Nasionalisme, Mentalitas Baru, dan Indonesia Masa Depan (2)

390

Nasionalisme rasional

Bagaimana menempatkan nasionalisme di tengah ingar-bingar globalisasi dan lokalisasi? Kita harus pandai-pandai mengatur kadar nasionalisme yang diperlukan di tengah kompleksnya persoalan (dari ketidakadilan hingga kemiskinan). Pertama, dalam kondisi yang “porak-poranda”, krisis ekonomi yang masih amat terasakan, terlunta-luntanya anak-bangsa yang bekerja di negeri orang, hingga fisik yang hancur seperti di Aceh dan Nias, maka kadar pragmatisme dapat dipahami kalau lebih diperbesar. Terpaksa kita, sebagai bangsa, harus pragmatis untuk saat ini. Bukan pragmatis seratus persen, tetapi dalam takaran yang proporsional. Tujuannya untuk menata kembali keterpurukan kita.

Kedua, kadar emosionalitas harus direndahkan, rasionalitas ditinggikan. Bangsa bukan lagi merupakan komunitas yang dibayangkan, tetapi diatasi. Artinya, setiap komponen bangsa harus bekerja keras untuk menaikkan taraf hidup dan kesejahteraan mereka. Nasionalisme rasional tingkatannya sudah melebihi nasionalisme membayangkan (beyond imagine community). Ketiga, nasionalisme kita ke depan adalah tepat bersikap di tengah arus global, dan pandai mengelola urusan lokalitas. Dunia tengah mencari variasi keseimbangan baru, setelah tidak ada lagi “dua karang”.

Kita sekarang tengah mendayung di antara satu karang, dan ombak yang besar, yang hampir menyebabkan kita sebagai bangsa tenggelam. Kita sekarang juga tengah mendesain tata-politik (demokrasi) lokal, yang sesungguhnya seperti akrobat, mengingat implementasi demokrasi pluralis muncul di sini. Nasionalisme kini dan kelak sesungguhnya merupakan seni mengelola bangsa. Indonesia baru adalah Indonesia yang mampu menghadapi, atau tepatnya menyiasati ketegangan-ketegangan yang ada di atas secara elegan dan bermartabat.

 

Menuju kebangkitan?

Mungkin sejarah masa depan Indonesia harus bermula dari apa yang sekarang banyak dilontarkan para pakar: kebangkrutan nasional. Dalam buku Asia Future Shock (2008) Michael Backman, mencatat perekonomian indonesia sudah berkurang arti pentingnya, bila dibandingkan dengan perekonomian-perekonomian lainnya di dunia, dan kemungkinan akan semakin tidak penting lagi. Singkat kata, ekonomi kita tengah terpuruk dan akan lebih terpuruk lagi. Ini satu persoalan.

Persoalan lain adalah kekhawatiran kita akan memudarnya keunikan bangsa. Tidak ada satu bangsa pun di dunia yang seberagam Indonesia, baik dari segi bahasa, kultur maupun etnisitasnya. Mereka diikat oleh nasionalisme, sesuatu yang abstrak namun mengagumkan itu. Indonesia merupakan suatu konsepsi kebangsaan yang modern pasca-kolonial. Karena terpaan krisis ekonomi yang kelihatannya akan semakin parah, kita khawatir ikatan nasionalisme itu memudar. Tetapi, apakah nasionalisme yang telah terbangun sepanjang satu abad, terhitung sejak Boedi Oetomo (watak yang mulia) ini, akhirnya akan memudar hanya karena keterpurukan ekonomi? Apakah bangsa kita telah begitu pragmatisnya?

Idealisme telah menyatukan berbagai keunikan kebangsaan kita: menjadi Indonesia. Itulah pelajaran utama Kebangkitan Nasional. Tidak ada satu bangsa pun di dunia yang tidak kagum atas kebersatuan Indonesia pasca-kolonial. Pilihan nama Indonesia itu sendiri mencerminkan bahwa kita hendak menjadi bangsa yang modern. Puncak Kebangkitan Nasional itu kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945. Setelah kemerdekaan, justru tatkala nasib bangsa ditentukan dan diurus sendiri oleh kaum pribumi, sebuah istilah yang dipakai untuk membedakan dengan kaum penjajah, maka hingga sekarang, masih tersisa pertanyaan yang ironis: di mana letak kebangkitan itu?

Sejarah politik dan ekonomi kita, khususnya sejak kemerdekaan telah mengalami pasang naik dan pasang surut. Suatu masa, tatkala Orde Baru hadir, tingkat pertumbuhan ekonomi nasional tinggi. Itu terjadi setelah temperatur perpolitikan nasional diatur sedemikian rupa, agar stabilitas terjaga. Tapi prestasi ekonomi itu tidak berlanjut. Orde Baru justru menuai kritik, yang sayang oleh pengkritiknya, “semua dianggap jelek dan salah”. Ujung dari kisah kesuksesan ekonomi Orde Baru sangat menyedihkan, yakni ketika globalisasi, tepatnya liberalisasi telah mengepung sedemikian rupa, membuat bangsa ini tidak bisa melindungi diri dan tidak berdaya. Kita belum siap menjadi “pendekar tangan kosong” ketika serbuan itu tiba.

 

Mencegah penuaan

Menurut Ibnu Khaldun, sebuah peradaban, tepatnya sebuah bangsa akan mengalami masa-masa pertumbuhan, konsolidasi, puncak keemasan, pembusukan dan kemudian keruntuhan (A.Rahman Zainuddin, 1992). Sejak berabad-abad lampau hingga kini, kisah jatuh bangunnya peradaban umat manusia telah tercatat dalam sejarah, mestinya untuk dijadikan bahan pelajaran berharga. Ketika kita berhasil membentuk bangsa, maka kita juga tengah membangun suatu peradaban. Pada fase manakah kini kita berada? Mungkin, sudah mulai masuk pada fase pembusukan (decay), tetapi belum pada keruntuhan.

Kalaulah kita ambil siklus peradaban ala Ibnu Khaldun di atas, maka jangan sampai kita cepat tua dan keropos dan akhirnya “wafat sebelum waktunya”. Bangsa ini harus awet muda. Memudakan kembali Indonesia adalah kewajiban kita: kalau bangsa ini tidak mau terpuruk lebih dalam dan mempercepat kematiannya. Sel-sel yang menyusun struktur dan kultur ke-Indonesia-an kita yang aus dan rusak, mutlak perlu segera digantikan oleh yang muda dan bagus, sehingga Indonesia menjadi bangsa yang segar kembali atau mengalami proses rejuvenasi.

Memudakan Indonesia kita berarti mengoptimalkan pemberdayaan segenap potensi yang ada, di seganap bidang, dilandasi dengan semangat dankomitmen yang tingi atas perwujudan kepentingan nasional (national interest) kita sebagai bangsa. Mungkin sekarang, setelah sebad Kebangkitan Nasioal ini kita masih tertidur, karena sangat kelelahan akibat dinamika perjalanan bangsa yang memang melelahkan dan bahkan menjengkelkan. Orang asing melihat kita sebagai raksasa yang masih terlelap tidur. Sebagai, meminjam Al Ghazali, “yang tidak tahu bahwa dirinya sebenarnya tahu”, maka perlu hentakan besar dan keras untuk membangunkannya. Agar burung garuda tetap menjadi burung garuda yang perkasa, bukan, seperti kata Emha Ainun Nadjib, burung emprit, burung-burung kecil di sawah-sawah.

 

Bergerak cepat

Kita bergerak dengan waktu. Situasinya sudah sangat gawat. Diperlukan akselerasi untuk mencegah proses penuaan atas peradaban kita: Indonesia. Barangkali nasihat Steven Covey perlu dicamkan. Kita harus perbaiki semuanya melalui membangun kembali trust, kepercayaan dan amanat. Bahkan demokrasi kita tidak akan berarti apa-apa kalau tidak ada trust. Dan pada saat ini kita tengah diambang situasi, meminjam Francis Fukuyama, zero trust society.

Menurut Covey lima gelombang kepercayaan (trust): percaya pada diri sendiri (self trust); relationship trust (dipercaya orang lain atau relasi relasi kita); baru organizational trust; market trust; dan social trust. Agar kita punya trust yang tinggi, maka harus pandai-pandai mengasah diri. Apakabar dengan kualitas sumberdaya manusia kita? Bagaimana dengan integritas, kapasitas, kapabilitas, intelektualitas, kepekaan, hingga komitmen kita untuk dapat dipercaya, bahkan oleh diri kita sendiri. Kita harus bergerak cepat.

Potensi sumberdaya manusia Indonesia harus dimanifestasikan. Sistem harus diperbaiki. Mentalitas harus diubah. Para pendekar alias para ahli di berbagai bidang yang enggan pulang ke tanah air, setelah sekolah dan bekerja di luar negeri dengan sangat kerasan, harus dikondisikan untuk segera pulang membangun negerinya. Hal ini penting mengingat negeri ini butuh para ahli yang mampu mengolah segala potensi sumberdaya (alam) yang ada.

Persoalannya, barangkali kita kerap bingung: darimana memulainya? Saya kira yang terpenting dan mendasar adalah rasa kebangsaan itu sendiri. Wapres Jusuf Kalla kerap menegaskan agar kita tidak hanya pandai mengolok-olok kelemahan bangsa sendiri. Dari sisi negatif apa yang dikatakan Jusuf Kalla benar. Kita khawatir hanya terjebak untuk meratapi nasib bangsa, tetapi lambat dalam merespons pelbagai persoalan, sehingga kita tetap terus ketinggalan.

Tetapi, dalam kadar tertentu, olok-olok itu perlu. Justru untuk memotivasi diri. Olok-olok yang dimaksud adalah mengoreksi diri sendiri: apa kelemahan kita, dan mengapa itu bisa terjadi. Biasanya olok-olok itu merupakan upaya seseorang untuk mengidentifikasi kontradiksi-kontradiksi dan anomali-anomali yang ada. Ketika Pujangga Keraton Solo Ronggowarsito mendedahkan zaman edan, maka boleh jadi ia tengah melakukan olok-olok terhadap bangsanya sendiri. Tetapi, olok-olok yang pedas itu untuk mengingatkan bangsanya: untuk tetap punya harga diri dan martabat.

Kita harus bergerak dari menyadarkan diri sendiri, ke inovasi. Ada yang mencoba membandingkan, ketika Ronggowarsito menulis bait-bait tembang penuh nasihat, di Inggris James Watt telah bergerak cepat mempelopori Revolusi Industri, dengan penemuan mesin uapnya. Bagi kita sekarang, Ronggowarsito perlu, karena tanpa kekuatan mentalitas dan kebudayaan, kita tidak dapat mengelola perubahan dengan bijak. Tetapi, untuk mengejar ketinggalan di bidang ekonomi kita perlu inovasi, sebagaimana tatkala James Watt menemukan mesin uap.

 

Memacu inovasi

Dengan kecepatan trust, maka cepat pula langkah inovasi kita sebagai bangsa. Nasihat Pujangga Ronggowarsito patut dicamkam, agar tidak menjadi gila di tengah zaman yang gila, the time of madness, zaman edan. Orang-orang yang dituakan, tentu merupakan sumber moral dan sumber referensi bagi yang muda. Maka, jangan lah gerontokrasi merajai –baik secara fisik maupun non-fisik. Kita perlu energi muda, justru untuk memudakan Indonesia kita.

Tidak ada jalan lain kecuali paradigma, struktur, infrastruktur, kultur yang mandeg, harus diubah. Kegilaan zaman harus diakhiri dengan logika dan kinerja. Kita harus bergerak cepat, karena kita telah tertiggal sangat jauh. Butuh lompatan kuantum (quantum leap), dan itulah tugas kita sekarang, khususnya anak-anak muda ini, tidak kalah berat dibanding para pendahulu. Sejarah kami adalah sejarah masa depan. Seungguh berat merealisasikan kata-kata, tetapi memang itulah perjuangan. Bukankah perjuangan, kata Penyair Rendra ialah upaya “pelaksanaan kata-kata”?

Inovasi memacu produktivitas, tidak sekedar hanya eksis di zaman yang terus menuntut respons kreatif, tetapi bangsa ini harus tetap survive. Survivalitas sebuah bangsa tentu sangat terkait dengan seberapa kuat daya ikat kebangsaannya. Kepemimpinan yang kuat (strong leadership) sangat diperlukan. Bukan kepemimpinan otoritarian, tetapi kuat berarti mampu memanifestasikan fungsi-fungsi kepemimpinan dengan efektif. Karena pemimpin adalah penggerak perubahan, pendorong tumbuhnya kreativitas dan inovasi.

Inovasi butuh rasionalitas, bukan mitos-mitos. Sudah selayaknya mitos-mitos disingkirkan. Pancasila harus dikaji kembali, secara demitologisasi, tetapi dalam bingkai rasional-kalkulatif dalam mewujudkan cita-citanya. Selebihnya kita harus bergerak secara cepat. Mari kita singsingkan lengan baju, cancut tali wandha untuk ber-bharata yudha, mengakhiri kegilaan zaman, mencegah penuaan dan kekeroposan, memudakan kembali Indonesia! Tetapi, kita sadar kata-kata mudah diucapkan, yang susah mempraktikkannya. Tetapi kata-kata yang positif diharapkan mampu menjadi energi yang positif. Bangsa dalam pengertian Ernest Renan adalah sebuah solidaritas besar yeng menjembatani beragam perbedaan primordial, atau dalam pendapat Bennedict Anderson, the imagine community alias komunitas yang dibayangkan. Dalam hal yang terakhir ini , segenap komponen penyokong berdiri dan berjalannya suatu bangsa, adalah komunitas yang senantiasa diikat dalam bayangan kebangsaan. Dibutuhkan energi besar untuk membayangkan. Jangan sampai bayangan itu hilang dan setiap komponen bangsa kehilangan orientasi. Diterpa ujian bertubi-tubi, bagaimana dengan Indonesia? Akankah ke depan Indonesia memasuki fase-fase tersulitnya, untuk kemudian menjadi bangsa yang besar? Wallahua’lam. []

BERIKAN KOMENTAR

POPULER SEPEKAN

Membincang Raden Ajeng Kartini (selanjutnya disebut Kartini) selalu menarik dan tidak akan habis dibahas dari sisi apapun. Itulah seorang Kartini...

Sembilan perempuan memukul lesung, bertalu-talu menggemakan sebuah pertanda. Pak Presiden, tidakkah kau dengar tanda bencana bertalu di depan istanamu? Sembilan...

Setiap tanggal 1 Juni, ingatan kita terlintas visual seekor burung garuda bernama Garuda Pancasila, mengenakan perisai di dada yang berisi...

Tahun lalu 2015 adalah tahun pertama saya mulai rutin olah raga berlari. Sebeneranya memilih olah raga lari ini bukan keinginan sendiri,...

Perempuan selalu punya cara untuk melawan dan memperjuangkan haknya. Begitulah kira-kira kata yang ada di kepala saya saat menonton film...