If you think somebody cares about you and believes your life is worth saving, how can you give up? (Geraldine Ferraro)

 

Tak sedikit perempuan menjadi objek penderita dari stigma dan aturan yang dibuat manusia.  Perempuan sering kali menjadi korban dari keangkuhan pria, baik pasangannya maupun pria lain yang tak dia kenal sebelumnya.

Mulai dari perempuan matang, paruh baya, hingga anak-anak pun jadi sasaran. Tanpa memandang usia dan kematangan perempuan, tanpa melihat status sosial, dan tanpa melihat bagaimana mental perempuan itu menghadapi segala persoalan.

Belakangan, sering ditemui kasus anak-anak yang sedang menjalankan pendidikan Sembilan tahun terpaksa menghadapi kasus pelecehan seksual.  Seperti yang sedang dihadapi oleh perempuan-perempuan bawah umur di Bengkulu, Gianyar, Manggarai, dan kota-kota lainnya.   Perempuan-perempuan malang itu bagai cermin bagaimana pria memperlakukan perempuan.

Korban yang mengalami pelecehan seksual akan menanggung beban mental seumur hidupnya, akan dia bawa hingga nanti berkeluarga.  Sebut saja X, perempuan asal Gianyar, Bali mengalami pelecehan seksual dari kekasihnya yang beristri. Entah atas nama cinta atau apa yang dia rasakan, X memohon agar kekasihnya tidak ditahan.  Belum lagi siswi di Manggarai, sebut dia Y, yang mengalami pelecehan seksual dari guru sekolahnya.

Belum tentas hukum keadilan mengungkap kebenaran, belum lama seorang gadis belia asal Bengkulu, sebut dia YY, pun mengalami hal yang sama. Tragisnya, pelecehan seksual dilakukan bersama-sama oleh belasan pria mabuk dan tak bertanggungjawab, hingga menyebabkan gadis itu kehilangan nyawa.

Terkadang kita melihat, mendengar, dan mencoba berempati apa yang dialami oleh korban. Siswi yang seharusnya menuntaskan wajib belajar sembilan tahun, terpaksa putus sekolah karena malu. Dari semua kasus pelecehan seksual yang menimpa anak dibawah umur, membuat masa depan mereka hancur lebur, sekaligus meninggalkan trauma mendalam.

Tangan menjaga lilin, foto Milada Vigerova
Tangan menjaga lilin, foto Milada Vigerova

Ada banyak kasus serupa yang sebenarnya terjadi dan tidak tercatat dalam laporan yang berwajib. Mengapa? Jawabnya tentu karena malu. Orangtua yang melaporkannya pun berfikir beribu kali jika hendak berangkat ke kantor polisi.

Pertama, saking malunya hingga tak tau harus memulai dari mana menceritakan kronologis. Kedua, tentu akan diminta menyertakan bukti dan saksi. Sayangnya, tidak semua orang paham bahwa visum itu penting dan harus segera dilakukan untuk digunakan sebagai barang bukti yang diterima oleh negara.

Jangankan mau pergi visum, mungkin caranya saja mereka tidak tahu bagaimana. Apalagi merinding dengan harga yang dikenakan dalam sekali proses visum. Ujung-ujungnya “Uang dari mana?, ya sudah biarkan saja”. Dan perempuan beserta keluarga pun menyerah pada keadaan.

Sebelum berangkat ke kantor polisi, keluarga juga berfikir lagi soal bagaimana nanti korban akan mendapat cibiran tetangga. Di sebagian besar masyarakat Indonesia, terkadang, apa yang dikatakan tetangga lebih sakti dibandingkan kesaktian lainnya.

Mengapa? Karena kita bisa lebih manut dan seolah harus menjaga agar mereka tidak bergunjing tentang keluarga korban. Ujung-ujungnya “Ya sudah, tidak perlu banyak orang yang tahu, apalagi lapor polisi”. Lagi-lagi perempuan dan keluarganya pun menyerah pada keadaan.

Perasaan takut mungkin dirasakan juga oleh perempuan dewasa. Karena usianya yang justru sudah matang dan memiliki karir lebih baik, pelecehan seksual sering dia pendam sendiri. Bukan sekedar malu, tapi juga menjaga agar popularitasnya agar tetap terjaga di kalangan masyarakat sekitar. Namun, tidak sedikit diantara mereka membuka suara dan mengadukan keadilan.

Pengetahuan saja tidak cukup untuk bisa membuka pengakuan diri atas pelecehan yang dilakukan pria terhadap perempuan. Keberanian juga menjadi faktor penentu. Sebab, persoalan yang dihadapi bukan hanya masalah sakitnya dilecehkan, pun efek dari pelecehan itu akan berdampak panjang dan luas nantinya.

Kini, saatnya bersatu dan mengumpulkan kekuatan untuk memerangi pelecehan seksual. Mendorong pemerintah adil dalam hukum terkait seluruh kasus pelecehan yang terjadi. Mengedukasi keluarga tentang bagaimana yang harus dilakukan untuk menghadapi persoalan ini. Dari semua itu, tak kalah penting yakni merangkul dan mendampingi para korban. Menerima dia seutuhnya sebagai makluk Tuhan yang tidak perlu dibedakan serta memiliki hak dan kewajiban yang sama.

Aku, dia dan mereka adalah sama perempuan. 

 

Tentang penulis

Nesa, LPM Khlorofil Fakultas Pertanian Universitas Udayana

BERIKAN KOMENTAR