Ngawiku, Ngawimu, Ngawi Kita

350
Benteng Pendem di Ngawi

Jika sekilas berbincang tentang Karesidenan Madiun, maka yang muncul dalam kepala kita hanya wilayah Madiun dan Ponorogo. Padahal wilayah yang tercakup dalam kawasan berplat nomor polisi AE itu tak hanya dua kabupaten tersebut, tapi juga Magetan, Pacitan dan Ngawi.

Magetan cukup dikenal, dengan adanya Telaga Sarangan. Sedang Pacitan diketahui banyak orang sebagai tempat kelahiran presiden keenam Susilo Bambang Yudhoyono.

Lalu Ngawi? Kabupaten yang seharusnya terkenal ini seolah lebih tak punya nama ketimbang kabupaten lainnya di Karesidenan Madiun. Padahal Ngawi yang secara geografis berbatasan langsung dengan Sragen, Jawa Tengah, merupakan pintu masuk pertama ke Jawa Timur dari sisi barat.

Herannya, Presiden Jokowi selalu menyempatkan berkunjung ke Ngawi. Dalam kurun waktu setahun ini, setidaknya telah tiga kali orang nomor satu ini menginjakan kaki ke Tanah Ngawi.

Tentu ini bukan tanpa alasan. Jokowi ke Ngawi untuk meninjau langsung proses pembangunan jalan, berikut pembangunan jalan tol Solo-Ngawi-Kertosono. Dengan adanya tol tersebut, diprediksikan sektor perekonomian di Ngawi akan meningkat.

Alasannya, pertama, Ngawi merupakan jalur utama transportasi antara Surabaya-Yogjakarta, Cepu, Bojonegoro-Madiun, serta gerbang utama Jawa Timur dari jalur selatan.

Beberapa kali saya membaca surat kabar lokal yang memberitakan bahwa sektor perekonomian di Ngawi dan sekitarnya mulai menggeliat. Sejumlah investor mulai merapat dan sebagian mengatakan siap membangun hotel berbintang.

Salah satu hotel yang bakal meramaikan Ngawi yakni Hotel Golden Tulip. Investasi Rp 150 miliar digelontorkan untuk pembangunan hotel ini. Dampak lainnya, peluang kerja akan terbuka lebar.

Kedua, dengan pembangunan jalan tol ini, sektor pariwisata akan menggeliat. Akan banyak wisatawan berkunjung ke Ngawi, terutama di akhir pekan. Perkebunan teh jamus, teh khas Ngawi, juga akan kondang seperti kebun teh milik Kabupaten Karanganyar.

Dengan pembangunan infrastruktur yang massif ini, harapannya pemerintah tetap memperhatikan nasib warganya. Apalagi 2017 jadi tahun kunjungan wisata ke Ngawi dengan program Ngawi Visit Years 2017. Momentum ini diharapkan jadi ajang penjajakan, tak hanya oleh wisatawan tapi juga investor luar daerah.

Lebih dari itu, harapan jangka panjangnya, warga Karesidenan Madiun akan bangga memiliki Ngawi.

Lalu, di mana kamu akan menghabiskan akhir pekanmu, wahai warga Karesidenan Madiun dan warga Jawa Timur pada umumnya? Menikmati senja dengan ngeteh di Jamus bisa jadi pilihan menarik. Ngawiku, Ngawimu dan Ngawi Kita menggeliat secara ekonomi.

 

 

Penulis: Pramita Kusuma Ningrum

Warga Ngawi dan alumni LPM Kinday, Universitas Lambung Mangkurat, Kalimantan Selatan
Mita

BERIKAN KOMENTAR

POPULER SEPEKAN

Membincang Raden Ajeng Kartini (selanjutnya disebut Kartini) selalu menarik dan tidak akan habis dibahas dari sisi apapun. Itulah seorang Kartini...

Sembilan perempuan memukul lesung, bertalu-talu menggemakan sebuah pertanda. Pak Presiden, tidakkah kau dengar tanda bencana bertalu di depan istanamu? Sembilan...

Setiap tanggal 1 Juni, ingatan kita terlintas visual seekor burung garuda bernama Garuda Pancasila, mengenakan perisai di dada yang berisi...

Perempuan selalu punya cara untuk melawan dan memperjuangkan haknya. Begitulah kira-kira kata yang ada di kepala saya saat menonton film...

Mbah Sholeh Darat membuat Kitab Tafsir Faidlur Rahman untuk R.A Kartini. Memenuhi hasrat Kartini untuk lebih memahami Islam. --- Kisah tentang bagaimana...