Rasa Toleransi Kian Dekat

526

Apa yang bakal terjadi jika seorang guru ditugaskan mengajar seluruh anak yang berbeda agama? Mungkinkah seorang muslim rela tinggal di rumah keluarga non-muslim yang memelihara anak-anak babi?

Fim drama ‘Aisyah Biarkan Kami Bersaudara’ mencoba mengangkat kisah nyata seorang guru muda yang ditempatkan di sekolah pedalaman Dusun Derok, Kabupaten Timur Tengah Utara, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Aisyah, diperankan oleh Laudya Cynthia Bella, bercerita tentang suka duka seorang guru berhijab, yang memiliki tekad untuk mengajar di tengah kemiskinan, bahkan jauh dari peradaban kota.

Sialnya, di awal kedatangan Aisyah, ia tak menyangka bakal berada di perkampungan yang mayoritas beragama Katolik taat. Di sini, ia harus beradaptasi dengan cuaca ekstreem di atas 38 derajat celcius, minim air bersih, tiada sinyal ponsel dan tanpa aliran listrik PLN. Ditambah lagi persoalan remeh-temeh di desa, seperti berjalan kaki di jalan desa yang tandus, suara babi peliharaan yang berkeliaran ke sana-ke mari, serta krisis air menjelang bulan puasa tiba.

Di film ini, sosok Aisyah ingin membuktikan pada dunia, bahwa profesi guru bukan sebatas pekerjaan kantoran dengan imbalan gaji bulanan. Aisyah mampu menunjukan jati diri seorang guru, yang tak sekedar memberi pelajaran di dalam kelas, tapi juga memiliki kepedulian terhadap warga sekitar yang mengalami kesulitan air. Apalagi, gadis desa asal Ciwidey Jawa Barat yang memegang nilai religius ini, merasa tak alergi bersama-sama dengan warga dan anak didiknya yang berbeda budaya dan keyakinan.

”Film ini tentang perjuangan Aisyah, menjadi guru di Atambua NTT. Aisyah harus mengajar di mana semua warga di sana beragama Katolik. Perbedaanlah yang mewarnai film ini,” kata Bella di akun Instagramnya, sebelum ia berangkat syuting tahun 2015 lalu.

Selain Bella, film ini dibintangi oleh sejumlah pemain seperti Lidya Kandou, Ge Pamungkas, Panji Surya Sahetapy dan Arie Keriting. Nah, wajah Arie yang cukup populer dalam Stand Up Commedy itu, tak banyak melucu di sini, karena konon dilarang sang sutradara Herwin Novianto. Arie berperan sebagai sopir angkot desa, yang juga menjadi anggota ISTI (Ikatan Suami Takut Istri). Tapi jangan salah sangka, sifat jenaka Arie dan anak-anak Atambua yang lugu cukup membuat penonton tak sengaja melepas tawa. Adegan komedi mengalir dengan alami begitu saja.

Persepsi Konflik Agama yang Keliru

Aisyah adalah figur perempuan Sunda dari keluarga yang taat beragama. Tapi, tantangan terberat Aisyah justru dimulai dari dalam kelas sendiri. Adalah Lordis Defam (diperankan anak lokal berbakat Agung Isya Almasie Benu), murid tertua berpengaruh di sekolah yang temperamental. Ia memprovokasi teman-temannya untuk tidak bersekolah, karena adanya perbedaan. Menurut dia, kedatangan pendatang seorang muslim dapat memancing perang agama, menghancurkan gereja dan membuat warga mengungsi karena kerusuhan.

Sebenarnya, Lordis adalah murid salah didik di dalam keluarga. Sejak kecil, ia ditinggal pergi oleh kedua orang tuanya, merantau entah ke mana. Di rumah, Lordis hanya diasuh oleh sang paman, pengusaha kapal rute Atambua-Ambon yang telah bangkrut. Sang Paman inilah yang membentuk Lordis menjadi anak yang fanatik dan keliru memahami perbedaan. Sayangnya, murid-murid Aisyah sudah terlanjur percaya oleh isu dan kabar bohong, bahwa konflik antar-agama selalu dimulai oleh kaum muslim. Keyakinan Aisyah difitnah, dicemooh dan diasingkan oleh murid-muridnya sendiri.

Aisyah akhirnya sadar, perbedaan agama dan tradisi di tempatnya bertugas, dapat menghancurkan cita-citanya menjadi guru. Ia pun menyusun strategi dalam beradaptasi.

Adanya perbedaan agama dengan anak didiknya di sekolah, tak mengubah sifat lemah lembut Aisyah. Ia tetap menjadi gadis yang tegar menghadapi masalah. Ia terus menyampaikan pentingnya tolelansi dan menyebarkan cinta kasih.

Aisyah pun rela blusukan keliling kampung termasuk Pak Kepala Dusun, untuk meminta orang tua agar anak-anak datang kembali ke sekolah. ”Pertikaian tidak perlu dibalas dengan pertikaian,” kata Aisyah ke murid-muridnya.

Melihat Aisyah menghadapi penolakan anak-anak sekolah dan justru menyadarkan nilai-nilai kasih, yang hati murid Aisyah akhirnya tersentuh juga. Bu Guru Aisyah tak hanya mengajari ilmu pengetahuan di dalam kelas, tapi juga memiliki kepedulian terhadap persoalan sekitar.

Title Film: Aisyah Biarkan Kami Bersaudara

Sutradara: Herwin Novianto

Produser: Hamdani Koestoro

Penulis Skenario: Jujur Prananto

Pemain: Laudya Cynthia BellaGe PamungkasArie Kriting,Lydia Kandou

Ketika warga mulai kesulitan air bersih dan wabah diare imbas musim kemarau berkepanjangan, ia tak menggunakan air wudhu untuk ibadah sholat. Ia pun rela mengeluarkan isi dompetnya untuk berkesperimen menciptakan instalasi air penjernih air. Warga desa pun senang. Aisyah menunjukan kepada kita, tentang ketulusan hati yang kini sudah jarang kita temui.

Secara garis besar, film ini turut memberi kritik sosial ke pemerintah, bahwa Indonesia terdiri dari masyarakat majemuk yang kaya akan suku, bangsa, bahasa dan agama, yang harus dijaga dan dilestarikan. Perbedaan sebenarnya bukan suatu masalah, namun membuat hidup menjadi indah.

Representasi Pendidikan dan Air Mata Aisyah

Fim drama non-fiksi ini sebenarnya bertema dunia pendidikan kita. Kehadiran Aa Jaya yang diperankan Ge Pamungkas, memberi bumbu asmara Aisyah yang menjadi korban PHP (pemberi harapan palsu). Aisyah tak bisa menyembunyikan cinta dan kegalauannya, dengan cara menjadi guru di pedalaman.

Konflik Aisyah dengan anak didiknya, Lordis, tak menyurutkan Aisyah berhenti mengajar. Bahkan, kunjungan Aisyah ke rumah paman Lordis, dibalas dengan caci-maki dan pengusiran. Suatu ketika, Lordis terjatuh dari jurang terjal dan membutuhkan perawatan di rumah sakit. Di tengah menjalani ibadah puasa, Aisyah rela menemani Lordis di kamar rawat inap. Teman-teman Lordis heran, kenapa Aisyah membantu orang yang selalu membencinya.

Anak-anak, kita tidak perlu membalas kebencian orang. Kita lahir dari nabi yang sama, Nabi Adam. Lordis tak punya orang tua, beda dengan orang tua kalian yang punya perhatian ke kalian,” kata Aisyah memberi alasan.

Sifat dasar Aisyah ini, membuat para murid beragama Katolik itu terharu. Betapa tidak? Anak-anak ini seharusnya yang paling mengerti tentang ajaran kasih di Alkitab, tapi justru dinasihati oleh seorang muslim. Salah satunya di dalam Matius 5:38-39 menyebutkan, “Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapapun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu

Salah satu adegan dalam film Aisyah
Salah satu adegan dalam film Aisyah

Wajah jelita yang lembut Laudya Cynthia Bella, sangat menentukan kisah pilu Aisyah. Ia sangat piawai meneteskan air mata di waktu dan tempat yang tepat. Mungkin karena Bella berhasil bermain di film ‘Surga yang tak Dirindukan’ (2015), menjadikannya terpilih melakoni sosok Aisyah.

Suara lirih dan air mata Bella, mampu membuat penonton terbawa suasana, tentang sulitnya menjadi seorang guru di pelosok desa. Bahkan, ketika Aisyah berkeinginan untuk mudik menjelang Hari Raya Idul Fitri, sejumlah ibu orang tua murid rela memberikan uang tabungan milik mereka, untuk menambah ongkos pulang Aisyah ke Tanah Jawa. Maklum, gaji Aisyah tak cukup untuk membeli tiket pesawat, karena sudah banyak terkuras untuk membiayai pembuatan instalasi air bersih dan pengobatan Lordis di rumah sakit.

Film yang inspiratif

Film ‘Aisyah Biarkan Kami Bersaudara’ yang ditulis oleh Jujur Prananto ini cukup menghibur dan menginspirasi. Jujur yang juga menulis skenario Ada Apa dengan Cinta (2002) ini, mampu menyodorkan cerita intoleransi menjadi kisah toleransi yang enak dicerna penonton segala umur. Di negeri ini, sedikit sekali film bertema perbedaan, karena regulasi pemerintah melarang tema film yang menyinggung SARA (suku, agama, ras dan antar-golongan).

Dan seluruh adegan dalam film ini, secara tersirat berhasil dikemas menjadi tontonan edukasi tentang nilai-nilai kemanusiaan dalam Pancasila. Secara tersirat, film ini ingin menyampaikan ke pemrintah, bahwa perbedaan itu ada di sekitar kita. Nah persoalannya itu, tergantung ada kemauan (political will) untuk mengatasi perbedaan, dan bukan menghindarinya.

Semoga, film ini tak hanya disaksikan oleh anak-anak dan kaumABG, tapi juga oleh para petinggi negeri, yang sampai kini, terlihat kadang kurang pede mengimplementasikan perbedaan agama dalam bingkai NKRI. Jika boleh memberi saran, seluruh aparatur pemerintah perlu menyaksikan film ini untuk lebih mengenal bahwa perbedaan itu indah. Biarkan kami bersaudara!

Tentang penulis

Jhonny Sitorus
Jhonny Sitorus

Jhonny Sitorus. Alumni pers mahasiswa Inovasi Universitas Sam Ratulangi Manado, kini tinggal di kota Bekasi.

BERIKAN KOMENTAR

POPULER SEPEKAN

Membaca film Tilik dengan kacamata masyarakat urban atau perspektif gender belaka sangat tidak fair. Sebagai anak desa asal Pekalongan, film...

Tahun lalu 2015 adalah tahun pertama saya mulai rutin olah raga berlari. Sebeneranya memilih olah raga lari ini bukan keinginan sendiri,...

Sang Penari adalah film yang disutradarai oleh Ifa Isfansyah, dirilis pada 10 November 2011. Film berdurasi 111 menit ini terinspirasi...

"Setiap orang menjadi guru, setiap rumah menjadi sekolah” Ki Hajar Dewantara

“Don’t be into trends. Don’t make fashion own you, but you decide what you are, what you want to express...