Berpuasa Rasa Pancasila

498

Gema Ramadan kian terasa di bumi persada Nusantara. Pemakaman ramai dikunjungi para sanak saudara dengan doa dan bersih-bersih. Mall dan pasar mulai ramai kenaikan harga dan aneka diskon. Layar televisi pun sudah berhias tema keagamaan.

Pesta rakyat pun tumpah ruah jelang Ramadan hadir. Ada megengan, apeman, nyadran, dugderan, dandangan, padusan dan pesta lainnya. Semua menyatu tanpa sekat agama, sama bergembira akan ada Ramadan.
Itulah warna jelang Ramadan di Indonesia. Semangat puasa sudah berasa berpancasila. Ramadan akan dapat menjadi inspirasi penanaman ideologi Pancasila yang kian rapuh (dirapuhkan).

Berpuasa Ramadan nampak jelas dengan suasana berpancasila dengan penuh bahagia. Yang beragama Islam akan menikmati keislamannya dengan menjalankan kewajiban penuh khidmat. Yang meyakini agama lainnya pun memberi hormat, saat saudara Muslim berpuasa.

Itulah indahnya Ramadan dengan amaliyah Pancasila. Bahwa berpuasa tidak mengusik keyakinan lintas agama, artinya bahwa sila ketuhanan universal itu terlaksana dengan baik. Puasa juga menanamkan gagasan kemanusiaan yang adil dan beradab, sebab disana umat Islam dilatih menjadi manusia sejati yang peduli.

Itulah taman surga manusia dengan penuh rasa adil, sebab kelaparan dan kelelahan itu bisa terjadi. Dan puasa menjadi adab berharga bagi yang mulia untuk memuliakan manusia.

Semangat berpuasa akan menyatukan semua umat Islam dan saudaranya lintas iman. Maka puasa dengan kemurnian ibadah akan mudah menjaga persatuan bangsa. Bukan emosi yang diurisi, tapi kata hati yang suci menjadi inisiasi.

Berpuasa juga menunjukkan kesetiakawanan dalam membentuk kerakyatan yang dapat selalu dimusyawarahkan. Disana juga ada perwakilan dalam membentuk kesepakatan-kesepakatan sosial. Itu pun lahir bukan dengan egoisme, melainkan dengan kebersamaan.

Dimensi keadilan sosial dalam berpuasa jelas-jelas nampak tanpa hijab. Semua orang sadar dalam beribadah ritual dan sosial. Siapapun merasa mudah terpanggil untuk beramal shadaqah: THR mau dikeluarkan, diskon digelar, shadaqah tanpa dipaksa dan zakat dengan penuh ikhlas. Itulah puasa yang bermenukan Pancasila. Semoga menjadi inspirasi untuk menahan emosi demokrasi.

BERIKAN KOMENTAR

POPULER SEPEKAN

Membincang Raden Ajeng Kartini (selanjutnya disebut Kartini) selalu menarik dan tidak akan habis dibahas dari sisi apapun. Itulah seorang Kartini...

Sembilan perempuan memukul lesung, bertalu-talu menggemakan sebuah pertanda. Pak Presiden, tidakkah kau dengar tanda bencana bertalu di depan istanamu? Sembilan...

Perempuan selalu punya cara untuk melawan dan memperjuangkan haknya. Begitulah kira-kira kata yang ada di kepala saya saat menonton film...

Setiap tanggal 1 Juni, ingatan kita terlintas visual seekor burung garuda bernama Garuda Pancasila, mengenakan perisai di dada yang berisi...

Tahun lalu 2015 adalah tahun pertama saya mulai rutin olah raga berlari. Sebeneranya memilih olah raga lari ini bukan keinginan sendiri,...