Refleksi Gerakan Mahasiswa: Organisasi- Idealisme dan Perbaikan Sistem

1537
Ilustrasi gerakan mahasiswa Indonesia, sumber foto sejarahku2011.blog

Bagi orang yang pernah berkecimpung di dunia gerakan, maka kondisi hari ini patut menjadi refleksi bersama, terlebih statement salah satu petinggi instansi pemerintah yang kontroversial belakangin ini telah menyulut api bagi salah satu organisasi kemahasiswaan. Maka menjadi wajar saat kita semua yang pernah hidup di gerakan mahasiswa merefleksikan tentang apa yang salah? Bagaimana bisa terjadi? Di mana komitmen yang dulu dibangun bersama? Terlepas kontroversialnya statement petinggi tersebut.

Dalam doktrin gerakan yang banyak dilakukan organisasi kemahasiswaan, ditanamkan bahwa organisasi dibentuk bukan sebagai tujuan tapi merupakan sebuah kendaraan untuk tujuan yang lebih besar, bukan tujuan lebih kecil. Tujuan yang lebih besar akan berbicara tentang hajat hidup orang banyak. Sedangkan tujuan yang lebih kecil hanya berbicara tentang hajat hidup keluarganya saja.

Sebagai sebuah kendaraan, organisasi dibangun dengan idealisme yang utuh dan suci. Karena disadari para pendirinya, bahwa kendaraan itu digunakan untuk mencapai tujuan yang suci dan ideal ditujukan untuk negara dan rakyatnya setidaknya terjadi pada organisasi-organisasi mahasiswa.  Organisasi kemahasiswaan pastinya merancang berbagai pendidikan yang dirancang secara khusus untuk membangkitkan jiwa pemberani, kritis, idealis, dan rela berkorban. Hal itu terlihat dari waktu kuliah yang ia korbankan, pikiran, waktu istirahat bahkan tidak sedikit uang makan mereka yang disisihkan untuk gerakan.

Pendidikan seperti di atas merupakan cara untuk menumbuhkan idealisme ala mahasiswa, yang bercerita tentang pengorbanan untuk membuat konsep demi mensejahterakan rakyat. Namun hari ini menjadi fakta bersama bahwa tidak sedikit alumni dari berbagai organisasi kemahasiswaan terlibat korupsi. Tidak sedikit elit politik baik di partai atau di pemerintahan merupakan alumni dari organisasi-organisasi kemahasiswaan, dan menjadi pertanyaan besar, kenapa dengan pendidikkan sedemikian keras, masih ada saja alumni gerakan mahasiswa yang menanggalkan idealisme yang telah di pupuk lama.

Dengan dalih masuk dalam sistem untuk memperbaiki dari dalam, sudah tidak asing kita dengar, namun tidak juga asing kita lihat mereka tertangkap korupsi atau mencederai harapan rakyat. Bulan ini tepat bulan Mei, bulan keramat bagi seluruh aktivis gerakan di Indonesia, tandanya sudah lebih dari 18 tahun reformasi bergulir, namun perbaikan sistem yang kita gadang-gadang selama hidup dalam gerakan mahasiswa tidak juga muncul. Bahkan hari ini banyak yang menilai terjadi perusakan sistem yang lebih masif yang diakibatkan oleh amandemen Undang Undang Dasar yang serampangan di era Reformasi.

Kini organisasi mahasiswa yang suci dan luhur, banyak dicap buruk oleh masyarakat yang katanya mereka bela. Alhasil, demonstrasi mahasiswa sering kali mendapat cibiran dari masyarakat yang merasa dirugikan akibat kemacetan dan kebisingan yang mereka nilai mengganggu dan tidak berdampak bagi perbaikan negara. Berbeda dengan gerakan mahasiswa era dulu, saat perjuangan mahasiswa disambut baik oleh masyarakat yang mereka bela, dan bersama sama rakyat bergerak bersama.

Apa yang salah? Pendidikan organisasi? Organisasinya? Atau lagi-lagi kita sebut oknum? Atau sistem yang bobrok yang membuat siapa saja yang masuk ke dalamnya menjadi hancur idealismenya. Sistem yang merupakan satu rangkaian besar dari penatanegaraan kita. Patut kemudian direnungkan kondisi hari untuk dilakukan kita semua, setidaknya setiap jiwa yang pernah hidup dalam dunia gerakan mahasiswa memiliki beban moril dan tanggung jawab yang harus diselesaikan. Bukan demi organisasi yang hanya sebuah kendaraan, tapi untuk masyarakat yang selama ini diperjuangkan. Terlebih bulan Mei ini dapat menjadi momen untuk bersama-sama melakukan evaluasi besar tentang gerakan dan reformasi yang selama ini berjalan.

 

Tentang penulis

Chaerudin Affan. Mantan Sekertaris Aliansi Pers Mahasiswa Purwokerto. Kepala Kajian Strategi Nasional- IndoReform.

BERIKAN KOMENTAR

POPULER SEPEKAN

Membincang Raden Ajeng Kartini (selanjutnya disebut Kartini) selalu menarik dan tidak akan habis dibahas dari sisi apapun. Itulah seorang Kartini...

Sembilan perempuan memukul lesung, bertalu-talu menggemakan sebuah pertanda. Pak Presiden, tidakkah kau dengar tanda bencana bertalu di depan istanamu? Sembilan...

Setiap tanggal 1 Juni, ingatan kita terlintas visual seekor burung garuda bernama Garuda Pancasila, mengenakan perisai di dada yang berisi...

Perempuan selalu punya cara untuk melawan dan memperjuangkan haknya. Begitulah kira-kira kata yang ada di kepala saya saat menonton film...

Mbah Sholeh Darat membuat Kitab Tafsir Faidlur Rahman untuk R.A Kartini. Memenuhi hasrat Kartini untuk lebih memahami Islam. --- Kisah tentang bagaimana...