Bagaimana semestinya jurnalis meliput tragedi? Kim Tong-hyung, di Korean Times menulis, bahwa ada tujuh hal yang mesti dipegang teguh oleh jurnalis ketika melakukan peliputan tragedi. 1. Jangan sampai reportase mengganggu usaha penyelamatan, 2. Jangan menuliskan atau mengabarkan sesuatu yang dapat membuat ketakutan yang tidak perlu, 3. Selalu melakukan verifikasi dan evaluasi terhadap klaim yang ada agar tidak misinformasi, 4. Jangan memaksa korban atau keluarga korban untuk melakukan interview, 5. Bagi jurnalis televisi, kurangi pengambilan gambar dari jarak dekat, 6. Jangan menggunakan gambar atau video yang berisi gambar brutal atau provokatif, 7. Menahan diri untuk tidak mengumbar data pribadi dari korban dan keluarga mereka.

Kode Etik Aliansi Jurnalis Independen (AJI) juga mengatakan bahwa ketika melakukan reportase, jurnalis harus menggunakan cara yang etis dan profesional untuk memperoleh berita, gambar, dan dokumen. Hal serupa juga dituliskan oleh Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) dengan penjelasan khusus: menghormati pengalaman traumatik narasumber dalam penyajian gambar, foto, suara. Namun ketika hal itu dilanggar, tidak pernah ada sangsi dari Dewan Pers.

Pemberitaan tentang hilangnya AirAsia QZ8501 adalah salah satu contoh begitu tidak cakapnya jurnalis bekerja. Alih-alih mencari berita yang substantif dan penting, sebagian jurnalis justru sibuk mewawancarai keluarga penumpang, seolah duka mereka adalah berita yang mesti diumbar ke khalayak ramai. Padahal, jika para jurnalis itu bersetia kepada lingkaran informasi dalam pemberitaan, keluarga korban jelas buka bukanlah prioritas pemberitaan, apalagi mempertanyakan perasaan mereka.

Pihak otoritas penerbangan, maskapai penerbangan dan pemerintah dalam hal ini Dirjen Perhubungan adalah narasumber utama. Jika kemudian pesawat dinyatakan hilang dan dilakukan pencarian, maka pihak Basarnas adalah narasumber utama, dengan catatan jurnalis tidak boleh mengganggu proses pencarian atau evakuasi.

Mengapa reporter lebih gemar bertanya perasaan keluarga korban? Barangkali mereka memang tidak pernah diajari bagaimana menjadi jurnalis yang benar oleh redaktur mereka. Pun, redaktur mereka tidak bisa bekerja dengan benar karena terjebak dalam anggapan bahwa berita tentang perasaan korban itu disukai publik sehingga bisa meningkatkan rating berita. Makin tinggi rating, makin banyak iklan datang, makin banyak iklan, makin banyak pemasukan. Relasi rating dan konstruksi berita pesanan ini memang keji.

Kesalahan lain yang kerap terulang adalah saat peliputan kasus kejahatan seksul. Pada pemberitaan media online atas kasus pembunuhan Deudeuh Alfisahrin atau Tata Chubby misalnya, media-media online kerap lebih mengarah pada eksploitasi korban ketimbang upaya memberikan informasi yang proporsional.

Indikasinya adalah ketika foto korban diambil dari media sosial dan diumbar di media. Wartawan juga menuliskan profesi dan aib korban. Tak hanya itu, keluarga korban juga diekspos dengan pemuatan wajah mereka. Bahkan mereka ditanyai tentang profesi korban.

Kasus eksploitasi pemberitaan terhadap korban kejahatan seksual bukan hanya terjadi di Indonesia. Pada November 2014 majalah Rolling Stone menurunkan laporan reportase yang menggegerkan Amerika Serikat. Laporan itu tentang mahasiswi Universitas Virginia yang diperkosa tujuh laki-laki di asrama fraternitas Phi Kappa Psi pada 28 September 2012.

Laporan bertajuk “A Rape on Campus: A Brutal Assault and Struggle for Justice at UVA” itu banyak dipermasalahkan karena Sabrina Rubin Erdely, wartawan Rolling Stone yang menulis liputan tersebut dinilai abai dalam hal verifikasi. Beberapa kejanggalan yang muncul memaksa Rolling Stone meminta Steve Coll, peraih penghargaan Pulitzer serta Dekan Columbia School of Journalism, untuk menyelidiki kesalahan-kesalahan yang terjadi selama peliputan.

Steve Coll menilai terdapat kesalahan di semua level dalam peliputan tersebut. Ia menyebut Rolling Stone telah “mengabaikan praktik-praktik esensial dalam jurnalisme”. Padahal, salah satu area yang harus diperhatikan jurnalis adalah “menyeimbangkan kepekaan terhadap korban dan tuntutan verifikasi”. Karena korban pelecehan seksual kerap mengalami trauma, maka jurnalis mesti menghargai otonomi korban.

Di Indonesia, dalam kasus Deudeuh, banyak hal yang dilanggar. Dalam surat terbuka Remotivi, salah satu pusat studi media dan komunikasi di Indonesia, menyebutkan pemberitaan media online pada kasus pembunuhan Dedeuh dinilai melencang dari substansi dan mengekspos hal-hal yang bersifat pribadi. Berita situs tribunnews.com, misalnya, dengan jelas menyebutkan alamat anak korban secara lengkap. Informasi itu jelas tidak relevan dengan kasus sekaligus melanggar privasi keluarga korban.

Farid Gaban, jurnalis senior, menyebut bahwa hal itu terjadi karena rezim industri media memperlakukan wartawan mereka sebagai robot. Sebagian besar media tidak memberikan gaji yang memadai pada para wartawannya. Mereka juga tidak membekali wartawannya kecakapan dan keterampilan jurnalistik yang cukup. Padahal semestinya jurnalis diperlakukan sebagai profesi profesional yang hanya bisa dikerjakan oleh seorang pakar.

Wisnu Prasetya Utomo dari Remotivi menilai pemberitaan kasus pembunuhan Deudeuh Alfisahrin sudah sampai pada tahap eksploitasi korban dan keluarga korban. Itu sudah melanggar hak privasi dengan menampilkan informasi yang tak relevan dengan kasus. Dan yang memprihatinkan, banyak media menampilkan berita minus verifikasi alias rumor.

Berita tanpa verifikasi ini, misalnya, bisa dilihat dalam berita-berita mengenai kesaksian orang-orang yang pernah menggunakan “jasa” Deudeuh atau Tata Chubby. Jika mengacu pada Kode Etik Jurnalistik, media-media tersebut telah melakukan pelanggaran secara terang-terangan. Dalam konteks ini, Dewan Pers sudah sepatutnya bertindak agar kasus ini bisa menjadi pelajaran bersama.

Wisnu juga mengingatkan media perlu sensitif karena berita-berita semacam ini dibaca orang dan bisa mempengaruhi opini publik. Mengabaikan sensitivitas sama artinya dengan menyampaikan pesan yang tidak tepat ke khalayak. Hal ini juga berpotensi menjauhkan berita dari akar persoalan.

BERIKAN KOMENTAR

POPULER SEPEKAN

Membaca film Tilik dengan kacamata masyarakat urban atau perspektif gender belaka sangat tidak fair. Sebagai anak desa asal Pekalongan, film...

Tahun lalu 2015 adalah tahun pertama saya mulai rutin olah raga berlari. Sebeneranya memilih olah raga lari ini bukan keinginan sendiri,...

Sang Penari adalah film yang disutradarai oleh Ifa Isfansyah, dirilis pada 10 November 2011. Film berdurasi 111 menit ini terinspirasi...

"Setiap orang menjadi guru, setiap rumah menjadi sekolah” Ki Hajar Dewantara

“Don’t be into trends. Don’t make fashion own you, but you decide what you are, what you want to express...