Nyala Lilin untuk Korban Kekerasan Seksual

443
Foto: Galamedianews.com

Senin (2/5/2016), sebuah pesan muncul di layar aplikasi Whatsapp. Seorang sahabat mengirimkan sebuah link berita lokal yang mengisahkan kronologi tragedi yang dialami YY, seorang gadis belia usia 14 tahun yang terbunuh dengan sadis setelah diperkosa beramai-ramai oleh 14 orang pria mabuk yang mencegatnya saat pulang sekolah. Lebih miris lagi, usia pelaku tak terpaut jauh dari sang gadis naas itu.

Jasad sang gadis ditemukan membusuk di sebuah jurang. Telanjang, dengan kedua tangan terikat. Mendadak ada perasaan sedih, jijik, merinding, geram dan malu teramat sangat.

Saya membayangkan, di usianya yang 14 tahun itu, sang gadis sedang mengalami puncak keceriaan. Penuh kisah, mimpi dan beragam harapan yang menumpuk pada satu fase bernama remaja. Tapi semua mendadak pupus, ia ditemukan mati di jurang. Semua keceriaan itu pupus seiring nyawa terputus.

Manusia terkadang menyimpan kekejian tak berperi. Kekejaman nyaris tanpa batas. Semua perbincangan tentang etika dan budi pekerti mendadak terasa hampa. Membentur dinding kosong kisah kekejian itu. Kita malu disebut manusia.

Teringat kisah sepuluh tahun lalu, di sebuah kota kecil di mana saya pernah tinggal dan belajar. Di suatu malam yang dingin dengan gerimis menipis. Menjelang subuh pintu rumah diketuk. Dua orang laki-laki yang saya kenal sebagai kepala dusun di desa perbatasan hutan sekitar 15 kilometer dari rumah tempat tinggal saya mengabarkan bahwa terjadi pencabulan.

Bersepeda motor saya mengikuti mereka. Menembus hutan jati, dan gerimis yang menyebalkan. Pada sebuah rumah reyot di tepi hutan, kami menjumpai gadis mungil kelas 6 SD yg tengah terlelap. Matanya sembab, ia kelelahan menangis.

Wakil kepala sekolah dan ayah kandungnya memperkosa gadis mungil itu bergantian hingga hamil. Rumahnya yang sepi, jauh dari tetangga dan ia sendiri ditemani neneknya yang renta. Sementara ibunya menjadi TKW di Malaysia.

Hampir 2 tahun saya mendampingi gadis itu. Bahu membahu dengan beberapa lembaga peduli. Susah payah kami peroleh kepercayaan gadis mungil itu, untuk bisa membantu memulihkan traumanya, mendampinginya saat memeriksakan kehamilan, hingga menungguinya melahirkan. Bahkan waktu persalinan aku ikut menunggui, mendengar betapa indah suara tangis pertama seorang bayi. Bayi mungil itu, akulah yang memberi nama, Safira.

Gadis itu adalah adik dan guru bagi saya tentang kerasnya hidup. Kini ia telah lulus kuliah dan bekerja di sebuah yayasan peduli anak. Hingga kini kami terus berkomunikasi, saling berkirim kabar. Sayangnya ia terus memanggilku bapak.

YY tidak sendiri. Di kota kecil tempat aku pernah hidup itu ada adik angkatku yang memanggilku bapak, ada gadis belia penjual kopi yang menjaja diri, ada siswi SMA yang dicabuli kakak ipar, dan ada murid madrasah yang dicabuli guru saat tidak bisa menghapal Juz Amma. Jumlah korban predator seksual itu mungkin puluhan ribu, tersebar di berbagai tempat di penjuru nusantara.

Ada satu hal yang sama di antara para korban predator seksual itu. Kejahatan tidak pernah pandang tempat dan siapa. Bahkan orang terdekat dan terhormatpun bisa menjadi pelaku.

Kejahatan seksual bukan hanya soal vagina yang dipaksa menerima masuknya penis. Tetapi ada teror psikologis luar biasa bagi si korban. Maka tak jarang korban memilih diam sendiri memendam pedih. Terkadang ada satu titik di mana korban tak kuat menanggungnya, ia lebih memilih kematian. Pada kasus lain, setelah berulang kali pencabulan, terkadang terjadi penyimpangan. Korban anak mengalami “sex adicted”. Walau yang terbanyak mereka akhirnya membenci kaum pria, dan trauma.

Lingkungan pun memberi teror tersendiri bagi korban. Stigma yang melekat sebagai “yang ternoda”, berikut cibiran dan pandangan sinis adalah siksaan kedua bagi korban. Mereka butuh kawan, pelipur kesepian dalam duka tak berperi. Kehormatan bukan pada vagina yang di paksa, kehormatan adalah sikap. Dan mereka tak pernah memilih menjadi korban. Kehormatan adalah perilaku. Dan korban adalah korban dari perilaku mereka yang tak punya kehormatan.

Kasus YY mengingatkan kita akan matinya harapan dan mimpi. Jutaan korban lain menunggu kita untuk ikut peduli menjaga, melindungi, dan menyalakan lilin harapan. Kitalah penjaga terang itu.

Selamat jalan YY, selamat jalan adikku. Bermainlah dengan riang di surgamu. Maafkan kami, orang dewasa yang gagal menjaga lilin hidupmu.
#NyalaLilinUntukYY#
#NyalaLilinUntukKorbanKekerasanSeksual#

BERIKAN KOMENTAR

POPULER SEPEKAN

Perempuan selalu punya cara untuk melawan dan memperjuangkan haknya. Begitulah kira-kira kata yang ada di kepala saya saat menonton film...

"Setiap orang menjadi guru, setiap rumah menjadi sekolah”Ki Hajar Dewantara

Kematian datang menjemput Tommy Apriando di ruang RS PKU Muhammadiyah, Jogja, pada 2 Februari 2020 lalu. Tidak ada yang menyangka...

“Jika kau tak punya kenangan, meski di dalam hati pun kau takkan bersamanya. Tapi, walau jika yang kau miliki hanya...

“Don’t be into trends. Don’t make fashion own you, but you decide what you are, what you want to express...