Ketahanan Pangan Kala Pandemi, Dimulai dari Lahan Sendiri

70

Bagi sebagian orang yang beruntung tentu akan memilih berdiam diri di rumah sembari menunggu pandemi corona (Covd-19) berhenti. Namun, bagi sebagian masyarakat kita, ada yang lebih megerikan dibandingkan dengan Covid-19. Yakni masalah pangan. Banyak yang rela menerjang kemungkinan terpapar virus daripada mati kelaparan.

Panic buying sebagian masyarakat kita membuat harga-harga pangan melonjak tinggi. Dampaknya apa? Pangan yang makin langka membuat harga komoditas ini harganya melonjak tajam, sehingga makin sulit dijangkau bagi sebagian kaum papa.

Pemerintah menjanjikan akan memberikan kepastian ketahanan pangan bagi masyarakat tidak mampu dengan jaring pengaman sosial. Sayangnya bantuan pangan yang semestinya diterima yang membutuhkan justru tidak tepat sasaran.

Berikut beberapa poin kondisi objektif ketahanan pangan selama masa pandemi :

1. Sumber Pangan

Sumber pangan kita berasal dari produksi dalam negeri dan impor. Namun dalam kondisi saat ini memenuhi kebutuhan pangan dengan impor bukan sesuatu yang mudah, rantai distribusi terputus setelah pandemi menyerang, keluar masuk antar negara sangat-sangat dibatasi. Belum lagi produksi daari negara pengekspor yang pastinya juga tertekan dampak dari pandemi.

2. Pertanian dalam Negeri

Tidak hanya kondisi pangan yang porak poranda di negara lain, pertanian di dalam negeri juga mengalami kondisi yang sama. Kebijakan pemerintah dengan sosial distancing bahkan pembatasan sosial bersakala besar (PSBB) bisa dipastikan akan membuat kegiatan masyarakat di luar ruangan menjadi sangat terbatas.

Belum lagi ditambah potensi kemarau pada Juni mendatang seperti yang diramalkan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG). Jika masa pandemi belum berakhir, bisa dibayangkan seperti apa kondisi pangan kita. Pasokan dalam dan luar negeri semuaya seret.

3. Food and Agriculture Organization (FAO) Proyeksi Krisis Pangan

FAO bahka nmemproyeksikan bakal terjadi krisis pangan jika pandemi ini tidak kunjung berakhir. Menanggapi hal ini tentu harus ada win-win solution yang bisa diambil bagi masyarakat. Salah satu cara paling mudah adalah memanfaatkan sisa lahan pekarangan untuk bercocok tanam untuk ketahanan pangan mandiri.

Belum banyak masyarakat yang sadar sisa lahan atau pekarangan bisa dimanfaatkan karena mereka selama ini bergantung pada supply. Tanpa berfikir untuk memenuhi kebutuhan pangannya sendiri.

4. Pergeseran Pola Konsumsi

Di masa pandemi pola konsumsi sebagian masyarakat kita mulai berubah. Komoditas seperti jahe, kunyit, dan sebangsanya atau yang lebih dikenal dengan sebutan empon – empon banyak diburu. Bukan tanpa alasan banyak penelitian yang menyebutkan mengkonsumsi empon-empon bisa meningkatkan daya tahan tubuh dan kekebalan.

Daya tahan tubuh yang baik akan menghindarkan diri dari potensi tertular Covid-19. Apakah paska Covid-19 pola konsumsi akan berubah? Belum ada yang tahu, bisa jadi iya dan bisa jadi tidak. Atau mungkin pola konsumsi ini akan menjadi normal baru bagi masyarakat dalam menjaga kesehatan. (*)

Disarikan dari #NgabuburitFAA Series 6
“Ketahanan Pangan di Masa Pandemi”

BERIKAN KOMENTAR

POPULER SEPEKAN

Membaca film Tilik dengan kacamata masyarakat urban atau perspektif gender belaka sangat tidak fair. Sebagai anak desa asal Pekalongan, film...

Sang Penari adalah film yang disutradarai oleh Ifa Isfansyah, dirilis pada 10 November 2011. Film berdurasi 111 menit ini terinspirasi...

Perempuan selalu punya cara untuk melawan dan memperjuangkan haknya. Begitulah kira-kira kata yang ada di kepala saya saat menonton film...

Tahun lalu 2015 adalah tahun pertama saya mulai rutin olah raga berlari. Sebeneranya memilih olah raga lari ini bukan keinginan sendiri,...

"Setiap orang menjadi guru, setiap rumah menjadi sekolah” Ki Hajar Dewantara