Nia Dinata, Usmar Ismail, dan Film (Ini Kisah) Tiga Dara

613

Berbicara tentang Nia Dinata, pasti akan terbersit nama seorang sutradara dan produser kenamaan Indonesia, yang karya-karyanya tidak jauh dari isu perempuan, kesetaraan gender, dan pergesekan antarkarakter dalam film. Sebutlah Ca Bau Kan, yang mengisahkan perempuan yang memperjuangkan suami dan keluarganya. Pun karyanya yang lain, seperti omnibus Perempuan Punya Cerita, serta Berbagi Suami. Ya, isu tentang perempuan dan kesetaraan gender memang masih saja menarik untuk dibahas di negeri ini. Nia mampu menangkap fenomena tersebut untuk kemudian dituangkan menjadi ide segar dan menggiurkan dalam bentuk film.

Hingga beberapa bulan lalu, saya mendapat kabar bahwa Nia rampung menggarap sebuah film yang diangkat dari Tiga Dara, film klasik Bapak Perfilman Indonesia, Usmar Ismail. Terbersit sebuah tanya dalam benak saya, “Mau diapain lagi sih film Tiga Dara itu oleh Nia?”

Pertanyaan saya terjawab ketika beberapa hari lalu, saya mendapatkan undangan untuk menghadiri nonton bareng film Ini Kisah Tiga Dara (selanjutnya disebut IKTD) karya Nia Dinata tersebut, sekaligus menghadiri Meet & Greet bersama Cast dan Crew-nya, oleh sebuah stasiun radio di Yogyakarta.

Sedikit saya ingin membahas mengenai film Tiga Dara (selanjutnya disebut TD) karya Usmar Ismail itu. Enam puluh tahun lalu, Usmar membuat sebuah project ambisius, yaitu film musikal, genre yang jarang disentuh sineas manapun di tanah air. Apalagi saat itu, kondisi keuangan Perfini –rumah produksi yang menangani karya Usmar- sedang sekarat, karena karya sebelumnya Lagi-Lagi Krisis dan Tamu Agung (keduanya beredar pada tahun 1955), gagal di pasaran. Alih-alih bertaruh dengan kualitas pribadinya selaku sutradara handal, Usmar justru ingin menghasilkan sebuah karya berbeda yang belum pernah dia hasilkan sebelumnya. Dia menginginkan agar film Indonesia dapat diterima di negeri sendiri, mengingat saat itu film-film Hollywood mendominasi layar bioskop Indonesia. Pada masa itu, film musikal paling banyak dihasilkan oleh sineas dari India dan Mesir, dan hampir semuanya meledak di pasaran, termasuk di Indonesia. Nah, Usmar ingin menghasilkan karya yang bisa sukses ditonton banyak orang, untuk menyehatkan kembali kondisi Perfini yang tengah lesu. Kemudian disusunlah karya Tiga Dara. Karya ini sukses luar biasa, dari segi komersial yang meraih penonton terbanyak untuk Perfini, dan juga dari sisi kualitas. Film ini ditampilkan pada berbagai festival film internasional dan juga memenangkan penghargaan Tata Musik Terbaik pada Festival Film Indonesia (FFI) tahun 1960. Dan ide dasar TD adalah membahas tentang perempuan.

Ya, Nia Dinata dan Usmar Ismail membawa misi sama pada karya mereka, tentang perempuan. Perempuan-perempuan dalam TD digambarkan Usmar mempunyai masalah klasik saat itu, perjodohan agar tidak telat menikah. Untuk dekade ‘50an, usia 29 menjelang 30 bagi perempuan lajang adalah kondisi berbahaya, dan itu tergambar melalui tokoh Nunung (Chitra Dewi, berwajah ayu khas Indonesia, aslinya baru berusia 22 tahun) yang pendiam, pemalu, berbakat dalam musik, dan selalu berkebaya di sepanjang film. Nunung mempunyai dua orang adik perempuan, yang tak kalah jelita dengannya. Nana (diperankan gadis berusia 16 tahun, Mieke Wijaya), dan Nenny (debut aktris remaja berusia 14 tahun, Indriati Iskak), keduanya berwajah blasteran, dan menggunakan dress modern ala Barat. Ketiganya inilah yang disebut Tiga Dara, tokoh sentral dalam TD. Ketiganya, selepas ibu mereka meninggal, hidup bersama sang nenek (Fifi Young) yang energetik, berperan sebagai moral-guard, dan ayah mereka yang workaholic bernama Sukandar (Hassan Sanusi). Kemudian muncul tokoh prince charming Toto (Rendra Karno), yang memporak-porandakan dunia Nunung dan Nana. Nana, yang ambisius dan kompetitif, rela meninggalkan kekasihnya, Herman (Bambang Irawan) demi mendapatkan cinta Toto. Perpecahan antara Nunung dan Nana terjadi karena memperebutkan Toto. Friksi dalam TD diakhiri dengan cantik, happy ending khas cerita dari negeri dongeng, berkat peran Nenny dan Sukandar. Sungguh akhir yang begitu manis dan mengesankan.

Nia mengangkat kisah TD dalam balutan dunia modern 2016, dengan memindahkan settingnya dari Jakarta yang sumpek dan metropolis, menuju dunia Maumere, sebuah pantai nan teramat indah di Flores, dan memodifikasi judulnya dengan menambahkan frasa “Ini Kisah”. Namun Nia –dan sahabatnya Melissa Karim selaku co-producer- menyatakan bahwa IKTD ini sama sekali bukan remake, melainkan sebuah karya yang benar-benar baru yang terinspirasi oleh kisah TD, yang telah dianggap oleh kritikus film sebagai masterpiece dan cult dari seorang Usmar Ismail. Nama-nama tokoh pun diubah. Nunung bereinkarnasi menjadi Gendhis (Shanty Paredes), Nana menjadi Ella (Tara Basro), kemudian Nenny bertransformasi menjadi gadis keriwil bernama Bebe (pendatang baru Tatyana Akman). Peran nenek dipercayakan kepada Titiek Puspa yang disebut Oma, dan tokoh ayah bernama Krisna kepada Ray Sahetapy. Untuk dua tokoh pria, muncul nama Rio Dewanto untuk Yudha -yang menggantikan Toto-, dan Reuben Elishama pada Bima untuk memunculkan kehadiran Herman. Kemudian muncul tokoh baru, seorang turis pria bule, yang kemunculannya tidak terlalu penting sebenarnya, kecuali hanya untuk menampilkan adegan dewasa, yaitu Erick yang diperankan oleh Richard Kyle.

Setting IKTD mengambil lokasi di sebuah butik hotel milik Krisna, di salah satu sudut di Maumere. Tiga dara versi 2016 merupakan gadis-gadis muda yang membantu ayahnya mengelola hotel tersebut. Gendhis bekerja sebagai chef, Ella berprofesi sebagai Public Relation, dan Bebe –remaja berusia 19 tahun tengah mencari jati diri dan tak segan mengaktualisasikan ego pribadinya dalam pergaulan seksual antar manusia dewasa- berperan membantu kedua kakaknya tersebut, sambil sesekali menjadi relawan pengajar di sekolah lokal.

Secara plot, Nia dan Lucky Kuswandi meracik naskah IKTD tidak melenceng terlalu jauh dari plot TD yang disusun Usmar. Masih mengangkat tentang kegalauan sang nenek melihat cucu sulungnya, Gendhis yang belum juga menikah pada usia 32. Sang nenek pun melarang kedua adik Gendhis, untuk tidak ‘melangkahi’ Gendhis. Yudha, masih sama seperti Toto, bertugas untuk memecah-belah persaudaraan Gendhis dan Ella, sembari membuat keduanya jatuh cinta. Sementara Bima menjadi tokoh yang diabaikan oleh Ella, sama seperti Herman oleh Nana. Sayangnya, Nia abai pada beberapa scene, yang seharusnya bisa berpotensi menimbulkan gesekan lebih dalam dan kuat. Contohnya saat Oma memergoki Bebe berciuman mesra dan panas dengan Erick di lorong kamar. Atau pun saat Ella memberontak kepada Oma, Krisna dan Gendhis, ketika tahu bahwa Yudha akan melamar Gendhis, bukan dia. Friksi ini hanya diakhiri dengan sebuah ciuman berdurasi pendek antara Ella dan Bima, kemudian kelar, seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Padahal pada TD, konflik antara Nunung versus Nana, yang melibatkan Toto, membuat Nunung harus pergi menenangkan diri di rumah pamannya di Bandung. Hal ini menjadi sebuah lubang menganga yang tidak berhasil ditutup oleh Nia.

Pada akhir cerita IKTD, muncul twist yang mengakhiri semua konflik, dua buah sekaligus. Mengejutkan? Tidak juga, karena kepingan puzzle-nya sudah tercecer sedari awal. Pastinya semua tokoh berbahagia. Sang nenek bahagia -walau harus berkompromi dengan keadaan-, ayah bahagia, tiga dara pun bahagia. Hampir sama seperti pada TD yang berakhir bahagia dengan twist yang juga sudah tertebak sebenarnya. TD menampilkan sebuah akhir cerita sederhana, yang tadinya dibuat sebegitu kompleks, namun Usmar berhasil meramu dengan baik dan jenaka, namun tetap penuh makna.

Dalam departement akting, semua tokoh utama dalam IKTD menampilkan performa terbaiknya. Shanty Paredes, yang telah vakum berlakon selama beberapa tahun, tetap memukau. Terutama saat Gendhis bertengkar dengan Yudha, kemudian saat adegan berbaikan lagi di kedai kopi di pinggir pelabuhan. Walaupun kita pernah menyaksikan akting Tara Basro di film lain secara lebih baik –yang membuatnya memenangkan Piala Citra-, dalam IKTD, tokoh Ella tetap berhasil membuat mata penonton terpikat. Tak salah jika Tara disebut sebagai salah satu aktris muda berkualitas yang dimiliki Indonesia saat ini. Tatyana Akman pun mampu menampilkan kemampuan akting menjanjikan, mengingat di film sebelumnya dia hanya tampil sekilas. Semoga di film-film berikutnya, kemampuan Tatyana akan semakin berkilau. Titiek Puspa masih tetap menampilkan typical nenek energetik, khas penampilannya terdahulu, walaupun kabarnya dia harus menahan sakit saat pengambilan gambar film ini. Rio Dewanto menampilkan dinamika emosi yang pas dengan karakternya. Tidak kurang, dan tidak lebih. Walau sayangnya, Nia kurang menggali karakter Krisna, sehingga kualitas akting Ray Sahetapy menjadi kurang maksimal. Reuben Elishama? Saya melihat Reuben di IKTD sama seperti melihat versi dewasa Al Ghazali, yang begitu datar, terlalu dingin, dan nyaris tanpa ekspresi, walaupun sebenarnya Reuben bisa menampilkan performa terbaiknya. Mengenai akting Richard Kyle, oh come on….untuk aktor berwajah blasteran seperti dia, cukup dengan senyam-senyum pun sudah lolos casting, toh memang penokohan Erick ya hanya sekadar senyam-senyum, ciuman, sudah dech “it’s a wrap!” Betapa beruntungnya Richard.

Dalam TD, Usmar menampilkan wajah-wajah khas Indonesia yang menawan melalui Chitra, Rendra, dan Bambang, walau sayangnya untuk Mieke dan Indriati terlalu kelihatan bahwa mereka adalah warga keturunan. Mieke yang mirip keturunan Timur Tengah, dan Indriati yang bermuka gabungan Melayu-Eropa. Dan semua aktor dan aktris TD menampilkan performa terbaiknya. Nyaris tanpa cela. Sehingga akting mereka dalam TD menjadi begitu sukar dilupakan hingga kini 60 tahun berselang. Tentang pemilihan peran pada IKTD, saya sudah berbahagia ketika tahu bahwa Nia akan menampilkan ketiga dara nan jelita dengan wajah asli Indonesia, lengkap dengan kulit sawo matang mulus berkilauan. Shanty, Tara, dan Tatyana, ketiganya berwajah Indonesia asli. Namun saya kecewa ketika Nia menjatuhkan pilihan pada tiga pria berwajah keturunan. Rio yang mirip warga keturunan Tionghoa, Reuben dan Richard yang bule. Oh…Nia, kenapa kau tak mengcasting saya saja untuk tokoh Yudha atau Bima?

Jika ingin membandingkan, di sepanjang durasi, TD dipenuhi lagu-lagu yang masih melekat dalam ingatan saya, sampai saat ini. Walaupun saat itu, saya menyaksikan TD saat masih berseragam merah-putih pada paruh akhir dekade 90an, ketika diputar di TVRI dalam rangka Hari Perfilman Nasional. Lagu paling saya ingat adalah Tamasja, ketika Herman mengajak Tiga Dara bertamasya di taman bunga. Tentu saya ingat, karena ketika tokoh Herman bernyanyi, dia dikelilingi sejumlah figuran pria dan wanita berpakaian renang. Dalam benak saya saat itu “Come on, ini film tahun 50an, dan sudah ada swimsuit yang begitu terbuka? Hebat sekali.” Iya, dekade 50an, dimana kedua orangtua saya masih balita, Usmar sudah menampilkan adegan pakaian renang. Walau akhirnya saya tahu bahwa dalam Harimau Tjampa (produksi Perfini juga) sudah menampilkan adegan jauh lebih panas dan kontroversial daripada sekadar pakaian renang di taman bunga. Lagu Tiga Dara -dimana ketiga dara bernyanyi bersama- dan Senandung Lagu Lama –yang menampilkan kegelisahan Nunung- juga merupakan soundtrack TD paling sering saya putar di Youtube. Kedua lagu terakhir memang menjadi lagu paling terkenal dari film TD.

Lalu bagaimana dengan lagu-lagu pada IKTD? Bagi saya, semua lagunya bagus. Karena aransemennya ditata begitu apik, khas orkestra, walau liriknya susah dicerna. Sejak opening credit, lagu dan tari sudah ditampilkan. Namun yang melekat dalam ingatan saya hanya score Tiga Dara yang dinyanyikan sebagai lagu penutup dan Senandung Lagu Lama, dinyanyikan langsung oleh Shanty Paredes dengan menampilkan keindahan panorama Maumere. Kedua lagu itu merupakan reka ulang soundtrack pendahulunya. Nyanyian yang disenandungkan saat tiga dara berbelanja di Pasar Geliting itu juga manis sebenarnya, namun saya hampir tidak dapat mengingat liriknya yang sukar. Selayaknya film musikal atau pertunjukan opera di belahan bumi manapun, dimana lagu dijadikan sebagai dialog, Nia menggarap lirik agak dipaksakan. Nia memang harus belajar banyak dalam hal ini.

Secara teknis, Nia berhasil mentransfer idenya kepada Yudhi Datau selaku Director of Photography, yang diterjemahkan ke dalam bahasa gambar yang sangat apik. Cantik. Maumere direkam dengan betul-betul indah. Tidak hanya pemandangan alamnya saja yang berhasil dipamerkan oleh Yudhi, bahkan untuk proses memasak makanan tradisional, budaya tari, kain tenun, dan bahkan sekadar transaksi belanja di pasar lokal Maumere pun, ditampilkan dengan indahnya oleh kamera Yudhi. Tangkapan kamera nan mempesona inilah yang menyelamatkan lubang yang luput digarap oleh Nia.

Saat saya mengetahui bahwa rating IKTD adalah 21+, yang kemudian pada akhirnya diperluas jangakauan umur penontonnya menjadi 17+, membuat saya penasaran pada pengadeganan, dialog, dan editing yang akan ditampilkan. Tentunya, untuk sebuah film drama, rating 17+ pastinya adalah tentang ciuman dan adegan seks. Bukan tentang adegan sadis penuh darah seperti pada film laga, ataupun dialog dan visualisasi tak masuk akal seperti pada film horror atau thriller. Memang IKTD menampilkan begitu banyak adegan ciuman, bahkan berani menampilkan adegan ranjang. Ciuman panas dilakukan oleh Bebe dan Erick hingga tiga kali, bahkan ada yang dilakukan di tempat umum, dengan durasi cukup panjang yang mampu membuat saya menelan ludah. Ella dan Bima juga berciuman, dengan durasi lebih pendek, itu pun dilakukan di tempat sepi, dan cuma sekali. Gendhis dan Yudha? Mereka digambarkan sebagai tokoh pemalu, bahkan untuk memulai ciuman pun mereka sudah salah tingkah. Pastinya karena pertimbangan bahwa Ella dan Gendhis memang jauh lebih mature daripada Bebe yang memang adult. Dewasa secara pemikiran untuk Ella dan Gendhis, pun dewasa secara seksualitas untuk Bebe. Yup, dewasa secara adult memang ditampilkan oleh tokoh Bebe dan –siapa lagi kalau bukan- Erick. Tenang saja, adegan ranjang mereka berdua tak sampai lima detik kok, dan itu pun tidak terlalu vulgar. Hanya saja adegan ranjang tersebut sudah cukup berbicara untuk menampilkan kepingan puzzle film ini.

Membahas tentang cameo, saya selalu saja merasa antusias menunggu “siapa lagi nih yang akan dihadirkan oleh Nia”. Setelah kemunculan sutradara Joko Anwar, aktris Cut Mini, Ade Irawan (istri Bambang Irawan) dan Mak Gondut, saya sudah menunggu-nunggu, apakah Nia juga akan muncul di IKTD. Ternyata penantian saya sia-sia, Nia tidak muncul. Mengingat saat di TD, Usmar muncul berperan sebagai paman dari trio Tiga Dara itu. Sehingga saya sempat menebak-nebak tentang kapan Nia akan muncul di sepanjang durasinya. Ah, mungkin mata saya saja yang kurang jeli mencari Nia di kerumunan Pasar Geliting, di antara tamu hotel yang begitu riuh, atau saat menjadi tamu kondangan pada adegan penutup. Duh….saya malah memberikan spoiler.

Baiklah, bagaimanapun juga, Nia telah mengupayakan kemampuan terbaiknya selaku Sutradara dan Produser pada IKTD. Sehingga saya akan tetap menyarankan anda untuk menyaksikan dan mengapresiasi IKTD ini. Namun jangan terburu-buru membawa ekspektasi yang terlampau tinggi, daripada ujung-ujungnya kecewa, dan mulai membanding-bandingkan dengan TD yang telah muncul enam dekade lebih awal. Apalagi mengingat IKTD dipenuhi jajaran aktor dan aktris yang mempunyai nama besar, pun dengan kombinasi nama besar sang sutradara. Bawa saja hati anda, mata anda, telinga anda, dan kemudian mengalirlah, nikmati saja filmnya. Toh sejak awal penggarapannya pun, Nia berkata bahwa dia hanya ingin membuat karya yang bisa menghibur penontonnya. Pesan moral yang sebenarnya ingin diusung Nia -yang sayangnya tidak sepenuhnya tersampaikan seperti pada film-filmnya sebelumnya, yang bahkan lebih mahir disampaikan oleh Usmar melalui TD– bisa anda abaikan. Nikmatilah. Dan buat diri anda terhibur.

BERIKAN KOMENTAR

POPULER SEPEKAN

Membaca film Tilik dengan kacamata masyarakat urban atau perspektif gender belaka sangat tidak fair. Sebagai anak desa asal Pekalongan, film...

Sang Penari adalah film yang disutradarai oleh Ifa Isfansyah, dirilis pada 10 November 2011. Film berdurasi 111 menit ini terinspirasi...

Perempuan selalu punya cara untuk melawan dan memperjuangkan haknya. Begitulah kira-kira kata yang ada di kepala saya saat menonton film...

"Setiap orang menjadi guru, setiap rumah menjadi sekolah” Ki Hajar Dewantara

“Don’t be into trends. Don’t make fashion own you, but you decide what you are, what you want to express...