‘Si Petung’, Kopi dan Cerita Utang Budi

617

“Kenali lebih dalam dan terpukaulah oleh lugunya sebuah pesona” (Filosofi Kopi)

Suasana malam itu cenderung sepi, para pengunjung larut dalam obrolan hangat dengan rekannya masing-masing. Sesekali terdengar suara grinder penghancur kopi tanda barista menyiapkan suguhan kopi bagi para pengunjung.  Sejurus kemudian, saya pun membuka menu dengan desain sederhana tapi cukup mewakili aneka jenis kopi yang dimiliki oleh Jakarta Coffee House (JCH).

Seperti biasa saya bertanya pada barista yang menyodorkan menu, “Kopi apa yang khas di sini?” Andalan kami Si Petung, mba,’ ucapnya mantap. Well, saya pun penasaran dan tanpa tedeng aling-aling memesan Si Petung. Ardani, salah satu Barista sekaligus Bisnis Development di warung kopi yang terletak di Cipete ini menyambut ramah ajakan saya yang ‘kepo’ sama Si Petung. Jujur, saya memang bingung apa sih yang istimewa dari Si Petung ini.

Baru mulai membuka percakapan, Si Petung disajikan dengan apik di meja saya, cangkir kecil putih dengan pitcher mungil yang eklektik langsung menyita perhatian. Mumpung hangat saya pun mencicipi Si Petung seraya beringsut hendak mengambil gula. Ardani tetiba mencegah dan menyarankan mencicipi tanpa gula.

si-petung

 

 

 

 

 

 

 

 

Wah baru kali ini saya mencoba kopi tanpa gula tapi lidah tak bereaksi pahit, justru rasa pahit itu sekejap berganti dengan rasa gurih manis. “Kenapa rasa kopi ini unik ya pahit tapi manis,’ ucap saya.  Agaknya Ardani memahami kegalauan saya dan mulai memberikan sedikir dongeng ihwal si petung.

Meski tren kopi belakangan cukup berkembang, tapi tak banyak –bisa dihitung- orang yang ‘main’ di dunia perkopian.  Alkisah,  seorang pemuda bernama Muhammad Bukhori yang karib disapa Borie -pemilik JCH- mempunyai ketertarikan mendalam soal kopi. Bahkan sejak kecil ia telah dekat dengan aroma kopi saat proses roasting.

Mulai menseriusi kopi tahun 2011, selain bergabung di sebuah salah satu kedai kopi kesohor di ibukota, ia pun tak tanggung-tanggung turun langsung ke daerah-daerah penghasil kopi, bertemu dengan para petani, belajar dari nol, mulai dari memilih biji kopi yang pas untuk dijadikan bubuk kopi sampai berkutat dengan unsur hara.

Adalah seorang bapak petani kopi yang diwarisi kebun dan keterampilan mengolah biji kopi dari kakeknya di kaki Gunung Raung, menjadi salah satu jujugan Bori untuk mengenal lebih dekat soal kopi. Bagaimana muasal kopi ditanam hingga sampai di genggaman para penikmatnya. Kaki Gunung Raung menjadi saksi pengolahan kopi khas Bondowoso yang kemudian tanpa rencana mereka memberikan julukan ‘Si Petung’.

Ardani mengaku tak ada arti khusus dari pemberian nama itu. “Hanya agar kopi ini punya julukan yang akrab untuk disebut,’ ujar barista ramah ini.  Kopi adalah soal passion, soal taste. Pun juga dengan anak si bapak petani. Awalnya ia tak ingin melanjutkan usaha ayahnya berkebun kopi. Tak sengaja, semangat dan rasa ingin tahu Bori mengirimkan inspirasi pada si anak tentang kecintaannya pada kopi.

Kini, setelah Bori ke Ibukota untuk membuka dan menjalankan bisnis kopi, sang anak pun dengan senang hati menjalani warisan sang ayah mengelola kebun kopi. ‘Si Petung’, lanjut Ardani, menjadi semacam penanda ungkapan terima kasih dan balas budi yang tak terkatakan. Dua pemuda yang jatuh cinta pada kopi, di tempat dan ruang yang berbeda. Kopi generasi ketiga yang dijalankan sang anak hingga kini masih terus berkembang.

Kadang passion tak selalu ditumbuhkan dengan cinta, bukan? Ia bisa tetiba hadir karena kata hati yang tak kuasa menolak. Demikian dongeng si petung Arabica malam ini ditutup dengan tegukan kopi nyaris habis kopi meja saya, merasakan kopi seraya mendengar muasalnya membuat kopi ini bertambah khas saya rasakan. Tak terasa waktu lewat jam 00.00, tak ada habisnya mendengarkan cerita tentang kisah di balik kopi. (Foto: Ecka & Pixabay)

BERIKAN KOMENTAR

POPULER SEPEKAN

Membaca film Tilik dengan kacamata masyarakat urban atau perspektif gender belaka sangat tidak fair. Sebagai anak desa asal Pekalongan, film...

Tahun lalu 2015 adalah tahun pertama saya mulai rutin olah raga berlari. Sebeneranya memilih olah raga lari ini bukan keinginan sendiri,...

Sang Penari adalah film yang disutradarai oleh Ifa Isfansyah, dirilis pada 10 November 2011. Film berdurasi 111 menit ini terinspirasi...

"Setiap orang menjadi guru, setiap rumah menjadi sekolah” Ki Hajar Dewantara

“Don’t be into trends. Don’t make fashion own you, but you decide what you are, what you want to express...