Saya benci pemerkosa YY, seperti yang lain juga saya marah dan menangis untuk YY. Saya menangis sambil melihat foto anak perempuan saya, dan juga dua anak laki-laki saya.

Saya adalah salah satu dari ribuan orang tua yang memiliki anak yang oleh karena keadaan ekonomi tidak bisa dengan mudah selalu mendampingi anak-anak mereka. Terus terang, dalam keluarga saya, saya dan suami saya bekerja. Bukan karena saya egois, tapi karena kondisi ekonomi yang walau kami berdua bekerja kondisi kami tidak pernah sampai pada tahab berlebihan, bisa menabung. Hidup kami masih sederhana. Dan ada berjuta keluarga yang memiliki kondisi seperti saya.

Lalu bagaimana anak-anak saya? Anak-anak saya mungkin termasuk yang beruntung karena mereka tinggal di desa yang semua tetangga bersedia dan telah menjadi “orang tua” mereka. Ketika mereka bermain masih dengan seragam sekolah, misalnya, tetangga akan mengingatkan mereka untuk pulang dan ganti baju. Bahkan para tetangga juga ikut memastikan anak-anak saya sudah makan siang atau belum.

Begitu pula dengan saya. Saya juga memperhatikan anak-anak tetangga saya layaknya anak saya. Ketika sore hari, anak tetangga masih main di tempat saya, maka saya akan mengingatkan untuk segera pulang, kalau perlu mengantarnya pulang. Keramahan sosial seperti itu tampaknya yang mulai langka di negeri ini. Sehingga tercipta anak-anak yatim piatu sosial (Meminjam istilah Lies Marcoes).

Lantas bagaimana kehidupan anak-anak yatim sosial itu? Anak-anak yang tidak seberuntung anak-anak saya yang hidup di lingkungan sosial yang baik. Anak-anak yang tidak seberuntung kelas menengah yang masih bisa membayar guru kursus, mengawasi anaknya sendiri, memasukkan dalam sekolah-sekolah penyaluran bakat dan lainnya?

Bagaimana dengan anak-anak yang tidak punya apa-apa dan siapa-siapa lagi? Anak-anak yang bahkan ruang bermain bolanya dirampas para pengusaha? Sungainya dipagari tinggi, masjidnya tidak boleh dihuni? Mereka anak-anak yang dibesarkan oleh teman-temannya sendiri, membangun kebanggan dengan banyak-banyakan gank? Atau anak-anak yang dibesarkan oleh game online?

Karena itu, ketika semua orang mengutuk pemerkosa YY, meminta hakim untuk menghukum mati, atau menyerukan mereka dihukum kebiri, sudahkah kita berkaca pada diri sendiri bahwa kita juga telah turut membangun sistem sosial yang menjadikan anak-anak kita menjadi yatim piatu sosial? Sudahkah kita juga memikirkan, bagaimana agar tidak ada lagi anak-anak yatim sosial yang marah dan frustasi karena butuh perhatian? Mari kita tata kembali kehidupan sosial kita menjadi lebih baik. Agar tidak ada lagi anak-anak yatim sosial, agar tidak ada lagi tragedi di negeri ini.

Nyala untuk YY, nyala untuk anak-anak Indonesia.

Tentang penulis

Hidayatut Thoyyibah
Hidayatut Thoyyibah

Hidayatut Thoyyibah. Alumni pers mahasiswa Arena, Yogyakarta. Pengurus Koalisi Perempuan Indonesia

BERIKAN KOMENTAR