“Memanusiakan” Pasien Penyakit Kronis dengan Terapi Paliatif

915

 

Pada dasarnya pasien yang didiagnosa dengan penyakit kronis memiliki hak untuk diobati dan meninggal dalam keadaan senang dan tenang. Tak hanya medis, mereka juga membutuhkan asupan biologis, psikologis, sosial, dan spritual. Terapi paliatif mencoba untuk memenuhi kebutuhan itu.

Dalam sebuah talkshow kanker yang diadakan oleh sebuah perusahaan farmasi multinasional bekerja sama dengan Yayasan Kanker Indonesia di Jakarta Oktober 2014 lalu, ada yang miris dengan perkembangan kanker di Indonesia. Dr Ronald A. Hukom, MHSc, SpPD KHOM, pakar kanker payudara sekaligus Konsultan Hermatologi dan Onkologi Medik RS Kanker Dharmasi, menyebutkan, dalam setahun diperkirakan ada sekitar 49 ribu  kasus baru penderita kanker payudara di seluruh Indonesia.

Dari jumlah yang besar itu, diperkirakan sekitar 20 ribu pasien kanker payudara berakhir dengan kematian.Ilustrasi Terapi Paliatif

Tak hanya itu, informasi miris itu juga diikuti oleh data lain yang menyebut, sebagian besar pasien kanker payudara datang ke rumah sakit dalam kondisi stadium lanjut. Sebagian besar dari mereka juga kerap menghadapi kesulitan dalam mendapatkan informasi yang terkait dengan penatalaksanaan kanker payudara. Ironis.

Tak hanya membeberkan berita duka, Ronald juga mengutarakan sebuah solusi yang dianggap bisa menekan—atau minimal menunda—kematian karena kanker payudara—juga penyakit-penyakit kronis lainnya. “Pasien kanker payudara stadium lanjut perlu segera meminta pendapat dokter multidisiplin (onkologi medis, ahli bedah, ahli radiasi, dll) mengenai kombinasi cara pengobatan yang paling tepat,” katanya.

Ronald juga menyarankan kepada pasien untuk melakukan terapi paliatif agar termotivasi selama menjalani perawatan. Menurutnya, motivasi, kesabaran, juga perhatian yang lebih dari pasangan atau keluarga merupakan hal mendasar dan penting untuk meningkatkan kepercayaan diri dan semangat pasien.

Menurut informasi dari dokter bersuara tegap itu, dengan penanganan tim dokter multidisiplin yang baik, sekitar 60 – 70 persen pasien kanker stadium III dan 15 – 20 persen pasien kanker staidum IV bisa tetap hidup setelah 5 tahun (5-years survival rate). Selain itu, asuhan paliatif dan akses terhadap informasi yang tepat dapat membantu pasien kanker stadium lanjut untuk meraih hidup yang lebih baik dan berkualitas.

Perlu diperhatikan, terapi paliatif tidak khusus untuk kanker payudara saja, tetapi juga kanker-kanker dan penyakit kronis lainnya.

 

Bermula dari gerakan hospice

Perkembangan terapi paliatif tidak bisa dipisahkan dari gerakan hospices yang melatarinya. Hospice adalah sebuah konsep penanganan yang muncul di abad pertengahan. Ia merupakan simbol dari sebuah tempat di mana para pengelana, peziarah, orang-orang yang sakit, orang yang menderita luka-luka, atau sekarat, bisa beristirahat dengan nyaman.

Gerakan hospice modern terjadi pada 1960-an ketika Dr. Cicely Saunders mendirikan St. Cristopher Hospice di dekat kota London. Program ini adalah teknik modern pertama yang mengombinasikan pengendalian rasa sakit dengan penanganan penuh keramahan dan kasih sayang bagi pasien yang menderita penyakit yang sulit—bahkan tidak dapat—disembuhkan. Kanker adalah salah satunya.

Sementara di Amerika Serikat, gerakan ini mulai berkembang pesat pada 1980-an. Beberapa lembaga yang mengembangkan gerakan ini adalah klinik Cleveland dan Medical Collage of Wisconsin. Sampai saat ini kabarnya sudah ada sekitar 1.200 rumah sakit di Amerika Serikat yang berdiri berbasis perawatan paliatif. Sementara itu, lebih dari 55 persen rumah sakit yang memiliki ranjang di atas 100 di  Negeri Paman Sam itu memiliki program yang sama.

Di Indonesia sendiri, dari pemaparan Ronald, penanganan paliatif baru berjalan semarak sekitar 10 -15 tahun terakhir. Yang menjadi pekerjaan rumah kemudian adalah tidak semua pasien kanker mendapatkan informasi terkait perawatan paliatif, terlebih mereka yang berada di daerah pedesaan yang akses kesehatannya juga minim.

“Hampir seluruh rumah sakit kanker memiliki klinik paliatif. Di Dharmais sendiri sendiri sudah berjalan lebih dari satu dasawarsa. Sementara rumah sakit yang paling terkenal layanan paliatifnya adalah RS Dokter Soetomo, Surabaya. Tapi sayangnya, tidak semua kalangan bisa menjangkaunya,” beber Ronald.

 

“Memanusiakan” orang sakit

Shanti Persada, pendiri LovePink, gerakan sosial yang berkonsentrasi di bidang kanker payudara, adalah survivor sekaligus warrior kanker payudara yang pernah merasakan penanganan paliatif. Shanti merasakan secara langsung, dengan terapi paliatif ia bisa menghadapi penyakit ganas yang menyerangnya dengan “perasaan yang bahagia”.

“80 persen dari perawatan kanker adalah suputar cara pandang terhadap penyakit itu sendiri. Hati yang gembira, menjalani hidup dengan positif dan bahagia merupakan terapi yang baik untuk perempuan dengan kanker payudara,” tutur Shanti di acara yang sama.

Pada hakikatnya, terapi paliatif adalah sebuah upaya “memanusiakan” orang sakit. Dan perlu diperhatikan, terapi paliatif tidak harus dilakukan di bangsal rumah sakit, tapi bisa di mana pun. Orang sakit, sekeras apa pun  itu sakitnya, memiliki hak untuk bahagia, tersenyum, dan bersosialiasi laiknya orang-orang sehat pada umumnya. Namun, lanjut Shanti, alih-alih bisa tertawa lepas, orang-orang yang divonis dengan penyakit kronis cenderung mengurung diri di dalam  rumah dan terlihat pasrah. Depresi.

Purwaningsih dari Universitas Airlangga Surabaya dalam presentasinya yang berjudul “Perawatan Paliatif” , terapi paliatif lebih menekankan perhatian terhadap pasien, terutama oleh keluarga dan teman-temannya, ketika penyakit pasien ada kemungkinan tidak dapat disembuhkan dan kemungkinan hidup kecil.

Tujuan terapi ini lebih pada upaya membantu meringankan derita pasien, fisik maupun psikologis. Oleh karena itu, pendekatan yang dilakukan juga cukup beragam: fisik, mental, emosi, sosial, spiritual, kultural, dan yang paling penting adalah keterlibatan keluarga.

“Lebih lanjut, terapi palitif itu memiliki filosofi, bahwa setiap orang memiliki hak untuk diobati, meninggal secara bermartabat, mengurangi rasa nyeri, serta pemenuhan kebutuhan-kebutuhan bio-psiko-sosio-spritual,” tulis Purwaningsih.

 

Dari ustaz hingga psikolog

Seperti yang sudah disinggung di awal, dalam sekali perawatan paliatif melibatkan banyak elemen yang kira-kira dibutuhkan oleh si pasien. Jika si pasien sekiranya membutuhkan kebutuhan spiritual untuk lebih dekat dengan Sang Pencipta, maka ia akan memanggil ustaz atau pendeta. Jika kanker yang dia derita berimbas pada kehidupan sosialnya, barangkali ia membutuhkan psikolog untuk memberinya semangat dan motivasi.

Oleh sebab itu, seolah menjadi syarat mutlak bagi setiap klinik paliatif untuk menyediakan tenaga-tenaga tersebut. Ronald mencontohkan klinik paliatif di RS Kanker Dharmais yang menyediakan tenaga spiritual, psikolog, juga dengan dokter-dokter spesialis yang sebagai antisipasi jika pasien kanker ternyata juta mengidap gangguan penyakit lain.

Soal biaya, sekilas terlihat lebih mahal dan Ronald membenarkan hal itu. Baginya, hal ini cukup masuk akal mengingat perawatan yang dilakukan tidak hanya satu jenis saja—perawatan kanker saja—melainkan banyak perawatan. Logikanya, jika sel-sel kanker si pasien menyerang organ lain, jantung misalnya, maka si pasien itu secara otomatis membutuhkan butuh perawatan jantung dan harus menebus obat buat jantungnya. Begitu juga ketika berkonsultasi di psikolog dan ustaz atau pendeta.

“Tapi itu sedikit lebih ringan dengan adanya program BPJS dan Kartu Indonesia Sehat yang diluncurkan pemerintah,” ujar Ronald.

 

habib

 

Penulis: M. Habib Asyhad

Alumnus LPM Ekspresi Universitas Negeri Yogyakarta. Jurnalis Majalah Intisari.

BERIKAN KOMENTAR

POPULER SEPEKAN

Tahun lalu 2015 adalah tahun pertama saya mulai rutin olah raga berlari. Sebeneranya memilih olah raga lari ini bukan keinginan sendiri,...

Membincang Raden Ajeng Kartini (selanjutnya disebut Kartini) selalu menarik dan tidak akan habis dibahas dari sisi apapun. Itulah seorang Kartini...

Perempuan selalu punya cara untuk melawan dan memperjuangkan haknya. Begitulah kira-kira kata yang ada di kepala saya saat menonton film...

Setiap tanggal 1 Juni, ingatan kita terlintas visual seekor burung garuda bernama Garuda Pancasila, mengenakan perisai di dada yang berisi...

Kami terbangun dan memulai melakukan persiapan packing peralatan, sarapan, senam pagi sejenak, dan mencari kebutuhan logistik tambahan seperti seperti kaos...