Belajar Daring yang Tidak Bikin ‘Darting’

490
Ilustrasi belajar daring (Foto: Pixabay)

Seorang ibu membentak anaknya yang sedang belajar secara daring di rumah. Si ibu begitu marah ketika anaknya tidak dapat menyelesaikan pekerjaan sekolahnya. Si ibu memberikan arahan kepada anaknya, si anak tetap tidak dapat memahami dan mengerjakan soal. Si ibu kemudian berteriak kepada si anak. Si ibu semakin marah lalu memukul si anak dan membanting HP yang digunakan si anak belajar. Teman si anak yang ikut belajar bersama kemudian satu persatu meninggalkan si anak yang sedang dimarahi ibunya.

Peristiwa di atas adalah isi dari video singkat yang sudah tersebar di media-media sosial. Video tersebut secara tidak langsung mengatakan betapa belajar dalam jaringan (daring) dari rumah sungguh membuat orang tua dan anak tidak nyaman. Dengan sengala keterbatasannya belajar daring di rumah membuat orang tua menjadi darah tinggi (darting).

Selama belajar dari di rumah, peserta didik  dan orang tua mengalami kebosanan, tertekan, bahkan sampai stres. Relasi orang tua dan peserta didik pun kemudian menjadi rusak. Relasi orang tua dan peserta didik memburuk, emosi negatif muncul,  pertama-tama bukan karenaadanya Covid 19 tetapi oleh pembelajaran daring atau Pembelajarna Jarak Jauh (PPJ) yang dilakukan secara daring.

PJJ yang dilakukan secara daring telah menyebabkan, pertama, peserta didik juga orang tua terisolasi berkelanjutnan. Kurang lebih delapan bulan peserta didik dibatasi ruang geraknya termasuk ketika belajar. Sebelumnya, mereka dapat dengan bebas berinteraksi dan melakukan berbagai aktivitas bersama teman-temannya.

Kedua, peserta didik mengalami divisit intimasi. Isolasi berkelanjutan dengan interaksi yang terbatas semakin menjenuhkan peserta didik dengan kualitas keintiman relasi dengan orang tua yang rendah. Sebelumnya, peserta didik beriteraksi dengan teman-teman, guru, dan orang tua dengan tingkat keintiman yang memberi kenyamaman dan lingkungan yang positif. Mereka selalu mendapatkan respon dari teman-teman, guru, dan orang tua dari setiap pesan mereka. Di masa PJJ keintiman relasi tersebut berkurang bahkan hilang. Dengan kata lain, peserta didik mengalami devisit komunikasi positif dan efektif.

 Ketiga, peserta didik gagap lingkungan belajar baru. Belajar daring merupakan pengalaman belajar baru bagi peserta didik. Pengalaman belajar baru ini tiba-tiba dan tidak dipersiapkan secara baik sebelumnya. Peserta didik juga orang tua kaget berhadapan dengan pengalaman belajar daring. Walaupun peserta didik adalah generasi melek teknologi, mereka tetap tanpak kaget dan tidak siap.

Keadaan peserta didik gagap terhadap lingkungan belajar baru kemudian diperburuk dengang cara pandang peserta didik terhadap sekolah (baca= belajar). Mereka punya pandangan bahwa sekolah adalah kegiatan belajar di satu ruangan dan pada waktu tertentu, serta didampingi oleh seorang guru. Itulah definisi belajar menurut mereka. Oleh karena itu, belajar daring di rumah tidak dengan mudah mereka terima. PJJ telah mengubah konsep sekolah, dari belajar berbatus waktu dan tepat menjadi tidak berbatas waktu dan tempa. Ruang dan waktu belajar menjadi lebih lentur. Kehadiran guru tidak langi menjadi utama.

Ketiga keadaan tersebut kemudian membawa peserta didik tidak berada pada zona belajar (learning zone), yaitu zona belajar yang membuat peserta didik aman dan nyaman dengan motivasi tinggi. Demikian juga orang tua, tidak berada pada zona pengasuhan sebagai orang tua. Orang tua lebih banyak berada pada zona kecemasan dalam mengasuh. Orang tua darah tinggi adalah orang tua yang berada pada zona ini.

Satu hal yang menjadi isu penting dalam belajar daring yang membuat darting adalah divisit intimiasi. Devisit intimasi perlu segera dipenuhi oleh orang tua dan guru. Intimasi dalam pembelajaran daring di masa pandemi ini semesetinya menjadi kesadaran bersama orang tua dan guru. Intimasi dalam pembelajaran daring dengan kondisi yang terbatas pastijuga  terbatas dan unik. Oleh karena itu, dalam keterbatasan dan keunikan tersebut, intimasi harus dapat dibuat lebih sederhana tetapi berkualitas.

Ilustrasi belajar daring (Foto: Pixabay)

Merasakan hal di atas terdapat empat hal yang dapat dilakukan orang tua dan guru untuk menciptakan intimasi yang berkualitas.

1. Ciptakan komunikasi efektif dengan peserta didik

Komunikasi efektif ditandai dengan terjadinya komunikasi dengan persepsi yang sama antara orang tua dan guru dengan peserta didik. Orang tua dan guru berusaha memahami setiap pesan, baik verbal maupun non verbal yang dikirimkan peserta didik. Dalam komunikasi efektif, orang tua dan guru harus dapat bersikap empati kepada peserta didik. Di masa pembelajaran daring orang tua dan guru cukup menyediakan waktu 15 menit berkualitas untuk melakukan komunikasi efektif. Ada empat tahap dalam berkomunikasi efektif: mendengarkan pasif, penerimaan, ajakan untuk memulai, dan mendengarkan aktif.

2. Ciptakan zona belajar bagi peserta didik

Visi kurikulum darurat yang dikeluarkan oleh pemerintah sesungguhnya mengharapkan orang tua dan guru menciptakan zona belajar bagi peserta didik agar peserta didik terjaga kesehatan psikologisnya tampa meninggalkan kegiatan belajar. Zona belajar merupakan situasi belajar peserta didik yang efektif dan penuh motivasi. Zona belajar tercipta ketika terjadi keseimbangan antara target belajar dengan kapasitas belajar peserta didik termasuk ketersediaan sarana dan prasarana belajar. Jika target belajar lebih tinggi dari kapasitas belajar maka yang terjadi adalah zona kecemasan. Sebaliknya, jika target belajar lebih rendah dari kapasitas belajar maka yang terjadi adalah zona belajar rendah dengan motivasi rendah alias anggap enteng.

3. Melakukan feedback

Salah satu penyebab rendahnya intimasi orang tua dan peserta didik selama belajar daring adalah absennya feedback dalam proses belajar. Feedback menjadi salah satu cara membangun pemahaman peserta didik dalam proses belajar. Feedback bukan evaluasi yang sarat dengan penilaian. Selama ini orang tua dan guru lebih banyak melakukan evaluasi dan penilaian terhadap kinerja peserta didik tetapi sedikit memberi feedback. Hal ini membuat peserta didik tidak mendapat peneguhan akan pengetahuannya.

Feedback dapat dilakukan dalam proses belajar peserta didik, atau segera setelah proses belajar selesai. Jika pun tidak memungkinkan, orang tua dan guru dapat melakukan feedback satu hari atau lebih setelah proses belajar. Cara feedback yang paling sederhana adalah menanyakan proses belajar peserta didik: bagian mana yang dipahami dan tidak dipahami, kemudian memberikan penjelasan cara penyelesaian tugas yang belum selesai.

4. Menyederhanakan capaian belajar

Salah satu penyebab peserta didik dan orang tua lelah, tertekan, bahkan stres menjalain pembelajaran daring adalah capaian belajar yang masih sama dengan keadaan normal. Oleh karena itu, orang tua perlu membuat capaian belajar yang lebih sederhana. Hal ini sejalan dengan kurikulum darurat yang dikeluarkan oleh pemerintah.

Belajar daring selama pandemi ini mendorong setiap stakeholder pendidikan membangun kesadaran bersama tentang prioritas pendidikan. Kesehatan fisik menjadi prioritas utama, disusul kesehatan psikologis, lalu kemudian target-target pembelajaran. Kesadaran bersama ini akan mendukung setiap orang tua membangun intimasi dalam proses belajar daring anak. Intimasi yang terciptak akan membawa peserta didik ke  zona belajar dan orang tua terbebas dari darting.

 

BERIKAN KOMENTAR

POPULER SEPEKAN

Perempuan selalu punya cara untuk melawan dan memperjuangkan haknya. Begitulah kira-kira kata yang ada di kepala saya saat menonton film...

"Setiap orang menjadi guru, setiap rumah menjadi sekolah” Ki Hajar Dewantara

Sang Penari adalah film yang disutradarai oleh Ifa Isfansyah, dirilis pada 10 November 2011. Film berdurasi 111 menit ini terinspirasi...

  “Di awal munculnya bisnis transportasi online, para penyedia jasa taksi dan ojek konvensional menolak dengan heroik hingga perlahan sadar bahwa...

Meski hanya dua pekan berkerja di sana, kantor satu media di Ngawi itu selalu lekat dalam ingatan saya. Fasilitas kantornya...