Berbicara tentang tafsir sebagai ilmu bedah  kandungan isi al-Qur’an memang menjadi sangat penting. Sebab pesan mulia kitab suci akan mampu dipahami secara baik, jika tafsir disajikan sesuai dengan kaidah ilmu tafsir.

Penulis buku menegaskan bahwa sudah banyak metode tafsir yang berkembang di Indonesia, baik metode tahlili (runtut) maupun madlu’i (topik khusus). Buku ini adalah sebuah terobosan baru sebagai jawaban keilmuan tafsir yang semakin berkembang.

Tafsir yang dianggap sulit dipelajari dijawab dalam buku ini. Sebanyak 114 surat disajikan dengan ringan, global, padat, dan enak untuk dibaca masyarakat umun.

Inilah bentuk bagaimana memudahkan memahami tafsir yang menjadi ilmu inti dalam membedah isi al-Qur’an. Penulisan buku ini diharapkan menjadi tambahan khazanah keilmuan Nusantara dan memotivasi umat Islam untuk senantiasa mengkaji kandungan surat al-Qur’an.

 

Judul: Tafsir Ijmali: Ringkas, Aktual dan Kontemporer
Penulis: Prof Dr Muhibbin MAg
Penerbit: Fatawa Publishing
Tahun: 2016
Halaman: x + 542

Buku Tafsir Ijmali
Buku Tafsir Ijmali

Tafsir kontemporer yang diangkat dengan tagline: ringkas, aktual, dan kontemporer ini menjadi kelanjutan dari sejarah tafsir Nusantara yang dimulai abad 15 hingga 17. Dan tafsir abad 21 inilah yang menjadi jawaban atas problema pemikiran yang berkembang di tengah masyarakat.

Salah satu surat terpanjang dalam al-Qur’an yakni al-Baqarah yang berisi 286 ayat, 6.221 kata dan 25.500 huruf dikupas hanya lima halaman. Dari 286 ayat ini  dibagi menjadi menjadi tempat turunnya yaitu 281 di Madinah dan 5 ayat di Mina saat pulang haji wada’.

Surat al-Kautsar yang disebut terpendek dalam al-Qur’an dengan tiga ayat juga dielaborasikan menjadi lima halaman. Artinya bahwa surat-surat yang ada diusahakan untuk dijelaskan secara ringkas. Dan ini yang menjadi identitas tafsir ijmali di era kontemporer ini.

Kupasan mengenai surat al-Mujadalah (perdebatan) dibuat dengan pola sistematis dari kisah Khaulah binti Tsa’labah yang mengadukan dzihar suaminya. Sang suami menganggap dirinya sudah seperti punggung ibunya. Pada masa jahiliyah, dzihar dan talak itu disamakan.

Perdebatan terminologi ini menjadikan keterangan nyata bahwa al-Qur’an membedakan antara talak dan dzihar. Dan pesan suci yang lahir adalah bagaimana seorang suami berbaik hati dengan istri. Termasuk menyatakan bahwa dzihar adalah pernyataan kedustaan dan kemungkaran yang memiliki implikasi sanksi.

Jika ucapan itu sudah terjadi, maka untuk menjalin kembali hubungan suami-istri harus memerdekakan budak atau menjalankan puasa dua bulan berturut-urut. Jika tidak mampu berpuasa ia harus memberikan makan kepada 60 orang miskin.

Pola komunikasi dalam al-Qur’an ini yang diatur secara baik. Dimana cara berhubungan itu perlu dengan tata cara dan sopan santun. Rasulullah selalu memberikan contoh agar perdebatan itu tidak diperpanjang. Maka suri tauladan itu ditunjukkan oleh Rasulullah dengan memberi makan pada anak miskin.

Bahkan Rasulullah juga memberikan tauladan agar tetap berbaik hati dengan orang yang memusuhi Islam. Semua teks al-Qur’an itu yang perlu diterjemahkan secara baik agar tidak disalahpahami. Sebab dengan cara bergaul secara luas tersebut justru akan lebih memberikan nuansa dakwah yang fleksibel.

Buku ini layak dibaca oleh para pecinta ilmu tafsir, akademisi, mahasiswa, dan semua kalangan yang ingin tahu isi kandungan al-Qur’an. Pembaca akan dibuat mudah mencerna semua isi surat al-Qur’an hanya dengan membaca buku karya Prof Muhibbin ini.

Tafsiran semua surat al-Qur’an ini menjadi khazanah baru keilmuan Islam Nusantara. Jika biasanya tafsir ijmali itu menyederhanakan ayat, maka buku ini menyederhanakan surat. Dan tidak sedikit ada kajian-kajian tematik yang muncul dalam nilai keijmaliannya.

Selamat membaca.

Catatan:

Peluncuran buku Tafsir Ijmali dilakukan di Universitas Islam Negeri Walisongo pada Senin, 4 April 2016. Dalam kesempatan itu juga dilakukan bedah buku oleh dua narasumber doktor bidang tafsir Arja Imroni (Sekretaris PWNU Jawa Tengah) dan Arif Junaidi (Dekan Fakultas Syariah dan Hukum).

Buku tafsir ijmali ini menurut Arif Junaidi adalah bentuk dari memodernkan kembali tradisi kuno. Sebab selama ini, yang dipahami bahwa tafsir ijmali adalah pola tafsir kuno, oleh Muhibbin dijadikan model tafsir baru yang memudahkan orang mencerna isi al-Qur’an dengan bahasa Indonesia. “Saya melihat bahwa tafsir ini tidak sepenuhnya ijmali, tapi ada unsur maudlu’i-nya dan ada juga tahlili-nya. Jadi tepat sekali di era seperti ini lahir tafsir singkat agar orang semakin dekat dengan al-Qur’an” pungkas Arif.

Bedah buku Tafsir ijmali
Bedah buku Tafsir ijmali

Karya monumental Muhibbin ini menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari Muhibbin yang notabene guru besar Ilmu Hadits. “Mengenal buku tafsir ijmali ini memang harus dikenali penulisnya dulu. Dan ternyata buku ini ditulis secara terpisah termasuk saat kunjungan ke luar negeri” ujar Arja Imroni. Walaupun tafsir ini tidak mencantumkan ayat al-Qur’an, namun inti kupasan kandungan ayat sucinya sangat mendalam.

“Tafsir ijmali ini diluncurkan dalam rangka menambah khazanah keilmuan Nusantara dan memotivasi umat Islam untuk senantiasa tadabbur atau mengkaji kandungan al-Qur’an,” ujar Muhibbin.

 

Tentang penulis:

M. Rikza Chamami
M. Rikza Chamami

M. Rikza Chamami. Alumni Lembaga Pers Mahasiswa Semarang. Dosen di Universitas Islam Walisongo, Semarang

BERIKAN KOMENTAR