Rabu Malam, pukul 1 dini hari seusai menikmati secangkir kopi dan berbincang hangat dengan beberapa sahabat saya harus kembali ke rumah. Kawan memesankan armada taksi online. Murah, cepat, dan nyaman. Untuk jarak lebih dari 25 kilometer saya hanya membayar 66 ribu. Hanya cukup menunggu di dalam gedung selang beberapa menit mobil kinclong datang menjemput. Sopir ramah menyapa dan lantas menghantarkan saya pulang.

Di jok empuk saya menikmati kantuk dengan tanpa rasa was-was akan diganggu pertanyaan sopir setiap bertemu persimpangan. Panduan peta dan penunjuk arah digital yang akurat sudah lebih dari cukup untuk memandu sopir tersebut sampai di depan rumah saya.

Saat ini, lebih dari 60 juta penduduk Indonesia sudah menggunakan internet dan aktif di media sosial. Angka ini akan naik terus dari waktu ke waktu, pasar digital adalah pasar masa kini dan masa depan. Tampaknya kemajuan teknologi komunikasi ini dimanfaatkan dengan begitu baik dengan para pengusaha layanan transportasi berbasis aplikasi online.

Munculnya metode layanan baru itu menambah banyak pilihan para konsumen. Dan tentu sebagai konsumen, saya memilih yang terbaik. Di titik ini para pengusaha dan perusahaan yang terbiasa hidup dari “monopoli atau oligopoli” mesti bersiap meninggalkan kenyamanannya. Inilah era di mana konsumen dan produsen hampir tidak berjarak. Bahkan pada kasus tertentu, seperti kasus taksi online, selaku konsumen saya benar-benar berkuasa. Saya bisa membandingkan rating sopir yang muncul di layar android. Kemudian memilih untuk di layani dengan sopir dengan rating terbaik, klik tekan mereka datang dengan asyik.

Untuk taksi konvensional, jangan harap. Rute yang bisa di tempuh 30 menit bisa menjadi satu jam. Jarak yang pendek bisa menjadi lebih jauh, di ajak berputar jalan seperti komedi putar sialan. Belum lagi bila macet menyergap, nilai argo terus berlari kencang meski mobil tidak bergerak.

Dunia bergerak dalam ritme yang cepat, waktu – jarak semua seakan kian terlipat. Kecepatan adalah mantra sakti zaman kini. Lamban menyambut bersiaplah tersungkur. Ini adalah era teknologi komunikasi dan informasi, yang tidak menguasai teknologi itu akan identik dengan buta huruf.

Meme demo taksi
Meme demo taksi

Ide taksi online sudah melejit sejak 5 tahun terakhir dan tidak ada satupun yang bersiap menyambut dengan regulasi dan antisipasi yang pas. Ketika tiba saatnya mereka menjamur, mereka yang masih bertahan mencari pasar dengan cara konvensional, akhirnya megap-megap nyaris terkubur.

Begitu gemuknya armada, begitu sempitnya pasar, faktor organisasi yang besar dan lambat, serta kebiasaan mengabaikan konsumen dan ketika kalah cepat berebut pasar, maka demonstrasi menjadi pilihan kalian.

Kami selaku konsumen hanya menyambutnya dengan nyinyir dan meme. Hoy…. Ada angry bird lagi ngamuk di jalan, teriak kami lantang dalam lini masa media sosial kami. Dan sore hari ketika keriuhan di jalan sudah usai, untuk pulang ke rumah kami tinggal klik- tekan dari dalam gedung sembari menghabiskan sisa kopi.

Tapi para sopir taksi konvensional yang berdemo dan membuat macet jalanan Jakarta kemarin tak bisa sepenuhnya disalahkan. Mereka hanya proxy dari kepentngan perusahaan yang menaunginya. Sopir sudah ditekan perusahaan dengan segala setoran, ditambah bergesernya konsumen ke moda yang lebih nyaman, makin lengkaplah kesusahan mereka. Sehingga ketika perusahaan mereka memberi restu untuk meluapkan marah jadilah mereka Angry bird, burung-burung pemarah dalam permainan yang rela mengorbankan tubuh menjadi peluru ketapel untuk menghantam dan melabrak apa saja.

Persoalan juga ada di pemerintah yang lamban antisipasi. Titik kritik untuk layanan transportasi online adalah kewajiban mereka bayar pajak sesuai amanah Undang-undang. Soal pajak dan aturan itu domain negara untuk cerdas menangkap potensi benturan. Ada ketidak-siapan pemerintah dalam memetakan masalah. Konstruksi sistem kerja dan mekanisme yang berbeda mensyaratkan regulasi baru. Harap catat regulasi yang menghambat efisiensi berarti sudah tidak relevan.

Pemerintah jangan hanya melihat unsur bisnisnya karena sekian triliun dana yang akan di investasikan. Ada periuk mereka yang bertahan menggunakan cara konvensional dan ada lapangan kerja baru yang terbuka. Jangan pula biarkan mereka yang lamban berubah kehilangan periuk nasi. Siapkan regulasi untuk jalan tengah, berikutnya biarkan kami konsumen yang memilih.

Untuk taksi konvensional juga harus menyesuaikan zaman jangan menjadi imperium “old economy” dan mempertahankan sistem hubungan industrial yang membuat posisi sopir sebagai buruh transportasi, makin rentan, lemah dalam daya saing, dan kini terpaksa meluapkan kemarahan akibat nasib keluarga yang dipertaruhkan.

Perubahan tidak bisa dilawan. Perlawanan tidak akan bisa merubah keadaan. Justru mematikan kepercayaan dan dilibas zaman. Harus merubah mindset sesuai eranya. Mau  berdebat  hingga berbusa percuma, karena  sistem kalian sudah kalah karena memang sudah ketinggalan zaman.

Perusahaan taksi konvensional dengan jam terbang dan modal perusahaan bernilai triliunan mestinya sangat mudah untuk memprediksi gelombang perubahan dan menyesuaikannya. Mustinya tidak sulit bagi kalian untuk mengembangkan sistem aplikasi yang memudahkan konsumen (pemantauan posisi armada dan konsumen atau tagging lokasi, identitas sopir dan mobil, estimasi pembayaran, rating kualitas pelayanan dll).

Angry Birds 3

Saatnya bagi kalian untuk merumuskan formulasi tarif baru. Ubah kebiasaan maksa naikkan tarif kala harga bahan bakar minyak naik, tapi tidak pernah bersedia menurunkan tarif meski BBM anjlok. Apa pula gunanya  kalian menambah armada 7 seaters, bila penumpangnya hanya 1-2 orang?

Berubahlah lebih baik, dengan begitu Anda tidak harus berubah menjadi Angry bird yang demo konyol, rusuh di jalanan. Aksi-aksi tidak simpatik kalian hanya akan membuat masyarakat menjauh, pun keping rejeki akan pergi. Ingin bukti? Coba tengok apa yang kalian peroleh setelah berlelah-lelah ngamuk di jalanan kemarin. Hanya bajir meme sindiran yang seolah membulatkan ucapan selamat tinggal dari kami, para pelanggan lama kalian.

 

BERIKAN KOMENTAR