Hari menjelang senja. Saya masih terduduk di kantor, menanti saatnya pulang pada pukul 17.00 WIB nanti. Ponsel di sudut meja berdering. Seorang teman dari Jakarta menelepon, ia gelisah, jalanan menuju bandara macet parah. Padahal pesawatnya akan segera berangkat ke Surabaya. Ia khawatir tertinggal. Selain pesawat ini, tak ada lagi penerbangan menuju Surabaya maupun Malang di hari ini.

Saya turut berharap cemas. Namun tak tahu bagaimana memberikan solusi terbaik. Saya tak memiliki ide armada lain apa yang bisa mengantarnya ke Surabaya atau Malang dengan segera. Momentum pendakian menuju Puncak Mahameru ini sebenarnya sudah kami nantikan sejak lama. 

Sepulang dari kantor, saya mampir ke rental printing digital milik seorang teman di daerah Waru. Lokasinya hanya sekitar 2 km dari tempat saya bekerja. Di sana saya mengambil banner FAA PPMI berukuran 2,5 x 0.8 m yang filenya telah saya kirimkan sehari sebelumnya.

Malamnya, ponsel berdering kembali dengan penelepon yang sama. Ia pasrah dan menyatakan tak bisa terlibat. Ia terlambat pesawat. Semua penerbangan hari ini penuh. Bahkan jadwal kereta sudah tak terkejar lagi. Saya sedih dan kecewa ia tak bisa bergabung. Padahal persiapan dan komunikasi selama ini sudah terjalin dengan baik. Persiapan perbekalan lengkap untuk ekspedisi ini saja memakan waktu hingga 4 hari. Namun mau apa lagi, semuanya sudah terjadi. Bagaimana pun, tim dari Jawa Timur harus tetap berangkat dengan spirit semula yang telah terbangun demi sebuah kebersamaan dalam pendakian Mahameru.

Sesampainya di rumah, di Kecamatan Tulangan, Sidoarjo, waktu telah menunjukkan pukul 20.00. Saya segera berbenah, mengecek kembali semua perlengkapan. Carier, logistik, peralatan memasak, lampu badai, matras, tenda, dan perlengkapan lain telah saya kemas rapi beberapa hari sebelumnya.Tak lupa juga mengecek ketersediaan bahan bakar gasmate dan bensin. Untuk expedisi kali ini, saya menggunakan motor Supra X 125 buatan tahun 2010 sebagai kendaraan pribadi menuju Pos Ranu Pane di Lumajang.

Pukul 21.30, teman yang biasa saya panggil Mbah Kamto (Mas Sukamto, Gempol Pasuruan) datang sambil membawa ransel Consina Tarebbi 60+10 liter. Mbah Kamto adalah sweeper pendakian, jebolan teknik Universitas Negeri Surabaya, yang telah banyak berpengalaman spiritual mendaki Gunung. Kali ini, dalam Ekspedisi Mahameru 2016 saya minta keikutsertaannya. Kamipun mengecek kembali semua ransel dan perlengkapan yang ada.

Sambil menunggu sobat lainnya, kami ngopi, makan malam dan mengobrolkan rencana-rencana dalam pendakian nanti.

Tak lama kemudian, pukul 22.15 WIB datanglah Muhammad Dadang, anggota tim termuda berusia 21 tahun. Ia datang lengkap dengan ransel Lowe Alpine 70 liter dan langsung berkoordinasi dengan kami, serta melanjutkan obrolan hangat tentang rencana pendakian kami nantinya.

Kami masih menunggu 2 rekan pendaki, saudara Eksan Noviatu (Universitas Hasyim Asyari Surabaya sekaligus anggota pecinta alam Leksapuma) dan Dedy Raimon (Teknik Sipil Universitas Negeri Surabaya) yang akan bergabung. Melalui Blackberry Messenger, mereka bilang akan datang tengah malam, pukul 24.00, karena masih mengerjakan beberapa pekerjaan paruh waktu. Kedua orang tersebut berusia masih muda juga, 22-23 tahun. Karena kedatangan mereka masih lama, sambil menunggu kamipun leyeh-leyeh dan tiduran.

Dan waktupun berjalan dengan semestinya.kedua teman datang pukul 02.00. Setelah melakukan pengecekan akhir semua perlengkapan dan bawaan, kami memutuskan untuk berangkat setelah shalat Shubuh langsung menuju Tumpang, Malang, dan Ranu Pane, Lumajang.

Tentang Penulis:

Rudi Astrey
Rudi Astrey

Rudi “Idur” Astrey.  Jebolan Fakultas Sastra Universitas Jember. Pernah Aktif di Lembaga Pers Mahasiswa Ideas dan UKPM Tegalboto Universitas Jember. Aktif di PPMI tahun 1995 – 2000. Pernah bekerja di media Surabaya Pagi sejak 2005 – 2008. Saat ini bekerja sebagai perancang grafis di PT Maspion Group Surabaya dan mengelola Manjer Adventure.

BERIKAN KOMENTAR