Fashion ala Kamala Harris, Lebih dari Sekadar Stylish

99
Kamala Harris

“Don’t be into trends. Don’t make fashion own you, but you decide what you are, what you want to express by the way you dress and the way you live.” Gianni Versace

Kemenangan Joe Biden di Pemilu AS sekaligus menjadi capaian bersejarah sang mitra, Kamala Harris. Kemenangan tersebut telah mengantarnya sebagai perempuan pertama yang menjadi Wakil Presien Amerika. Awesome!

Tidak berhenti di situ, kemenangan tersebut juga membuat Kamala sebagai keturunan Afrika dan Asia pertama yang menjadi Wakil Presiden Amerika. Mungkin profil dan pencapaian Kamala sudah banyak dibahas, jadi saya lebih tertarik mengulas fashion statement ala Kamala. Yess, perempuan yang menjadi politisi kerap memiliki gaya busana yang merepresentasikan karakter dan pesan khusus.

Misalnya Jacqueline Kennedy yang menggunakan fashion sebagai diplomasi didokumentasikan dengan baik, begitu pula dengan dukungan Michelle Obama terhadap desainer Amerika. Selain itu, media tampak terpesona secara positif oleh syal Deborah Birx, masker kain ala Nancy Pelosi, bros Madeleine Albright, dan mutiara Barbara Bush. Bagaimana dengan di Indonesia? Ada Retno Marsudi yang selalu elegan dengan monochrome style dan kalung mutiara, Sri Mulyani dengan ragam blouse batik, Yenny Wahid berhiaskan kerudung brokat dan lace, dan Puan Maharani menuliskan insial nama dia di masker kain warna merah andalannya.

Well, meskipun pilihan fashion Kamala bukan prioritas utama, pilihan alas kakinya menjadi penting lantaran ia adalah salah satu orang pertama yang mengenakan sepatu kets di jalur kampanye. Saat mantan jaksa dan Senator AS itu mulai berkampanye sebagai calon presiden dari Partai Demokrat pada 2019, ia kerap memilih sepatu kets.

Converse Chuck Taylor All-Stars menjadi sepatu kets yang sudah lama dia sukai dan miliki dalam berbagai warna dan gaya. Seolah-olah sepatu-sepatu tersebut memberinya pegas lebih cepat dalam langkahnya. Saat kampanye dan acara publik, perempuan kelahiran 20 Oktober 1964 ini kerap mengenakan koleksi sneakers Converse yang mengesankan, mulai dari All Stars klasik hingga versi platform.

Dalam bahasa fashion, Kamala tahu bagaimana caranya bergaya santai namun tetap berkelas. Dia memadupadankan blazer, celana panjang skinny berwarna gelap serta sneakers putih. Namun menariknya, di momen perkenalan Agustus lalu ia sempat menukar sneakers andalannya dengan pump shoes warna nude, untuk mengimbangi tampilan Biden di panggung.

Bagaimana seorang wakil presiden berkomunikasi secara nonverbal dari ekspresi wajah mereka, seberapa sering mereka memakai masker, hingga cara mereka berpakaian adalah komponen penting dari kampanye mereka. Hal ini tidak berarti bahwa warna blazer adalah bagian dari kebijakan posisi kandidat. Tapi, seperti dikatakan Vanessa Friedman yang dilansir dari The New York Times, “Substansi tidak sepenuhnya terlepas dari gaya.” Gaya, jika digunakan secara efektif, sering kali dapat memperkuat pesan, substansi, dan karakter.

Dalam bukunya Power Dressing: First Ladies, Women Politicians & Fashion, Jurnalis Robb Young menggambarkan mode sebagai baliho busana yang menyebarkan pesan yang jelas ke berbagai audiens, dari yang akrab hingga global.

Seperti halnya sepatu Harris yang telah menjadi topik berita, sebagian besar pakaian kampanye dia terdiri dari setelan celana dan blazer yang disesuaikan dan dipoles. Seringkali dilengkapi dengan mutiara atau layered necklace, namun tidak menarik perhatian lebih dari sang politisi itu sendiri.

Setelah debat wakil presiden, sikapnya terhadap masalah-masalah seperti kesehatan dan perubahan iklim yang menjadi berita utama, membuat orang dapat berargumen bahwa pilihan jas hitam, blouse dan sneakers efektif dalam kesederhanaannya.

Sabtu malam, saat pidato perdana Kamala di Delware ia kembali mengenakan blazer andalannya. Bukan biru navy, hitam, atau abu-abu tartan seperti yang kerap ia kenakan. Melainkan off white, sebagai simbol netral dan natural berhadapan dengan publik AS.

Fashion sangat penting sebagai perwujudan budaya, identitas dan komunikasi. Orang-orang memiliki kesempatan untuk menjadikan apa yang mereka kenakan sebagai bagian dari karakter, kepribadian serta pesan mereka. Di sini, Kamala Harris telah berhasil memanfaatkan bahasa busana untuk komunikasi politik dengan sangat baik.

“While i may be the first woman in this office, i will not be the last, because every little girl watching tonight sees that this is a country of possibilities,” Kamala Harris.

 

Courtesy foto: Instagram/Kamala Harris & CNN Indonesia.

BERIKAN KOMENTAR

POPULER SEPEKAN

Perempuan selalu punya cara untuk melawan dan memperjuangkan haknya. Begitulah kira-kira kata yang ada di kepala saya saat menonton film...

"Setiap orang menjadi guru, setiap rumah menjadi sekolah”Ki Hajar Dewantara

Kematian datang menjemput Tommy Apriando di ruang RS PKU Muhammadiyah, Jogja, pada 2 Februari 2020 lalu. Tidak ada yang menyangka...

“Jika kau tak punya kenangan, meski di dalam hati pun kau takkan bersamanya. Tapi, walau jika yang kau miliki hanya...

“Don’t be into trends. Don’t make fashion own you, but you decide what you are, what you want to express...