Kemarin, 20 Maret 2016, kita memperingati hari Mendongeng Sedunia atau World Storyteeling Day. Peringatan ini bermula di Swedia pada 1992 yang gaungnya lebih besar ketika pendongeng di Perth, Australia Barat mengadakan peringatan Celebration of Story pada 1997. Begitu juga yang diadakan di Meksiko dan negara lainnya di Amerika Selatan (majalahkartini.co.id).

Masih dalam suasana hari istimewa yang ini saya mengajak Anda sejenak membayangkan sedang bersama keluarga di rumah. Berkumpul bersama suami, istri, anak, atau bahkan bapak atau ibu, termasuk mertua. Anda duduk bersantai menikmati suasana sambil mendengarkan lantunan sebuah lagu. Indah, ramai dan damai rasanya hidup ini.

Bagi penghobi kretek, suasana itu akan dilengkapi dengan menikmati kretek, temuan Djamhari dari Kudus, dengan hisapan yang penuh makna. Sampai-sampai guyonannya, di ujung asapnya seperti tergambar ada potongan surga.

Saya memahami, bagi keluarga yang hidup di kota besar dan sebagian besar waktunya dihabiskan di perjalanan berangkat dan pulang ke kantor, acara berkumpul bersama keluarga itu tidak gampang. Karena itulah, jika memang tidak memungkinkan ya cukup membayangkan saja. Namun, sekiranya Anda bisa wujudkan acara kumpul dengan keluarga, cobalah beri suasana baru dan mungkin saja terasa asing, yaitu mendongeng. Apa ada manfaatnya? Saya jamin ada.

Di antara kita barangkali ada yang menyepelekan dongeng. Mendongeng dianggap buang-buang waktu untuk mendengarkan cerita yang tidak  ada dalam kenyataan. Platon pun pernah mengkritik Homeros, begawan mendongeng era Yunani Kuno. Tapi perlu diketahui, yang dikritik Platon (nama julukan yang artinya ‘lebar’ atau ‘kelebaran’), adalah materi dongengnya. Bukan mendongengnya.

Menurut saya, dalam proses mendongeng setidaknya terjalin komunikasi dua arah antara kedua belah pihak. Antara pendongeng dengan yang mendengarkan dongeng. Akan terjadi kehangatan antara mereka. Sebab, mendongeng butuh suasana yang menyenangkan.

Sulit rasanya saya membayangkan jika pada saat kita akan mendongeng, kita masih membawa suasana hati yang jengkel. Itu pasti akan merusak suasana dan memengaruhi psikologis audiens. Rilekslah sejenak untuk lupakan kesusahan. Jika dongeng itu disampaikan sebelum tidur, yang akan merasakan kehangatan pengaruh dari dongeng tidak hanya yang dituturi, tapi juga si penutur. Kehangatan itu menciptakan tidur dalam suasana damai.

Ketika suasana damai itu berhasil diciptakan, proses komunikasi bisa mendapatkan manfaatnya, yaitu pertukaran simbol-simbol antara komunikator dan komunikan. Nah, tinggal message-nya yang dipilih mau seperti apa. Pada umumnya, dongeng tentang anak selalu mempunyai message tentang moralitas.

Jika situasi ini bisa diciptakan, keinginan agar proses pendidikan juga melibatkan orang tua di rumah bisa mulai tercapai. Kita harus benar-benar sadar bahwa anggapan pendidikan sebagai proses yang hanya terjadi antara anak dengan guru di sekolah itu keliru besar. Kita juga wajib terlibat langsung dalam pendidikan anak-anak.

Seorang siswa Omah Dongeng Marwah sendang mendongeng
Seorang siswa Omah Dongeng Marwah sendang mendongeng

Sayangnya, selama ini yang kadang terjadi di rumah bukan proses pendidikan, tapi semata-mata belajar (transfer of knowledge). Misalnya saat anak membawa PR-nya dari sekolah. Sesekali kita akan mendampingi saat dia mengerjakan PR matematika, IPA, IPS, dan sejenisnya. Proses seperti ini bisa juga menimbulkan kehangatan. Tetapi harus waspada. Jika orang tua tidak bisa menguasai diri, yang tercipta bukan suasana hangat, tapi panas. Misalnya anak kita tidak hapal perkalian, atau tidak bisa menjawab soal-soal walaupun sudah dijelaskan berkali-kali. Di suasana seperti itu terkadang kita merasa anak kita lebih bodoh dari orang tuanya saat kecil dulu. Padahal belum tentu.

Yang lebih parah jika di pendampingan belajar itu sampai muncul kata-kata kasar dan umpatan dari orang tua. Kalau begini yang terjadi, tidak saja PR-nya tidak selesai, tapi hubungan anak-orang tua menjadi tegang, anak tidak tambah pintar secara pengetahuan, tidak mendapatkan pesan moral yang baik, serta anak tidur dalam suasana yang kurang menyenangkan.

Nah, dalam proses mendongeng, rasanya tidak pernah terjadi antara bapak dan anak marah-marahan karena materi dongengnya. Sebab, dongeng tidak menuntut anak hapal, tapi paham maksudnya.

Masih belum tertarik mendongeng juga? Apa boleh buat, saya belum punya argumentasi lain. Namun, saya semakin yakin bahwa mendongeng itu penting. Setidaknya setelah menonton beberapa film yang di dalamnya ada adegan mendongeng. Seperti film Max Haveelar (1976—dongeng di belakang rumah), Creation (2009—dongeng sebelum tidur), dan Despicable Me (2010—juga sebelum tidur). Dengan memasukkan adegan mendongeng di sebuah film yang durasinya relatif singkat cukup menunjukkan pada kita bahwa adegan itu perlu.

Mendongeng sebagai Metode Belajar

Jika kita merujuk kamus, pengertian dongeng lebih pada kisah fiksi. Secara lengkap saya kutipkan dari salah satu situs khusus tentang kamus, yaitu http://kbbi.web.id/.  Dalam situs itu diterangkan bahwa , dongeng/do·ngeng/ /dongéng/ n 1 cerita yang tidak benar-benar terjadi (terutama tentang kejadian zaman dulu yang aneh-aneh): anak-anak gemar mendengarkan — Seribu Satu Malam; 2 ki perkataan (berita dan sebagainya) yang bukan-bukan atau tidak benar: uraian yang panjang itu dianggapnya hanya – belaka.

Namun, kami melakukan hal yang agak berbeda di tempat kami belajar mendongeng, Omah Dongeng Marwah. Pengertian itu dongeng kami perluas sendiri agar dongeng tidak semata-mata kisah fiksi. Mengapa perlu diperluas? Sebab kami merasa hal itu sudah tuntutan zaman. Setidaknya menurut kami.

Sepertinya perjalanan hidup ini, semua berubah kecuali perubahan itu sendiri. Mari kita tengok pengertian pers. Dulu, awalnya pers hanya dipahami sebagai media cetak saja. Undang-undang juga menyebut demikian. Namun seiring perkembangan teknologi, perbedaan cara pandang, dan perubahan tatatan sosial, pengertian pers juga sudah mengikuti perkembangan zaman.

Begitulah, yang kami sebut dongeng di Omah Dongeng Marwah. Dongeng itu ada yang fiksi murni, semi fiksi, atau faktual tapi dengan pengembangan seperlunya.

Suasana belajar mendongeng di Omah Dongeng Marwah
Suasana belajar mendongeng di Omah Dongeng Marwah

Karena itulah kami di Omah Dongeng Marwah berkreasi menciptakan dongeng sendiri. Yang berbasis fakta sejarah misalnya ada kisah Djamhari si penemu kretek; berikutnya dongeng tentang dokter Ramelan, dokter humanis di Kudus pada era perjuangan; kisah Perang Muria; kisah Darmosoegito, wartawan kritis era penjajahan. Bahkan yang terkini, kami membuat kisah dongeng Rio Haryanto, pebalap nasional yang sedang berlomba di event Formula 1.

Semua itu kami sengaja sajikan kepada anak-anak, agar mereka bisa mengambil pesan moral yang bersumber dari orang-orang di sekitarnya. Kisah itu tidak mengawang-awang seperti dongeng kancil yang mencuri timun pak tani yang kita semua tidak tahu nama petaninya siapa.

Di samping itu, tujuan kami juga agar anak mengenal sejarah lokal. Sebab, selama ini mereka sangat awam dengan sejarah lokal.

Kami juga selalu mencari keterkaitan antara dongeng dengan pelajaran sekolah. Harapannya, di samping anak-anak bisa mengenal sejarah dan mengambil hikmahnya, ada bahan yang bisa dikerjakan anak-anak dalam menunjang pelajaran sekolahnya. Bisa terkait dengan matematika, ilmu pengetahuan sosial, ilmu pengetahuan alam, bahasa, bahkan pelajaran agama.  Contohnya dongeng Bingo, sebuah kisah tentang burung bangau yang membantu petani mengairi sawah. Kisah ini menceritakan tentang proses terjadinya hujan (dari penguapan sampai turun hujan dan peresapan).

Bagi kami, dongeng itu adalah sebuah tradisi, karena itu kami belum memilih menggelar event-event  dengan berbagai skala untuk umum. Baik lomba atau sekadar pertunjukan. Misalnya di mal atau tempat-tempat umum lainnya. Sebagaimana kita saksikan, acara seperti itu seringkali tampak besar tapi sayangnya tidak ada tindaklanjutnya alias vakum kalau tidak pas disebut mati.

Kami lebih memilih mendongeng dari rumah ke rumah siswa. Selain untuk saling mengakrabkan murid dengan murid, murid dengan orang tua, dan pendamping dengan orang tua murid, silaturahim ini bertujuan untuk mengajak orang tua merasakan mendongeng. Memang sejauh ini belum ada orang tua yang berani mendongeng, namun setidaknya kunjungan itu sudah menciptakan situasi yang pas agar orang tua mau mendongeng.

Selamat Hari Mendongeng Sedunia. Membayangkan berkumpul keluarga sudah selesai. Mari kita wujudkan secara nyata. Dan jangan lupa, cobalah mendongeng.

 

Tentang penulis:

Edy Supratno
Edy Supratno

Edy Supratno, Alumni LPM Sautul Quran, Institut Ilmu Quran (IIQ) Jawa Tengah di Wonosobo. Pendiri dan pengelola Omah Dongeng Marwah, Kudus

 

BERIKAN KOMENTAR