Meneguhkan Negeri Istimewa

482
Ilustrasi NKRI. Foto krjogja.com

Membuat Indonesia semakin maju baik butuh ide-ide cemerlang. Kecemerlangan ide itu pun tidak bisa copy paste menjiplak dari kemajuan negara lainnya. Butuh pemahaman struktur sosial, kesesuaian budaya dan sensitifitas pendidikan.

Tak ayal lagi jika membincang soal Indonesia butuh waktu yang sangat panjang. Dan seringkali, diskusi itu pasti melebar kemana-mana. Semua pasti optimis bahwa idenya akan tetap cemerlang.

Lalu apakah ide cemerlang anak bangsa akan membuat Indonesia maju? Jawabannya tegas: “ya”. Tentunya, ide yang telah disumbangsihkan itu berjalan mulus dengan pelaksanaan ide. Jadi, ide bukan berhenti di mulut, tapi perlu segera direalisasikan.

Ada banyak catatan yang muncul dalam Diskusi Terfokus di arena Temu Alumni FAA PPMI 30-31 Januari 2016 di Kota Kudus. Yang jelas-jelas saya ikuti adalah diskusi bidang sosial, budaya dan pendidikan. Narasumber pemantik yang berjumlah 9 orang tokoh lintas profesi dan sepuluh peserta aktif terasa gayeng bersambut.

Semuanya ingin curhat dan urun rembug untuk negeri tercinta: Indonesia. Tidak ada ide yang sia-sia di forum itu. Dan itu menjadi bukti bahwa kritisisme mantan aktivis pers turut mempengaruhi nalar keindonesiaan.

Yang pasti, itulah warna-warni geliat para aktivis pers yang sudah ditempa sejak kuliah dengan anti kemapanan dan membangun negeri. Dan tentu saja itu merupakan jariyah untuk anak cucu generasi berikutnya.

Menyoal Indonesia memang sama halnya menyoal kehidupan yang tidak pernah selesai. Sebab memang negeri ini dihuni aktif oleh para orang hidup. Alhasil, segala persoalan yang terjadi perlu diurai satu persatu.

Dalam bidang sosial, ada persoalan serius soal kebangsaan, radikalisme dan pesimisme menghadapi MEA. Nalar pikir masyarakat juga terkadang masih terlalu sempit hingga muncul inferioritas.

Bidang budaya juga menjumpai cita rasa budaya lokal yang mulai terkikis sehingga butuh rekayasa budaya–yang dikembalikan pada marwah keindonesiaan. Sebab budaya melekat pada tatanan sosial di lingkaran itu.

Isu pendidikan ini juga menjadi kemasan diskusi yang panjang. Dari mulai literasi, profesionalisme guru, kurikulum, moralitas siswa, buku ajar hingga darurat pornografi. Semuanya bermasalah (tentunya ada nilai kasuistiknya).

Dari perjalanan panjang diskusi ada empat hal menarik yang dapat dijadikan ibroh.

Pertama, negara berada dalam masalah. Kedua, negara butuh uluran tangan para warganya. Ketiga, negara dan warga bersama-sama menyelesaikan. Dan keempat, perlu kebersamaan dalam merajut nusantara menjadi negeri istimewa.

Poin keempat inilah yang butuh direnungkan. Bahwa FAA PPMI yang sudah berumur satu tahun ini patut memberikan kontribusi nyata dalam membangun Indonesia yang istimewa. Negeri yang membutuhkan segala kemajuan dengan melibatkan sebesar-besarnya potensi warganya.

Dan negeri istimewa ini akan terwujud melalui saluran informasi yang lancar. Lewat apa? Tentu lewat media. Dan itulah hebatnya FAA PPMI yang memiliki banyak potensi alumni dari lintas profesi.

Bergerak maju untuk negeri istimewa. Bravo PPMI.

 

1504089_10152354319274273_359430309_nM. Rikza Chamami – Alumni Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia (PPMI) dan Dosen UIN Walisongo

BERIKAN KOMENTAR

POPULER SEPEKAN

Tahun lalu 2015 adalah tahun pertama saya mulai rutin olah raga berlari. Sebeneranya memilih olah raga lari ini bukan keinginan sendiri,...

Membaca film Tilik dengan kacamata masyarakat urban atau perspektif gender belaka sangat tidak fair. Sebagai anak desa asal Pekalongan, film...

Sang Penari adalah film yang disutradarai oleh Ifa Isfansyah, dirilis pada 10 November 2011. Film berdurasi 111 menit ini terinspirasi...

Bergabungnya wilayah Irian Barat menjadi provinsi ke-26 Republik Indonesia pada tahun 1969 dengan dilaksanakannya PEPERA yang diikuti oleh seluruh wakil...

Perempuan selalu punya cara untuk melawan dan memperjuangkan haknya. Begitulah kira-kira kata yang ada di kepala saya saat menonton film...