Girls compete with each other; women empower one another. (Shira Hirschman Weiss)

Pada masyarakat yang masih memiliki akar patriarki mendalam, ada banyak tuntutan yang dibebankan pada perempuan. Kecantikan perempuan dikontruksikan sedemikian rupa. Perempuan hanya dipandang dari penampilan fisik: kecantikannya. Sehingga kualitas-kualitas lainnya seperti ramah, baik, cerdas, dan sebagainya dianggap hanya sampingan. Kecantikanlah yang utama.

Seorang perempuan yang memilih pendidikan atau berkerja, bisa dicap perempuan yang tak menyayangi keluarga. Juga sebaliknya, bila perempuan itu berpendidikan tinggi yang memutuskan tinggal di rumah, tidak bekerja, dianggap menyia-nyiakan pendidikannya. Serba salah.

Demikian banyak label dan beban yang disematkan oleh pada perempuan membuat para perempuan menjadi gelisah. Hingga perempuan cenderung mengandalkan pengakuan dari pihak lain, terutama dari kaum pria, atas dirinya. Situasi inferioritas dan insekuritas yang dirasakan para perempuan ini kerap memicu peer pressure, bahkan spiral kekerasan, merisak perempuan lain yang dianggap lebih rendah dari dirinya.

Lantas bagaimana melawan keterkungkungan perempuan itu?

Salah satunya lewat tulisan. Yess!!

Melawan melalui tulisan sudah dilakukan R.A Kartini sekian puluh tahun lalu. Kartini menulis surat berisikan pendapat, gagasan, kegelisahannya kepada sahabatnya adalah salah satu contoh kecil bagaimana tulisan membuat kita “abadi” sekaligus mejadi guru kehidupan.

Berpuluh-puluh tahun setelah R.A Kartini menuliskan pemikirannya, kita masih dapat mempelajarinya, berefleksi.Kita mendapat gambaran bagaimana pola pikir dan kondisi masyarakat saat itu dan sejauh mana perubahan yang kita rasakan kini.

menaklukkan dunia, lukisan: Seruni Bodjawati
menaklukkan dunia, lukisan: Seruni Bodjawati

Contoh perlawanan melalui tulisan lain adalah Rohana Kudus, seorang jurnalis perempuan yang mendirikan surat kabar Sunting Melayu pada tahun 1912. Lewat tulisan dan berita yang disajikannya ia menyebarkan banyak gagasan yang kepada para pembacanya, terutama para perempuan.

Menulis; merefleksikan tindakan, menuangkan gagasan serta solusi, merupakan salah satu cara berkontribusi pada perubahan.

Pada era teknologi informasi, kala Internet berkembang begitu pesat, kita dibawa pada kenyataan akan komunitas global.  Kini kita bisa terhubung dengan siapa pun, lebih dari yang pernah dialami oleh orang-orang dari generasi lalu. Seluruh sudut-sudut dunia terhubung dalam jejaring informasi yang meniadakan batas jarak, ruang, dan waktu; internet. Relasi dalam dunia maya adalah relasi sebuah masyarakat tak berbatas yang jauh melintasi batas identitas lokal dan kultural.

Meminjam ungkapan Mark Zuckerberg:

And the Internet has enabled all of us to access and share more ideas and information than ever before. We’ve gone from a world of isolated communities to one global community, and we are all better off for it.

Our lives are connected. And whether we’re welcoming a refugee fleeing war or an immigrant seeking new opportunity, whether we’re coming together to fight global disease like Ebola or to address climate change, I hope that we have the courage to see that the path forward is to bring people together, not push people apart—to connect more, not less. We are one global community.

Pada kondisi ini perlawanan melalui tulisan semakin menemukan ruang pertarungannya. Kini, masyarakat sudah begitu akrab dengan media sosial yang mudahkan mereka terhubung secara massal. Kita bisa menggunakan itu untuk menyebarkan ide dan gagasan, bukan sekedar memanfaatkannya sebagai ajang narsis.

Dunia perempuan adalah dunia yang teramat kompleks. Sehingga cara perempuan mempersepsikan diri dan dunianya dengan cara yang unik dan tak sama. Masalah yang dihadapi para perempuan mungkin sama, namun cara setiap individu menghadapi masalah tersebut tak selalu sama. Keunikan itulah yang menarik untuk ditulis karena memperkaya pandangan.

Melalui tulisan, perempuan dapat saling bertukar gagasan.Tulisan yang mampu bercerita; tulisan yang membuat pembaca berpikir, membuat pembaca tertarik dan ikut merasakan. Apalagi perkembangan blog, media sosial, yang kini tak hanya mengakomodasi tulisan, namun juga video membuat ide, gagasan lebih jelas.

Alih-alih menjadi ajang pamer –yah sesekali silakan – media sosial dan blog mestinya menjadi media para perempuan saling bertukar ide, pengalaman mengenai masalah yang dihadapi. Di tengah iklim budaya yang masih patriakal, para perempuan melantangkan suaranya lewat tulisan. Dengan bantuan internet, memungkinkan tulisan dan gagasan menyebar lebih luas. Perhatian terhadap isu-isu tentang perempuan juga semakin dalam setelah disebarluaskan melalui internet.

Pernahkan Anda membayangkan seandainya Kartini hidup di jaman sekarang, apa yang mungkin ia lakukan? Mungkin dia akan mengelola blog. Tak sekadar itu, mungkin ia akan mengorganisasi orang-orang yang setuju pendapatnya, mengadakan kopi darat, meet up, lantas membuat kegiatan yang sifatnya campaigne.

Jika Kartini, Rohana Kudus, dan para perempuan lain di masa lalu mampu menuangkan menyebarkan gagasan, menyemaikan perlawanan lewat tulisan, kita di masa kini mesti bisa lebih. Lebih banyak berfikir, lebih banyak menulis, dan lebih luas menyebarkan gagasan bagi kemajuan perempuan dan masa depan yang lebih baik.

 

Tentang penulis:

Misni Parjiati
Misni Parjiati

Misni Parjiati, Penimbun dan “pelahap” buku. Sehari-hari menjadi editor Diva Press. Alumni pers mahasiswa Himmah, Universitas Islam Indonesia (UII), Yogyakarta.

BERIKAN KOMENTAR