FAA PPMI :Jokowi Harus Tuntaskan Eksekusi Mati

48

www.suarakarya.id – Presiden Joko Widodo atau Jokowi harus segera selesaikan pelaksanaan eksekusi hukuman mati.Setelah itu, memperbaiki eksesnya.

Hal itu diungkapkan peneliti Populi Center Nico Harjanto dalam sebuah diskusi di Menteng, Jakarta, Sabtu (7/3).

Menurut Nico, pelaksanaan eksekusi mati tersebut sebenarnya tanggung jawab pemerintahan sebelumnya. Namun, karena saat itu pemerintah menganut prinsip zero enemy, sehingga prosesnya ditunda-tunda.

Nico menilai pemerintahan saat itu, sangat takut dimusuhi negara-negara tetangga sehingga permohonan grasi para terpidana mati tidak segera diproses.Jadi ada kesan hal yang ditakuti pemerintahan sebelum ini, dibebankan kepada pemerintah sekarang.

“Policy (kebijakan) Pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) itu kan zero enemy. Menenggelamkan kapal kecil saja tidak berani.Jadi urusan seperti itu seperti sengaja dibebankan kepada penerusnya,” ujarnya.

Menurut Nico, pelaksanaan eksekusi terpidana mati itu bukan sekadar proses penegakan hukum, tapi bisa menjadi momentum bagi Jokowi untuk mendongkrak citranya di mata publik yang kini jauh lebih rendah dari saat kampanye pemilihan presiden 2014.

Khususnya terhadap dua terpidana mati mantan anggota penyelundup heroin berjuluk “Bali Nine,” asal Australia, Andrew Chan dan Myuran Syukumaran.

Menurut Nico, saat ini Jokowi seperti sedang berupaya menunjukkan ketegasannya dari sisi politik luar negerinya. Sebab selama ini mantan Gubernur DKI Jakarta itu dikritik karena dianggap tidak tegas.Meskipun popularitasnya tinggi saat kampanye pemilihan presiden lalu, tetapi cap tegas selalu disematkan kepada rivalnya saat itu, Prabowo Subianto.

Dalam penilaian anggota Komisi III DPR RI dari Fraksi PKS, Aboebakar Al-Habsy, terus ditundanya eksekusi terhadap para terpidana mati kasus narkoba, termasuk duo ‘Bali Nine’, menunjukkan lemahnya kekuatan diplomasi Indonesia. Hal itu juga merupakan indikasi Indonesia dalam tekanan Australia yang dalam beberapa waktu terakhir berlangsung secara masif.

Sementara itu, Forum Alumni Aktivis Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia (FAA PPMI) meragukan efektifitas eksekusi hukuman mati untuk menekan peredaran narkoba di Indonesia. Ketua Presidium FAA PPMI Agung S justru menganjurkan agar Indonesia bekerja sama dengan Australia untuk memberantas peredaran narkoba.

Saat ini, pelaksanaan eksekusi terpidana mati para bandar narkoba setidaknya ditunda tiga kali dari rencana semula dilaksanakan Februari 2015.Seiring menguatnya protes Pemerintah Australia pelaksanaan eksekusi mati itu terkesan ditunda-tunda. (den/gan/nef)

BERIKAN KOMENTAR

POPULER SEPEKAN

Tahun lalu 2015 adalah tahun pertama saya mulai rutin olah raga berlari. Sebeneranya memilih olah raga lari ini bukan keinginan sendiri,...

Membaca film Tilik dengan kacamata masyarakat urban atau perspektif gender belaka sangat tidak fair. Sebagai anak desa asal Pekalongan, film...

Kami terbangun dan memulai melakukan persiapan packing peralatan, sarapan, senam pagi sejenak, dan mencari kebutuhan logistik tambahan seperti seperti kaos...

Perempuan selalu punya cara untuk melawan dan memperjuangkan haknya. Begitulah kira-kira kata yang ada di kepala saya saat menonton film...

Setiap tanggal 1 Juni, ingatan kita terlintas visual seekor burung garuda bernama Garuda Pancasila, mengenakan perisai di dada yang berisi...