Memasuki tanggal 22 Desember , seperti dikomando, hampir semua media sosial (Medsos) penuh dengan ucapan Hari Ibu. Facebook, Twitter, Path, tak ketinggalan pula Instagram, diramaikan oleh celotehan terima kasih kepada ibu.

Padahal saya berani bertaruh, sebagian dari penceloteh itu tak menyampaikan ucapan manis itu secara langsung kepada ibunya. Jadi hanya riuh di Medsos saja. Jangankan mengucapkan secara langsung, ingat ibu dan kemudian memberi kabar saja tidak.

Malahan postingan di medsos itu lebih berupa lucu-lucuan. Mereka menyambungkan Hari Ibu dengan ucapan-ucapan lucu, dari ibu minta mantu, hingga ibu minta cucu. Duh!

Peringatan Hari Ibu di tiap negara diselenggarakan tidak secara serempak. Beda negara, beda pula tanggal dan bulan perayaannya. Ada yang menyelenggarakannya di bulan Februari, April, bahkan Mei. International Mother’s Day misalnya, yang diselenggarakan tiap 11 Mei.

Di Indonesia, 22 Desember disematkan sebagai Hari Ibu sejak Presiden Sukarno mengeluarkan dekrit bernomor 316 tahun 1959 soal penetapan tanggal itu sebagai Hari Ibu. Mengapa di tanggal itu? Karena sejarah mencatat bahwa di tanggal itulah Kongres Perempuan Indonesia pertama kali diselenggarakan, di Yogyakarta pada 22-25 Desember 1928. Kongres diselenggarakan di Dalem Jayadirupan jl Brigjen Katamso, gedung yang kini menjadi kantor Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional. Kongres ini dihadiri oleh 30 organisasi perempuan dari 12 kota di Jawa dan Sumatera. Sebelum Indonesia merdeka, tanggal penetapan Hari Ibu dilakukan pada Kongres Perempuan Indonesia ketiga, yang diselenggarakan 23 – 28 Juli 1938 di Bandung.

Organisasi perempuan di Indonesia sudah ada sejak 1912. Kongres Perempuan Indonesia ini diselenggarakan dengan maksud untuk meningkatkan hak-hak perempuan dalam bidang pendidikan dan pernikahan. Ditetapkannya Hari Ibu adalah sebagai peringatan “hari di mana perempuan memperoleh ruang keterlibatan dalam dialektika masyarakat” yang arus besarnya, pada 1920-an itu, adalah “keterlibatan pergerakan kemerdekaan dan penentuan posisi perempuan terhadap diskriminasi patriarki dan prasangka-prasangka gender”.

Sayangnya, semakin hari semakin terjadi pergeseran Hari Ibu. Hari Ibu yang kita peringati setiap tahunnya, semakin diartikan secara sempit dan mengarah ke pelegalan domestifikasi. Sebuah hari yang dulu diperingati sebagai harinya peran sosial politik dan peran publik perempuan Indonesia, menjadi peringatan hubungan personal antara seorang ibu dengan anaknya.

Saya berharap agar informasi ini dapat meluruskan kembali makna Hari Ibu di Indonesia. Perempuan Indonesia masih harus terus berjuang untuk itu. Pastinya semua kembali pada kita semua, bagaimana dan untuk tujuan apa memaknai Hari Ibu. Jangan lupa pula, ibu-ibu kita tidak hanya menginginkan ucapan, tapi lebih dari itu. Selamat Hari Ibu untuk ibu-ibu hebat di Indonesia.

BERIKAN KOMENTAR

POPULER SEPEKAN

Tahun lalu 2015 adalah tahun pertama saya mulai rutin olah raga berlari. Sebeneranya memilih olah raga lari ini bukan keinginan sendiri,...

Membaca film Tilik dengan kacamata masyarakat urban atau perspektif gender belaka sangat tidak fair. Sebagai anak desa asal Pekalongan, film...

Sang Penari adalah film yang disutradarai oleh Ifa Isfansyah, dirilis pada 10 November 2011. Film berdurasi 111 menit ini terinspirasi...

Bergabungnya wilayah Irian Barat menjadi provinsi ke-26 Republik Indonesia pada tahun 1969 dengan dilaksanakannya PEPERA yang diikuti oleh seluruh wakil...

Perempuan selalu punya cara untuk melawan dan memperjuangkan haknya. Begitulah kira-kira kata yang ada di kepala saya saat menonton film...