Pandemi Bukan Berarti Terhentinya Empati

322

Banyak yang menjadi korban pandemi virus Covid-19. Hingga 24 Mei 2020, kasus terdeteksi positif mencapai jumlah 22.271, kasus meninggal 1.372 orang dan sembuh 5.402 orang. Sementara itu, jumlah pekerja yang terkena PHK mencapai 7 juta orang.

Situasi tersebut merupakan yang sulit bagi semua orang. Bahkan yang tak terkena dampak langsung pun, banyak orang yang menjadi terbatas aktivitas serta aksesnya karena Pembatasan Sosial Skala Besar (PSSB). Tentu saja, kesulitan terbesar dialami oleh mereka yang sungguh-sungguh kesusahan untuk meneruskan hidupnya, karena ketiadaan uang dan akses pada bahan pangan.

Penderitaan yang Mempersatukan

Situasi pandemi Covid-19 di sejumlah negara memunculkan insting ‘survival of the fittest’.
Survival of the fittest adalah sebuah frasa dalam teori evolusi untuk menyebut mekanisme seleksi alam. Frasa itu kini lebih sering digunakan dalam konteks lain, yaitu bahwa individu yang lebih bugar (fit) lebih mungkin selamat menghadapi ujian daripada individu yang tidak bugar. Dalam konteks ini, ‘fit’ berarti ‘yang paling mudah beradaptasi dengan lingkungan saat itu’.

Tindakan yang menampilkan insting ‘survival of the fittest’ tampak dalam wujud orang-orang yang berebutan memperoleh cairan disinfektan, masker, tisu basah, juga sembako. Semua orang seolah berlomba-lomba untuk mendapatkan lebih dulu atau lebih banyak demi keselamatan atau keamanannya sendiri. Orang jadi mudah mengabaikan orang lain; berpura-pura tidak mengetahui kebutuhan atau kesusahan mereka.

Padahal, dalam situasi penderitaan, manusia dipanggil untuk dipersatukan. Penderitaan sejatinya mempersatukan manusia karena dalam penderitaan bersama, akan tercapai saling pemahaman. Yang terjadi saat pandemi virus covid-19 ternyata tidak selalu begitu. Kita menyaksikan bagaimana orang menimbun sembako, betapa langkanya masker dan disinfektan, serta mahalnya vitamin C.

Hidup yang Lepas Bebas dalam Situasi Penderitaan

Spiritualis Henri J. Nouwen menuliskan dalam renungan hariannya yang berjudul ‘Lepas Bebas’: hidup memang berharga, namun bukan milik yang harus dipertahankan.

Dikatakan oleh Richard Swinburne (1998), penyakit dan bencana menjadi kesempatan bagi manusia untuk menunjukkan keutamaan dan keluhuran sikap, membentuk karakter lewat pilihan-pilihan yang diambil manusia untuk memikirkan langkah-langkah masa depan lewat sains dan sebagainya.

Dalam penderitaan, bahkan yang paling pedih sekalipun ketika kita berteriak, “Allahku ya Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku?” panggilan untuk berbuat kasih terus diserukan kepada kita. Dan panggilan, memang akan sekuat jawaban.

Orang tidak hanya punya kelekatan terhadap harta, melainkan juga terhadap hidup. Dalam penderitaan, menjalani hidup yang lepas & bebas adalah juga suatu keutamaan.

BERIKAN KOMENTAR

POPULER SEPEKAN

Membincang Raden Ajeng Kartini (selanjutnya disebut Kartini) selalu menarik dan tidak akan habis dibahas dari sisi apapun. Itulah seorang Kartini...

Sembilan perempuan memukul lesung, bertalu-talu menggemakan sebuah pertanda. Pak Presiden, tidakkah kau dengar tanda bencana bertalu di depan istanamu? Sembilan...

Setiap tanggal 1 Juni, ingatan kita terlintas visual seekor burung garuda bernama Garuda Pancasila, mengenakan perisai di dada yang berisi...

Perempuan selalu punya cara untuk melawan dan memperjuangkan haknya. Begitulah kira-kira kata yang ada di kepala saya saat menonton film...

Mbah Sholeh Darat membuat Kitab Tafsir Faidlur Rahman untuk R.A Kartini. Memenuhi hasrat Kartini untuk lebih memahami Islam. --- Kisah tentang bagaimana...