Membahas Persoalan Bangsa, Alumni Pers Mahasiswa Berkumpul di Kudus

357
Siaran pers hasil diskusi "Merajut Nusantara: Membaca Kondisi Kekinian dan Masa Depan Indonesia” dalam acara HUT FAA PPMI dan reuni alumni pers mahasiswa se-Indonesia di Universitas Muria Kudus (UMK), Kudus, Jawa Tengah, 30-31 Januari 2016

Sekitar seratus tokoh dari berbagai kalangan dan profesi berkumpul dalam peringatan satu tahun berdirinya Forum Alumni Aktivis Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia (FAA PPMI) di Kudus, Jawa Tengah, pada 30-31 Januari 2016. Dalam acara tersebut, para peserta yang merupakan mantan aktivis pers mahasiswa dari seluruh Indonesia, membicarakan kondisi kebangsaan. Tiga diskusi terfokus bertema “Merajut Nusantara: Membaca Kondisi Kekinian dan Masa Depan Indonesia” digelar paralel di Kampus Universitas Muria Kudus (UMK), Kudus, Jawa Tengah.

Saat ini terdapat ribuan alumni pers mahasiswa yang saat ini tersebar ke beragam profesi dan pekerjaan seperti politisi, peneliti, jurnalis, pengusaha, birokrat, dan sebagainya. Tidak sedikit dari mereka telah menjadi tokoh nasional. Hingga saat ini, para mantan aktivisi pers kampus itu konsisten dengan komitmen dan idealisme dalam memandang arah bangsa ke depan di masing-masing bidang profesi mereka. “Acara ini sekaligus mempertemukan pemikiran dari pelbagai kalangan untuk mencari, memetakan, sekaligus merumuskan penyelesaian persoalan bangsa,” ujar Ketua Presidium FAA PPMI Agung Sedayu, 31 Januari 2016.

Mengumpulkan seratusan tokoh dalam satu kegiatan bukan hal yang mudah. Namun acara yang berlangsung selama dua hari itu berjalan lancar dan sukses. “Ini berkat gotong-royong alumni dan bantuan banyak pihak seperti: Universitas Muria Kudus, PT Djarum, PT Nojorono Tobacco International (NTI), PT Pura Barutama, Saqina.com, Dewantara Institute, Kedai Teras, Penerbit Aksara Mulia Utama, Omah Dongeng Marwah, @education toys, dan Routine Coffee,” kata Agung. “Kepada semua pihak yang telah membantu, kami ucapkan terima kasih.”

Pembukaan acara HUT FAA PPMI dan Reuni Alumni Persma Indonesia di Universitas Muria Kudus, Kudus, Jawa Tengah
Ketua Presidium FAA PPMI Agung Sedayu dalam pembukaan acara HUT FAA PPMI dan Reuni Alumni Persma Indonesia di Universitas Muria Kudus, Kudus, Jawa Tengah, 30 Januari 2016

Rekomendasi Diskusi untuk Perbaikan Negeri

2016 dibuka dengan peristiwa yang mengejutkan. Kembali terjadi bom yang disertai dengan penembakan di Jalan M H Thamrin, Jakarta Pusat. Untuk kesekian kalinya, Indonesia kembali menjadi sorotan dunia internasional. Dan terorisme kembali menggoncang berbagai sektor, mulai dari politik, ekonomi, hingga pertahanan.

Terorisme bukan hal yang baru di negeri ini. Beberapa kali Indonesia dihantam peristiwa teror. Bahkan sejumlah teror sebelumnya menimbulkan korban yang jauh lebih banyak. Mengapa terus terulang?

Terorisme selalu tumbuh subur di tengah paham radikalisme perilaku intoleransi terhadap perbedaan. Namun sayang, ajaran bahkan praktik radikalisme serta intoleransi beragama di negeri ini kurang ditindak tegas. Tengok sektor pendidikan, misalnya, beberapa kali buku- buku pendidikan mengandung konten radikalisme lolos masuk sekolah. Bahkan ajaran yang tak patut itu masuk ke buku Pendidikan Anak Usia Dini (Paud). Buku berjudul Anak Islam Suka Membaca karangan Nurani Musta’in itu diterbitkan sejak 2013 dan beredar di sejumlah kota. Sejumlah kelompok yang menyebarkan paham radikal dan intoleransi juga belum ditindak tegas. Itu salah satu alasan mengapa terorisme terus muncul meski pemerintah gencar mengejar dan penangkap para pelaku teror.

Indonesia memiliki kekayaan suku bangsa dan keberagaman budaya serta agama. Sehingga, menghargai dan memahami perbedaan adalah modal penting untuk merajut persatuan di Nusantara. Ini adalah salah satu poin penting yang menjadi pembahasan pertemuan para mantan aktivis pers mahasiswa se-Indonesia yang digelar di Kudus ini.

Secara garis besar diskusi terfokus itu terbagi menjadi tiga bidang. Yaitu bidang Budaya dan Pendidikan; bidang Politik dan Hukum; serta bidang Ekonomi dan Lingkungan.

Sejumlah tokoh ikut menjadi pemantik diskusi. Di bidang budaya dan pendidikan terdapat Adviser Indonesia Mengajar Israr Ardiansyah, Komisioner Lembaga Sensor
Film (LSF) Rommy Fibri, Pengamat Pendidikan/ Kepala Bidang Komunikasi Masyarakat Universitas Islam Malang Ari Ambarwati, M.Pd, Direktur Eksekutif the Jawa Pos Institute of Pro-Otonomi (JPIP) Rohman Budijanto, budayawan Dwidjo Utomo M, tokoh pendidikan sejarah Tulungagung Trijono, Analis Kebijakan Migrant Care Wahyu Susilo, dan Direktur Dewantara Institute Rama Prambudhi Dikimara.

Di bidang politik dan hukum ada Direktur Kebijakan Publik Paramadina Abdul Rahman Ma’mun, Kepala Pusdiklat Bappenas Dr. Wignyo Adiyoso, Direktur The Akbar Tandjung Institute Dr. M. Alfan Alfian, Direktur Lingkaran Survei Kebijakan Publik (LSKP) Sunarto Ciptoharjono, Penanggung Jawab Rajawali TV (RTV Yogyakarta) Tri Suparyanto, Direktur Riset Polmark Indonesia Eko Bambang Subiantoro, Staf Khusus Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Rusman.

Sedangkan di bidang ekonomi dan lingkungan hadir Pemimpin Redaksi Merdeka.com Didik Supriyanto, Sekjend Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia (Gappri) Hasan Aoni Aziz, Direktur PT Tosanda Dwi Sapurwa Andreas Ambar Purwanto, Pendiri dan Chief Operating Officer Saqina.com Ines Handayani, Pemimpin Redaksi Suara.com.

Suasana peserta diskusi FAA PPMI
Suasana peserta diskusi FAA PPMI

Dalam diskusi yang dihadiri puluhan tokoh dari berbagai profesi serta ratusan alumni pers mahasiswa itu dihasilkan sejumlah rekomendasi. Antara lain:

Rekomendasi Bidang Pendidikan dan Kebudayaan

Indonesia sebagai negara kebangsaan memiliki tanggungjawab dalam membangun kesadaran nasional. Usaha untuk mempersatukan negeri tidak akan terwujud jika masyarakat tidak memegang peran sosial dan kebudayaan. Dalam konteks ini, masyarakat perlu digugah kembali untuk melestarikan budaya persatuan dan kesatuan dalam bingkai nasionalisme.

Ancaman nasionalisme yang nyata dihadapi hari ini tercermin dari maraknya paham radikalisme dan terorisme. Ideologi itu sangat kontra dengan budaya Indonesia. Sehingga perlu pelurusan bersama sikap dasar masyarakat agar tidak melepaskan jiwa kebangsaan.

Salah satu usaha yang perlu dilakukan untuk memperkuat jiwa kebangsaan adalah dengan pendidikan. Dengan pendidikan ini, problem sosial dan kebudayaan akan terselesaikan secara bertahap. Selain itu, untuk melakukan sosialisasi dibutuhkan kerjasama dalam bidang komunikasi dan informasi. Usaha lainnya dengan menjadikan dunia perfilman dan penyiaran mendukung persatuan dan kesatuan bangsa.

Para peserta diskusi terfokus bidang kebudayaan dan pendidikan di acara HUT FAA PPMI di UMK, Kudus, 30 Januari 2016
Para peserta diskusi terfokus bidang pendidikan di acara HUT FAA PPMI di UMK, Kudus, 30 Januari 2016

Di bidang kebudayaan dan pendidikan ini FAA PPMI mengeluarkan sejumlah rekomendasi. “Pertama, FAA PPMI akan berupaya sekuat tenaga untuk menjadikan Indonesia sebagai negara kesatuan yang dijauhkan dari sikap intoleransi dan radikalisme,” kata Agung. Kedua, mendorong terciptanya sikap menjunjung tinggi budaya bangsa yang mencirikan cita rasa budaya khas Indonesia. Ketiga, menguatkan pola serta mendorong terciptanya input calon guru yang berkualitas sekaligus distribusi guru secara merata. “Kami juga mendukung upaya penguatan kurikulum berbasis etika moralitas dan kebudayaan berkeadaban, sehingga hal-hal yang bersifat negatif (hasutan kebencian, pornografi, intoleransi, dan radikalisme) tidak mendominasi.”

Rekomendasi Bidang Hukum dan Politik

Rezim elektoral saat ini yang meliputi Pemilihan Umum untuk memilih Presiden dan Wakil Presiden, Pemilihan Legislatif, serta Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) telah menempatkan partai politik sebagai salah satu instrumen demokrasi yang penting. Namun demikian partai politik tidak terlepas dari sejumlah persoalan yang membuatnya berjalan di tempat. Misalnya, masih adanya politikus yang terjerumus dalam perilaku korupsi.

Korupsi dan politik uang menjadi bentuk kejahatan yang mesti segera diatasi. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) selama ini telah menjadi garda depan pemberantasan korupsi. Namun, belakangan kepercayaan pubik terhadap pemilihan pimpinan KPK yang dinilai terlalu politis. Alhasil, kondisi itu berpotensi menyebaban berkurangnya kepercayaan publik pada efektifitas kinerja lembaga antirasuah tersebut.

Karena pertimbangan itu, FAA PPMI bertekad mendorong terciptanya kualitas politik dan politisi dalam penyelenggaraan demokrasi di Indonesia, mendukng penuh penguatan institusi penegakan hukum untuk menjamin terwujudnya kepastian hukum yang berkeadilan. Sekaligus mendorong Parpol menjadi partai moderen yang mampu memperbaiki kualitas demokrasi. “Kami juga akan memperkuat jejaring mendorong gerakan pemberantasan korupsi melalui berbagai media. Menginisiasi program penyadaran publik melalui media digital, inovasi dan kreatifitas,” kata Agung.

Rekomendasi Bidang Ekonomi dan Lingkungan

Kebijakan ekonomi pemerintahan Joko Widodo yang memprioritaskan pembangunan infrastruktur menimbulkan harapan baru. Namun, percepatan pembangunan juga harus disikapi secara kritis. Di tingkat mikro problemnya justru bukan soal infrastruktur, namun lantaran ketidakberanian melangkah serta minimnya inisiatif dan kreatifitas.

Sejumlah peserta HUT FAA PPMI dan reuni persma Indonesia melakukan diskusi terfokus bidang Ekonomi dan Lingkungan di UMK Kudus, 30 Januari 2016
Sejumlah peserta HUT FAA PPMI dan reuni persma Indonesia melakukan diskusi terfokus bidang Ekonomi dan Lingkungan di UMK Kudus, 30 Januari 2016

Tahun ini juga merupakan tahun pertama Indonesia memasuki Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). MEA adalah harapan sekaligus kekhawatiran. Ia bisa membuka peluang perluasan ekonomi, namun bila tidak diiringi dengan kesiapan yang matang akan membuat rakyat Indonesia gagal bersaing dan hanya sekedar menjadi target pasar.

Salah satu yang harus dibangun untuk menghadapinya adalah kemandirian ekonomi. Forum Alumni Aktivis Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia (FAA PPMI) berkomitmen mendorong sejumlah agenda strategis antara lain mengkritisi tumpang tindihnya peraturan dan regulasi yang menghalangi kreatifitas anak bangsa. Selanjutnya mengkaji dan mengkritisi penggunaan E-Commerse karena berpotensi hanya memberikan keuntungan bagi para pemodal besar. FAA PPMI juga akan mendukung terciptanya pasar dalam negeri yang memiliki daya saing kuat. “Kami juga mendorong pemerintah mengatasi ketimpangan dalam menakar ekonomi-politik pembangunan dari perspektif pusat yang sentralistik,” ujar Agung.

Para alumni pers mahasiswa lintas generasi berfoto bersama di depan kampus Universitas Muria Kudus, Kudus, Jawa Tengah pada 30 Januari 2016.
Para alumni pers mahasiswa lintas generasi berfoto bersama di depan kampus Universitas Muria Kudus, Kudus, Jawa Tengah pada 30 Januari 2016.

Dimeriahkan Pameran dan Pertunjukan Seni Berkualitas

Peringatan satu tahun berdirinya FAA PPMI dan reuni alumni pers mahasiswa Indonesia itu juga dimeriahkan oleh penampilan Barong Putro Budoyo. Barong Putro Budoyo adalah kelompok seni tari barong yang istimewa karena didirikan dan dikelola secara mandiri oleh anak-anak sekolah dasar dan sekolah menengah pertama di Kudus.

Suasana malam reuni FAA PPMI di Omah Dongeng Marwah, Kudus.
Suasana malam reuni FAA PPMI di Omah Dongeng Marwah, Kudus.

Acara makin semarak dengan pameran karya seni anak-anak para alumni pers mahasiswa. Dilanjutkan dengan penampilan bocah-bocah berbakat dari Omah Dongeng Marwah serta sajian memukau para musisi muda yang tergabung dalam The Tambal Band.

BERIKAN KOMENTAR

POPULER SEPEKAN

Perempuan selalu punya cara untuk melawan dan memperjuangkan haknya. Begitulah kira-kira kata yang ada di kepala saya saat menonton film...

"Setiap orang menjadi guru, setiap rumah menjadi sekolah”Ki Hajar Dewantara

Kematian datang menjemput Tommy Apriando di ruang RS PKU Muhammadiyah, Jogja, pada 2 Februari 2020 lalu. Tidak ada yang menyangka...

“Jika kau tak punya kenangan, meski di dalam hati pun kau takkan bersamanya. Tapi, walau jika yang kau miliki hanya...

“Don’t be into trends. Don’t make fashion own you, but you decide what you are, what you want to express...