Seriuslah Berhumor

445
lukisan "Three Moods" oleh Affandi

“Tertawa adalah hal yang jahat.” Demikian argumentasi Plato yang dituliskan dalam Philebus. Bahkan dalam artikelnya di Republic, ia mengingatkan para pejabat untuk tidak sering tertawa. Bagi Plato, tertawa akan menurunkan kewibawaan seseorang, apalagi jika ia orang terpandang. Pernyataan Plato rupanya diamini oleh Aristoteles. Dalam opininya di Nicomachean Ethics, Plato berkilah bahwa gelak tawa mengekspresikan cemoohan serta penghinaan.

Setali tiga uang dengan Plato, Aristoleses memandang tertawa dan humor sebagai hal yang tidak produktif serta lebih dekat pada perbuatan yang tidak patut dilakukan. Rupanya pendapat dua filsuf besar tersebut mendapat penguatan dari para sarjana Stoics (penganut aliran filsafat Hellenistic, yang didirikan oleh Zeno of Citium) bahwa tertawa dan humor mengurangi kemampuan seseorang untuk mengontrol diri sendiri. Pernyataan ini juga mendapat sokongan dari Epictetus, yang dalam Enchiridion menyarankan agar seseorang tidak tertawa terlalu keras dan sering. Bahkan pengikutnya menyatakan bahwa ia tak pernah terlihat tertawa sama sekali.

Pemikiran dan penilaian negatif para pemikir besar tersebut menjadi dasar teori humor yang pertama muncul adalah teori superioritas. Humor dan tertawa dipandang sebagai perilaku dan alat untuk mengejek, mengolok, dan menguasai orang lain yang status serta strata sosial maupun ekonominya lebih rendah. Pada perkembangan berikutnya, muncullah teori kedua yang berusaha menjelaskan tentang humor, yakni teori pembebasan. Tertawa, sebagai efek dari penikmatan humor, lebih dilihat sebagai aspek pelepasan tekanan emosi tertentu, seperti ketakutan dan kecemasan.

Dalam esainya di “On the Physiology of Laughter” (1911), Herbert Spencer mulai melepaskan dominasi pengaruh pendapat filsuf terdahulu yang menyatakan bahwa tertawa tidak lebih dari pekerjaan sia-sia yang mengurangi kemampuan mengontrol diri sendiri. Spencer menyatakan bahwa tidak seperi emosi, tertawa tidak melibatkan motivasi untuk melakukan hal tertentu. Pergerakan tertawa tidak berobjek, sebab semata-mata hanya melepaskan energi gelisah atau gugup.

Jika teori superioritas dan teori pembebasan lebih melihat tertawa sebagai bagian dari proses psikologis dan biologis, maka teori ketidaksejajaran (incongruity) melihat humor dan tertawa sebagai proses kognitif yang melibatkan logika. Dalam hal ini, Aritoteles, meski menilai tertawa sebagai hal yang tak pantas, menyatakan dalam On Rhetoric bahwa salah satu cara yang bisa dilakukan oleh pembicara (saat berorasi) untuk memperoleh respon tertawa dari pendengarnya adalah dengan tidak memenuhi ekspektasi pendengarnya. Meski tidak menggunakan istilah ketidaksejajaran, pemikiran Aristoteles dianggap memberi kontribusi terhadap teori ketidaksejajaran. Humor (yang kemudian diikuti tawa) dihasilkan dari ketidaksejajaran dua pemikiran.

Fungsi Humor

Humor berasal dari kata “umor” yang berarti lengas (Manser, 1989:3). Sejak 400 SM, orang Yunani kuno beranggapan bahwa suasana hati manusia ditentukan oleh empat macam lengas di dalam tubuh, yaitu darah (sanguis), lendir (phlegm), empedu kuning (choler), dan empedu hitam (melancholy). Perimbangan jumlah kandungan cairan atau lengas tersebut menentukan suasana hati. Kelebihan salah satu diantaranya akan membawa pada suasana tertentu. Darah menentukan suasana gembira (sanguine), lendir menentukan suasana tenang atau dingin (phlegmatic), empedu kuning menentukan suasana marah (choleric), dan empedu hitam untuk suasana sedih (melancholic).

Teori mengenai lengas itu merupakan upaya pertama untuk menjelaskan tentang sesuatu yang disebut humor. Dalam perkembangannya kemudian, lahirlah bermacam teori yang berupaya untuk menjelaskan humor, yang mengacu pada pengertian humor saat ini, yaitu segala sesuatu yang membuat orang tertawa gembira.

Penelitian yang dilakukan Miller, ahli kedokteran di Universitas Maryland, Amerika Serikat, menunjukkan bahwa humor memiliki peran penting menyehatkan jantung manusia (Efendi, 2008:111). Fakta yang mengemuka dalam penelitian tersebut adalah humor dapat memperbaiki fungsi pembuluh darah. Berdasarkan hasil penelitian, menonton film komedi atau humor membuat penonton tertawa lepas dan pembuluh darahnya mengembang 22 persen lebih cepat dari biasanya. Sebaliknya, yang menonton film horror, pembuluh darahnya mengembang 35 persen lebih lambat.

Humor dapat membebaskan manusia dari kecemasan, kebingungan, dan kejenuhan akibat tekanan kehidupan sehari-hari. Kondisi manusia yang sehat secara psikologis berkontribusi pada kejernihan pikir, sehingga manusia dapat mengambil keputusan dengan baik. Setiap orang dimungkinkan membutuhkan humor dalam komunikasi sehari-hari, karena humor dapat melepaskan ketegangan manusia akibat tekanan dan beban kehidupan.

Dalam konteks biologis dan psikologis, humor dilihat sebagai kerangka kerja yang mengawinkan pemikiran Darwin dan Freud (Palmer, 2004:58). Pengeluaran tekanan psikis yang tepat adalah basis lelucon dan merupakan siasat manusia dalam beradaptasi dengan lingkungannya. Humor memproduksi ketenangan spiritual bagi individu dan karenanya memperkuat kohesi sosial.

Humor dapat dilihat sebagai bagian dari adaptasi kolektif pada situasi tertentu. Humor yang muncul dalam suatu kelompok masyarakat menggambarkan bagaimana sesungguhnya dinamika sosial dan kultural masyarakat tersebut.

Humor ironi dan satire, yang kerapkali disebut sebagai humor gelap (dark humor), kental mewarnai kehidupan orang Rusia. Sistem sosial dan tatanan politik masa lalu yang didominasi satu partai (partai komunis) membuat orang Rusia tidak mudah mengemukakan pendapat, apalagi melakukan protes secara leluasa dan terbuka kepada pemerintah. Keadaan itu membuat cerita yang sarat dengan ironi dan satire bermunculan, seperti dalam cerpen Sipir yang Terpenjara karya Anton Chekov dan Mantel Kematian karya Nikolai Gogol.

Humor yang sarat kritik sosial dan politik banyak muncul ketika masa pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid. Humor tersebut misalnya cerita seputar jatuhnya kepemimpinan Presiden Suharto. Kondisi yang represif pada masa orde baru membuat orang tidak leluasa mengemukakan kritik secara terbuka pada pemerintah. Humor hadir sebagai media alternatif untuk menyampaikan kritik tanpa membuat lawan politik terpojok.

Coletta (2003:18) menyatakan bahwa apa yang ditertawakan seseorang sesungguhnya adalah apa yang ditertawakan oleh seluruh anggota kelompok orang tersebut. Apa yang ditertawakan oleh kelompok masyarakat tertentu menunjukkan pola-pola relasi, tatanan nilai sosial dan budaya yang dibangun, dikembangkan, disepakati dan dibagikan oleh anggota kelompok tersebut.

Dalam konteks Indonesia, humor etnis yang banyak ditemui dalam kehidupan sehari-hari menunjukkan bagaimana orang Indonesia menyikapi relasi sosialnya dengan orang lain yang berbeda etnis. Humor etnis bisa menunjukkan bagaimana pemahaman orang Indonesia terhadap lingkungannya yang multietnis. Pendapat ini sejalan dengan pendapat Billig (2005:165) yang menyatakan bahwa lelucon etnis merupakan pengukuhan terhadap stereotip etnis yang sudah ada. Stereotip etnis tertentu seringkali menjadi topik humor di Indonesia, misalnya stereotip tentang etnis Madura yang cenderung berpikir sederhana dan naïf. Cara bersikap, bernalar dan berbicara etnis Madura kerap dijadikan objek humor dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia.

Pemahaman terhadap nilai sosial dan budaya etnis lain menjadi modal penting dalam menghadapi masalah yang berkaitan dengan relasi antarsuku, sehingga potensi konflik bisa dikelola lebih baik. Kondisi tersebut berperan dalam penciptaan dan pemertahanan identitas sebuah kelompok, karena humor adalah aktivitas yang terikat aturan budaya tertentu. Penerimaan humor secara luas oleh sebuah anggota kelompok masyarakat menjadi alat pembentuk identitas kelompok tersebut. Mari berhumor dengan serius!

Tentang penulis:

Ari Ambarwati
Ari Ambarwati

Ari Ambarwati. Alumni pers mahasiswa Jember. Kini menjadi dosen pendidikan bahasa dan sastra Indonesia di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Islam Malang

BERIKAN KOMENTAR

POPULER SEPEKAN

Membaca film Tilik dengan kacamata masyarakat urban atau perspektif gender belaka sangat tidak fair. Sebagai anak desa asal Pekalongan, film...

Sang Penari adalah film yang disutradarai oleh Ifa Isfansyah, dirilis pada 10 November 2011. Film berdurasi 111 menit ini terinspirasi...

Perempuan selalu punya cara untuk melawan dan memperjuangkan haknya. Begitulah kira-kira kata yang ada di kepala saya saat menonton film...

Tahun lalu 2015 adalah tahun pertama saya mulai rutin olah raga berlari. Sebeneranya memilih olah raga lari ini bukan keinginan sendiri,...

“Don’t be into trends. Don’t make fashion own you, but you decide what you are, what you want to express...