Oplosan dan Bias Informasi Industri Minuman Beralkohol

362
ilustrasi minuman beralkohol

Konsumsi minuman beralkohol bagi usia di bawah 21 tahun berdampak pada tingginya angka putus sekolah, risiko kecanduan alkohol, rentan kekerasan seksual, kecelakaan, hingga risiko kematian. Berdasarkan riset Dinas Kesehatan 2008, dari 1021 kasus konsumsi minuman beralkohol terbagi ke dalam sejumlah golongan umur: usia 14-16 tahun mencapai 31 persen, 17-20 tahun 40 persen, dan usia 21-24 tahun mencapai 29 persen. Sementara itu, berdasarkan data Dinas Penelitian dan Pengembangan POLRI menyatakan bahwa pelajar SMP, SMA dan mahasiswa menduduki jumlah tertinggi sebagai penggunaan narkoba dan minuman keras.

Di Indonesia belum ada penelitian lebih lanjut apa yang memotivasi anak mengonsumsi minuman beralkohol. Namun demikian, di Amerika Serikat, misalnya, hasil studi Free World Drugs (2000) menyebutkan, kebanyakan anak-anak mengkonsumsi obat dan minuman terlarang karena menerima informasi yang salah. Perusahaan minuman beralkohol kurang memberikan informasi mengenai komposisi dan risiko minuman beralkohol terutama bila dikonsumsi oleh anak atau remaja.

Di Indonesia, lebih parah lagi. Tidak hanya informasi mengenai resiko minuman beralkohol resmi yang masih minim, informasi mengenai bahaya meneguk minuman beralkohol oplosan juga sangat minim. Padahal minuman beralkohol oplosan sangat berbahaya dan beresiko mematikan. Bahkan dalam beberapa kasus, korban meninggal akibat oplosan itu justru terjadi di daerah yang menerapkn larangan peredaran minuman beralkohol. Artinya, pelarangan total peredaran minuman beralkohol bukan jawaban atas persoalan.

Pada pertengahan Mei 2009 di Tegal tercatat 21 orang meninggal akibat menenggak minuman oplosan. Kejadian yang sama menimpa sejumlah daerah, di Purworejo 10 orang meninggal pada November 2013, dan di Indramayu dua orang meninggal pada 14 Januari 2014. Di Bandung tujuh orang meninggal pada 2013. Selanjutnya dua orang meninggal di Balikpapan, dan sekitar Januari 2014 dua orang meninggal akibat minuman oplosan di Bekasi. Kemudian lima orang meninggal di Cirebon pada 6 Februari 2014. Korban minuman oplosan itu rata-rata berasal dari daerah yang telah memiliki peraturan daerah (Perda) tentang larangan peredaran minuman beralkohol resmi.

Catatan di Media tentang Konsumsi Oplosan:

TAHUNKOTAKASUS MENINGGALPERDA LARANGAN MINOL
Mei 2009Tegal21Perda 5/2006
Nov 2013Purworejo10Perda 6/2006
Nov 2013Balikpapan2Perda 16/2000 (non eceran)
Des 2013Bandung7Perda 11/2010 (non eceran)
Des 2013Magelang2 ditangkapPerda 12/2012 (non eceran)
Jan 2014Indramayu2Perda 15/2006
Jan 2014Bekasi2Perda 17/2009
Feb 2014Cirebon5Perda 4/2013

 

Pada hakikatnya, minuman beralkohol illegal atau oplosan sebenarnya tidak memiliki hubungan dengan industri minuman beralkohol. Alhasil, regulasi yang dibuat untuk mengendalikan industri minuman beralkohol tidak akan bisa mengurangi peredaran oplosan. Justru ada kecenderungan peredaran dan konsumsi oplosan di masyarakat meningkat.

Hal ini diperkuat temuan-temuan di lapangan oleh petugas kepolisian, misalnya Polda Jawa Timur yang melakukan tes laboratorium forensik atas sampel Cukrik yang ditemukan di Probolinggo pada Januari 2014. Dari dua sampel ditemukan bahwa minuman tradisional itu telah dioplos atau dicampur dengan sejumlah zat berbahaya, di sana ditemukan kadungan 38 persen metanol dan 0,16 persen etanol serta 64,59 persen metanol dan 0,26 persen etanol.

Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 6 Tahun 2015 tentang Pengendalian dan Pengawasan terhadap Pengadaan, Peredaran dan Penjualan Minuman Beralkohol ternyata hanya mampu melenyapkan minuman berkandungan alkohol rendah di mini market saja. Sementara itu minuman oplosan yang beredar ilegal justru semakin marak. Korban semakin banyak berjatuhan.

Di sisi ekonomi, penerimaan negara dari cukai juga menurun hingga Rp 450 Miliar pada triwulan pertama 2015.  Industri minuman beralkohol resmi menyumbang cukai sebesar Rp 4,9 Triliyun pada 2014. Secara total, industry ini juga menyerap 1.800 tenaga kerja langsung dan 162.000 tenaga kerja tak langsung, atau sekitar 0,14 persen dari total tenaga kerja di Indonesia.

Setiap satu pekerjaan dalam pembuatan minuman beralkohol menciptakan 165 lapangan kerja baru dalam supply chain meliputi distributor pengangkut, salesman, grosir perkulakan, toko, pengecer di pasar, pedagang kecil, hotel, restoran dan bar di seluruh Indonesia.

Tantangan terberat pemerintah dan para pemangku kepentingan saat ini adalah bagaimana menciptakan payung hukum yang jelas tentang siapa konsumen dan jenis-jenis minuman beralkohol yang boleh beredar di pasar. Jangan hanya menghabiskan energi pada sisi legal-formal saja, tapi harus sekaligus memantau pergerakan minuman beralkohol ilegal atau oplosan.

Peraturan tentang minuman beralkohol mesti diikuti kesadaran bersama bahwa industri ini merupakan realitas ekonomi dalam era keterbukaan pasar. Pendekatan penyelesaian persoalan juga mesti diubah dengan cara menciptakan batasan tegas usia konsumen, menggencarkan sosialisasi kandungan serta resiko mengkonsumsi minuman beralkohol, serta menanamkan budaya konsumen yang cerdas dan bertanggung jawab.

Tentang penulis

Franditya Utomo
Franditya Utomo

Franditya Utomo. Pengamat dan pekerja politik. Alumni Lembaga Pers Mahasiswa Imparsial, Fakultas Hukum, Universitas Jember.

BERIKAN KOMENTAR

POPULER SEPEKAN

Membincang Raden Ajeng Kartini (selanjutnya disebut Kartini) selalu menarik dan tidak akan habis dibahas dari sisi apapun. Itulah seorang Kartini...

Sembilan perempuan memukul lesung, bertalu-talu menggemakan sebuah pertanda. Pak Presiden, tidakkah kau dengar tanda bencana bertalu di depan istanamu? Sembilan...

Setiap tanggal 1 Juni, ingatan kita terlintas visual seekor burung garuda bernama Garuda Pancasila, mengenakan perisai di dada yang berisi...

Perempuan selalu punya cara untuk melawan dan memperjuangkan haknya. Begitulah kira-kira kata yang ada di kepala saya saat menonton film...

Mbah Sholeh Darat membuat Kitab Tafsir Faidlur Rahman untuk R.A Kartini. Memenuhi hasrat Kartini untuk lebih memahami Islam. --- Kisah tentang bagaimana...