Ada apa dengan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) saat ini? Sebagai orang yang melihat HMI dari luar pagar, saya seperti kehilangan wajah santun Anies Baswedan dan wajah teduh Nurcholis Madjid.  Dari luar pagar saya berdiri, hari ini saya seperti melihat bocah tua berumur 70 tahun yang banyak polah dan cari perhatian dengan merusak barang-barang di sekelilingnya.

Hari ini saya melihat wajah HMI melalui kalimat dari M. Alfan Alfian dalam artikelnya pada 6 Februari 2016 lalu di Republika  berjudul Refleksi 69 tahun HMI   “Ada “kekerasan”, kongres yang molor dan bertele-tele, serta tak terkendalinya penggembira. Mengapa kesannya HMI demikian “brutal”? Ada apa dengan HMI sekarang? Pertanyaan seperti ini menggelayuti kader-kader HMI dewasa ini. ” Mengapa potret negatif di atas nyaris selalu terulang? Beragam jawaban adanya, tetapi muaranya tetap kembali ke HMI sendiri.

Dan sekali lagi, saya semakin sulit menemukan wajah idealis Lafran Pane, pendiri HMI, kala melihat aksi brutal aktivis HMI pada Senin, 9 Mei 2016 lalu. Sekelompok aktivis HMI melakukan pengrusakan gedung Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam aksi merespon statemen Saut Situmorang. Sebelumnya, Saut melontarkan kalimat  “Mereka orang-orang cerdas ketika mahasiswa, kalau HMI minimal LK 1, tapi ketika menjadi pejabat mereka korup dan sangat jahat” . Akibatnya, para kader HMI aktif hingga korps alumninya berbondong menyerang Saut Situmorang.

HMI adalah organisasi besar. Ia punya modal sejarah dan kekuatan alumni yang luar biasa di negeri ini. Di hadapan HMI, seorang pribadi Saut Situmorang tentu bukan apa-apa. Saya lantas teringat sebuah perumpamaan lama “membunuh lalat dengan meriam”. Perumpamaan itu sepertinya cocok untuk menggambarkan apa yang dilakukan HMI saat ini. Di hadapan HMI, seorang Saut mungkin bisa diumpakan hanyalah seekor lalat yang kebetulan berada di sebuah rumah. Namun, untuk menepuk lalat itu, HMI menggunakan meriam yang ditembakkan ke rumah itu. Di kasus ini, rumah itu adalah KPK. Akibatnya bisa berbahaya, alih-alih mengusir lalat, meriam itu bisa meluluh lantahkan rumah tersebut.

Pertanyaanya, apa benar meriam itu di tembakan untuk membunuh lalat?  Atau jangan-jangan memang niatnya untuk menghancurkan rumah itu, lalat hanya jadi alasan? Hanya kader HMI dan para Kakanda yang tahu.

Saya tidak tahu apa yang ada di benak mereka dan buku apa yang mereka baca. Aliran ideologi apa yang mereka anut , sehingga membolehkan  mereka untuk merusak, berbuat kasar seenaknya ketika merasa kelompoknya di hina.  Saut memang salah karena telah terlalu mengeneralisir kader HMI melakukan korupsi. Dan selayaknya Saut meminta maaf kepada HMI. Tetapi kini, kala melihat gedung KPK yang berantakan dan penuh coret-coretan akibat ulah HMI, rasa simpati saya pada HMI ini langsung lenyap. Bagi saya ini sudah bukan lagi serangan untuk pribadi Saut, tapi ini adalah serangan untuk KPK

Yang melakukan kesalahan dan penghina adalah pribadi Saut Situmorang, bukan KPK, semestinya urusan HMI hanya kepada Saut, sekali lagi bukan KPK. Apakah HMI tidak sadar bahwa menghina institusi negara berarti menghina harga diri bangsa ini? KPK adalah simbol pemberantasan korupsi, merusak gedung KPK bisa berarti  telah mengibarkan bendera perang untuk melawan pemberantasan korupsi.

Saya bisa memahami perasaan marah HMI terhadap pernyataan Saut. Namun, alangkah eloknya bila pernyataan Saut itu ditanggapi dengan cara yang positif: menjadikan itu bahan evaluasi diri dalam penataan sistem pengkaderan yang lebih bagus dan antikorupsi. Sebab, pernyataan Saut tidak sepenuhnya salah, karena faktanya memang ada alumni HMI yang terjerat kasus korupsi. Dan ini tidak hanya terjadi di HMI, alumni organisasi mahasiswa lain juga memiliki persoalan yang sama dan butuh upaya bersama untuk mengatasinya.

Mari kita sedikit menengok ke belakang, ke peristiwa Kongres HMI di Pekanbaru pada tahun lalu, muka HMI masih penuh coreng-moreng. Kongres yang menggunakan dana APBD miliaran rupiah itu diwarnai kerusuhan, jalanan diblokir, seribu lebih kader memaksa naik kapal tanpa bayar, mereka juga sempat tidak mau bayar usai makan (hingga muncul sindiran bahwa HMI itu kepanjangan dari Habis Makan Ilang), ada puluhan kader yang membawa senjata tajam dan panah beracun, bahkan ada panitia Kongres yang ditusuk. Masih belum hilang rasa “trauma” masyarakat, kali ini HMI mengulangi arogansi dan kebrutalannya terhadap KPK. Mereka kembali merusak fasilitas umum. Seperti itukah wujud dari “insan cendekia” yang dicita-citakan HMI? Bila benar, sungguh gelap masa depan bangsa ini.

Begitu banyak persoalan kerakyatan yang dihadapi bangsa kita. Alangkah baiknya bila HMI menggunakan energi dan kekuatannya yang luar biasa itu untuk membantu menyelesaikannya. Namun justru dalam hal positif itu saya jarang menemukan keberadaan HMI.

Meraba jauh saya mencari wajah teduh Nurcholis Madjid dalam aksi-aksi HMI saat ini, dan saya gagal menemukannya. Begitupun saya gagal menemukan wajah HMI dalam tenda tenda pengungsi syiah, di tempat pengungsian warga yang gerejanya dibakar, atau di tenda para pejuang Kendeng Utara menolak pabrik semen. Justru di aksi-aksi arogan dan merusak wajah-wajah HMI saya temukan. HMI kini seolah tenggelam dalam keangkuhan rasa sebagai organisasi mahasiswa terbesar di negeri ini. Dan rasa besar itu mereka maknai sebagai paling benar dan boleh berbuat semaunya.

Lebih jauh lagi saya mencoba meraba wajah santun Anies Baswedan yang mencerdaskan Indonesia dengan gerakan indonesia mengajarnya dalam aksi-aksi HMI. Dan saya kembali gagal. Saya hanya menemukan sikap diam dalam beragam aksi intoleran.

Berbicara tentang meminta maaf. Saut sudah meminta maaf kepada HMI. Kini saatnya HMI yang meminta maaf, meminta maaf kepada KPK, kepada Negara, dan kepada rakyat Indonesia.

Tentang penulis:
Jatayu M. Jurnalis. Alumni pers mahasiswa Jawa Timur

BERIKAN KOMENTAR