Kemenangan Mira Lesmana, Kepercayaan pada Film Indonesia

375

 

“Akhirnya kembali memegang piala ini” (Mira Lesmana sesaat setelah menerima Piala Citra)

Festival Film Indonesia 2016 rampung dihelat Minggu malam, 6 November 2016, di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat. Ajang paling bergengsi bagi para pegiat  dan pekerja industri film di Indonesia ini menyuguhkan suatu konsep acara yang sangat megah dan mewah, bahkan lebih memukau daripada tahun-tahun sebelumnya. Bagaimana tidak, piala utama pada ajang ini, yaitu Piala Citra untuk Film Terbaik dikabarkan berlapis emas 18 K, sesuatu yang belum pernah ada sebelumnya.

Tata panggung megah, pembagian penghargaan yang dinanti, dan tentu saja performa para pengisi acara yang prima, menjadi perhatian pada puncak acara yang dikomandoi oleh aktor muda kawakan Reza Rahadian selaku Ketua Bidang Acara dan seniman kenamaan Jay Subiakto. Dari semua pengisi acara, perhatian saya tentu saja kepada Bunga Citra Lestari, duta dari sebuah merk sabun mandi para bintang film ini benar-benar menyihir para hadirin dan pemirsa yang menyaksikannya malam tadi. Flawless dan memukau.

Komedian Pandji Pragiwaksono dan Ernest Prakasa, yang didapuk sebagai tuan rumah acara tadi malam pun mampu menghibur hadirin dan pemirsa dengan nyaman. Rundown acara dibawakan secara smooth. Dan lalu-lintas para pembaca nominasi dan pemenang penghargaan di atas panggung pun diatur sedemikian rupa, agar berjalan secara sempurna. Memang, untuk sebuah acara besar seperti ini, sebuah kerja sama tim dari bidang Acara benar-benar harus diutamakan. Reza dan Jay berhasil melakukannya.

Namun di balik semua kesempurnaan ajang FFI ini, ada satu hal unik yang sangat mencuri perhatian saya, sebagai seorang penggemar film. Apakah itu? Adalah Mira Lesmana dan Riri Riza yang akhirnya mau datang ke acara ini. Cukup memakan waktu lama bagi saya untuk menyaksikan kembali kedatangan mereka pada ajang ini, setelah insiden “pengembalian piala” yang terjadi sekitar sepuluh tahun lalu. Tepat satu dekade.

Lalu hal apa yang membuat dynamic duo ini mau kembali menghadiri acara ini tadi malam? Bukan yang pertama kali memang dari sejak mereka berdua kembali muncul pada ajang ini. Namun kehadiran mereka malam tadi membawa aura yang sama sekali berbeda. Sebuah pertanyaan yang tidak perlu saya cari jawabannya, karena sudah jelas, salah satu film mereka masuk menjadi nominasi film terbaik. Athirah (2016), film yang Mira produksi yang disutradarai oleh Riri, berhasil masuk menjadi satu dari lima film yang menjadi nominasi Film Terbaik. Dan juga menjadi nominasi di sembilan kategori lainnya, bersaing head-to-head dengan Rudy Habibie (2016).

Cukup menarik untuk membicarakan Mira Lesmana sebenarnya. Membicarakan tentang semua prestasinya di bidang perfilman, pun tentang semua effort yang harus dia keluarkan demi terciptanya sebuah karya. Dan berbicara mengenai Mira, tidak akan pernah bisa untuk melepaskan sosok pria kurus berkacamata itu, Riri Riza, partner Mira di hampir semua judul film yang dia produksi. Mira adalah produser yang jeli, dan Riri adalah sutradara yang cerdas. Perpaduan dua orang ini menghasilkan karya film yang mampu membuat semua penontonnya terpaku di bangku bioskop.

Sebut saja Laskar Pelangi (2008), yang pernah disebut sebagai Film Indonesia Terlaris Sepanjang Masa karena mampu menyedot 4,6 juta penonton, walau rekor ini pada akhirnya digeser oleh Warkop DKI: Reborn Part 1 (2016) dengan raihan 6 juta penonton. Pun dengan sekuelnya, Sang Pemimpi (2009) yang masih saja sukses menguasai layar perak bioskop berjejaring di Indonesia kala itu dengan 2 juta penonton. Tahun ini, kolaborasi mereka berdua berhasil menyedot penonton dengan jumlah yang tak kalah fantastis, 3,6 juta penonton untuk sebuah judul film drama romantis yang sudah ditunggu selama 14 tahun, Ada Apa Dengan Cinta? 2 (2016). Nun jauh sebelum itu, kolaborasi keduanya saat muda telah mampu membangunkan dunia perfilman Indonesia -yang tengah tidur panjang kala itu- dengan raihan kesuksesan Petualangan Sherina (2000) dan Ada Apa Dengan Cinta? (2002). Sebuah kolaborasi yang benar-benar mematikan, dan susah untuk dicari tandingannya. Mereka berdua adalah sebuah halaman penting dalam peta perfilman Indonesia, yang tidak hanya bertaji di perfilman nasional, namun juga berbisa di ajang perfilman internasional. Dan kini, mereka berdua kembali di FFI. Ada apa?

mira-lesmana

 

 

Kontroversi FFI 2006 vs Mira Lesmana

Tepat sepuluh tahun yang lalu, ajang Festival Film Indonesia 2006 membuka sebuah sejarah baru. Pada ajang itu, film Ekskul (2006) dan sutradaranya, Nayato Fio Nuala, meraih Piala Citra untuk kategori paling bergengsi. Film Terbaik dan Sutradara Terbaik. Namun sebuah organisasi yang berisi para seniman film dan budayawan yang tergabung dalam bendera MFI (Masyarakat Film Indonesia) menyatakan bahwa Ekskul (2006) tidak layak disebut sebagai film terbaik, karena tersandung dengan pelanggaran hak cipta dan mengandung banyak unsur plagiasi. MFI mendesak para punggawa FFI saat itu untuk membatalkan kemenangan Ekskul (2006) dan Nayato.

Tercatat, terdapat 24 pegiat industri perfilman yang memprotes hasil FFI 2006 tersebut. Di antaranya ada nama Mira Lesmana dan Riri Riza yang paling vokal dalam menolak kemenangan film Ekskul (2006) dan Nayato. Mira dan Riri –yang pada tahun 2005 meraih Piala Citra untuk film Gie (2005) sebagai Film Terbaik yang merupakan karya Riri- memrotes dengan cara mengembalikan Piala Citra yang pernah mereka raih tersebut, diikuti oleh 22 nama besar lainnya.

Perjuangan mereka membuahkan hasil. Setelah melalui proses panjang, akhirnya pada pertengahan 2007, Panitia FFI saat itu menyatakan bahwa Ekskul (2006) dan Nayato Fio Nuala dibatalkan atas kemenangannya pada FFI 2006. Legal ditandatangani oleh Ketua Panitia FFI saat itu, Deddy Mizwar. Sehingga, ajang FFI 2006 menjadi FFI pertama yang membatalkan sebuah kemenangan pada jawaranya. Dan hal ini menjadi sebuah titik noda dalam perjalanan sejarah perfilman Indonesia sepanjang masa.

FFI 2006 memang pada akhirnya tidak mempunyai juara untuk kategori Film Terbaik. Namun itu bukan satu-satunya FFI yang tidak mempunyai pemenang untuk kategori tersebut. Karena pada ajang FFI 1984, FFI 1997, dan –nama FFI pada saat itu- Pekan Film Indonesia 1967, ketiganya pun tidak memiliki pemenang pada Film Terbaik. Untuk memutuskan sebuah film layak menyandang predikat Film Terbaik, dewan juri FFI mempunyai sebuah kriteria khusus yaitu menjadi yang terbaik juga pada unsur penyutradaraan, penulisan skenario (baik skenario asli maupun adaptasi), penataan sinematografi, dan editing. Dan pada ketiga ajang itu, baik pada 1984, 1977, dan 1967, tidak ada satu pun film yang memenuhi persyaratan tersebut. Jadi, walau FFI 2006 sama-sama tidak mempunyai pemenang untuk kategori Film Terbaik, itu karena mempunyai alasan yang sama sekali berbeda.

Kembali kita kepada Mira Lesmana. Sejak protes yang dilayangkan olehnya bersama rekan-rekannya sepuluh tahun lalu, Mira tidak pernah mau hadir pada ajang FFI. Pun demikian dengan Riri. Mereka sudah kembali ‘berbaikan’ dengan FFI sekitar tahun 2014, saat mereka mulai merasakan adanya keseriusan dari pihak FFI untuk berubah menjadi lebih baik dari kacamata mereka. Saat itu, Mira mengantarkan film Sokola Rimba (2013) –yang lagi-lagi adalah karya Riri- untuk diikutkan pada ajang FFI 2014.

Namun atmosfer tadi malam menjadi sama sekali berbeda. Mira dan Riri tampil memukau dan mencuri perhatian siapa pun, bahkan sejak mereka muncul di red carpet. Saya sudah mampu merasakan aura kemenangan mereka. Dan tebakan saya ternyata benar, saudara-saudara. Athirah (2016) menang. Memboyong piala untuk Film Terbaik, Penyutradaraan Terbaik, Aktris Utama Terbaik, Penulisan Skenario Adaptasi Terbaik, Pengarah Artistik Terbaik, dan Penata Busana Terbaik. Enam dari sepuluh kategori yang dinominasikan, berhasil diborong.

athirah

Membaca daftar nominasi yang ada pada kategori film terbaik sebenarnya tidak terlalu sulit untuk menebak mana yang akan meraih kemenangan. Ada dua film biopic yang hadir di sana. Ada Rudy Habibie (2016) dan Athirah (2016). Disusul tiga judul film bioskop yang non-biopic, yaitu Surat dari Praha (2016) yang bernuansa musikal, Aisyah: Biarkan Kami Bersaudara (2016) yang mengandung nilai moral mengenai toleransi –sesuatu yang kita rindukan bersama saat ini, terutama jelang Pilkada seperti saat sekarang ini-, dan Salawaku (belum edar secara resmi) yang penuh sarat makna tentang kekeluargaan dan kemanusiaan. Saya sendiri menjagokan Athirah dan Surat dari Praha. Tapi Aisyah pun cukup bernyali ya. Ternyata tebakan saya tidak begitu jauh meleset dari perkiraan sebelumnya. Dan Mira Lesmana pun memegang Piala Citra untuk Film Terbaik itu.

Selamat, Mira. Kami tunggu karya kolaborasi anda dan Riri selanjutnya. (Foto: Miles Film & Muvila)

 

BERIKAN KOMENTAR

POPULER SEPEKAN

Membaca film Tilik dengan kacamata masyarakat urban atau perspektif gender belaka sangat tidak fair. Sebagai anak desa asal Pekalongan, film...

Tahun lalu 2015 adalah tahun pertama saya mulai rutin olah raga berlari. Sebeneranya memilih olah raga lari ini bukan keinginan sendiri,...

Sang Penari adalah film yang disutradarai oleh Ifa Isfansyah, dirilis pada 10 November 2011. Film berdurasi 111 menit ini terinspirasi...

"Setiap orang menjadi guru, setiap rumah menjadi sekolah” Ki Hajar Dewantara

“Don’t be into trends. Don’t make fashion own you, but you decide what you are, what you want to express...