesia sejak 2 Oktober 2009, melainkan motifnya. Beberapa perancang atau label yang menggunakan motif ini adalah Dries Van Noten, Nicole Miller, Burberry Prorsum dan Diane von Furstenberg.

Keunikan Batik Nusantara mulai digandrungi masyarakat Amerika Serikat. Di sana, batik mulai dikenal dan disukai kalangan muda. Hal ini terbukti dengan masuknya batik dalam ajang Los Angeles Fashion Week (LAFW) 2017 yang baru saja dihelat. Selain dalam ajang LAFW, batik juga sudah diperkenalkan melalui program Explore Indonesia 2016 di Santa Monica Promenade dan Fowler Museum University of California Los Angeles pada akhir bulan lalu.

Belum lagi gelaran Fashion Gallery New York Fashion Week (FGNYFW) 2016 melalui lini etniknya Balijava dengan koleksi Batik Kudus. Sebanyak 15 looks rancangan terbaru koleksi Fall Winter tampil modern, edgy dan elegan di hadapan para pecinta fashion. FGNYFW merupakan bagian dari rangkaian acara New York Fashion Week yang dikenal sebagai salah satu kiblat fashion dunia. Otomatis, batik turut menjadi salah satu kiblat fashionista.

Belum lagi desianer muda Indonesia yang membawa karya batik mereka ke ajang-ajang pameran mode dunia. Handy Hartono menampilkan koleksinya yang mengangkat judul ‘The Story of Blue’ dengan menggunakan material batik Museum Quartier Vienna Fashion Week (MQVFW) 2016. Jangan lupakan juga nama-nama seperti Iwan Tirta, Ghea Panggabean, Charmanita, Chossy Latu, Poppy Dharsono dan Edwin Hutabarat.

Tak ketinggalan pula jajaran desainer muslim yanga mengusung batik sebagai bintang utama, baik dipakai di acara formal, casual maupun sarimbit. Sebut saja Carmanita dan Barlie Asmara yang memadupadankan batik dalam satu outfit. Ditambah lagi icon desainer muda nan modis yang digemari para remaja ‘berani’ mengemas batik begitu ceria dan grande seperti Dian Pelangi dan Khanaan Shamlan.

Kini model baju batik perempuan modern ala runway dari desainer-desainer ternama tanah air maupun tingkat dunia tak habis menjadi inspirasi. Batik tak melulu identik dengan outfit yang lekat dengan image lawas atau oldies -yang keberadaannya selalu terbuka karena dalam satu jenis batik bisa terdapat tiga pengaruh motif asal – tetapi telah bermetaforfosa melawan brand-brand besar di jajaran panggung mode internasional. Batik dengan aneka ragam motif tak berbilang jumlahnya dan masing-masing motif memiliki makna filosofi telah menjadi bintang yang selalu dilirik.

Namun demikian industri batik yang saat ini cukup menggembirakan itu tetap harus berhati-hati, karena banyaknya desainer batik berpotensi membuat batik tulis “menenggelamkan” batik klasik, karena itu pemerintah harus berperan menjaga batik klasik dan batik tulis agar sama-sama berkembang. Batik yang khas saat ini hanya ada di daerah perbatikan kuno, seperti Banyuwangi, Sidoarjo, Tulungagung, Trenggalek, Tuban dan Madura.

Jadi bukan seberapa bangga kita mengoleksi atau mengenakan batik, tetapi usaha apa yang sudah kita lakukan untuk melestarikannya. Selamat Hari Batik!

BERIKAN KOMENTAR